Sade Bangkit dari Puing Kebakaran, Nyemulak Jadi Penanda Rekonstruksi Rumah Adat Sasak

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026 - 14:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tradisi Nyemulak menjadi penanda dimulainya rekonstruksi rumah adat dan Masjid Sade, pada Kamis (3/9/2026).

Tradisi Nyemulak menjadi penanda dimulainya rekonstruksi rumah adat dan Masjid Sade, pada Kamis (3/9/2026).

LOMBOK TENGAH, LOMBOKTODAY.ID – Kampung Adat Sade tidak sekadar dibangun kembali setelah dilanda kebakaran. Di atas puing-puing bangunan yang hangus, masyarakat Sasak Rembitan memilih memulai proses pemulihan dengan cara yang diwariskan leluhur: Nyemulak.

Tradisi tersebut menjadi penanda dimulainya rekonstruksi rumah adat dan Masjid Sade, pada Kamis (3/9/2026).

Prosesi pemasangan tiang pertama itu sekaligus menjadi simbol bahwa pemulihan Sade tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi menyentuh kembali akar budaya yang membuat kampung adat tersebut memiliki identitas.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal hadir langsung dalam prosesi Nyemulak di Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Bagi masyarakat Sasak Rembitan, Nyemulak bukan sekadar seremoni ketika pembangunan sebuah rumah hendak dimulai.

Tradisi ini merupakan bagian dari tata cara adat yang menempatkan pembangunan sebagai ikhtiar bersama, penghormatan terhadap nilai leluhur, sekaligus doa agar bangunan dan kehidupan yang tumbuh di dalamnya senantiasa mendapat keselamatan dan keberkahan.

Makna itulah yang membuat Nyemulak menjadi penting dalam proses pemulihan Sade.

Setelah kebakaran menghanguskan sejumlah bangunan di kawasan tersebut, pembangunan kembali tidak ingin dilakukan dengan menghilangkan karakter asli kampung adat.

Sebaliknya, rekonstruksi diarahkan untuk mengembalikan bentuk, filosofi, tata nilai, serta pengetahuan tradisional yang selama ini diwariskan masyarakat Sasak dari generasi ke generasi.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menegaskan, rekonstruksi Sade tidak boleh diperlakukan seperti proyek pembangunan fisik biasa.

Menurutnya, setiap tahapan harus dilakukan secara cermat dan sabar agar karakter Sade dapat dikembalikan sedekat mungkin dengan kondisi aslinya, tanpa mengabaikan aspek keamanan dan keberlanjutan kawasan.

“Pemasangan tiang pancang pertama atau Nyemulak ini merupakan ikhtiar panjang dalam melakukan rekonstruksi Kampung Adat Sade. Dalam proses pembangunan ini harus tetap sabar,” ujar Gubernur Iqbal.

Ia menilai, daya tarik Sade bagi wisatawan bukan semata terletak pada bentuk rumah tradisionalnya. Lebih dari itu, wisatawan datang untuk melihat bagaimana arsitektur, ritual, tradisi, cerita, hingga kehidupan masyarakat Sasak tetap hidup dalam sebuah kawasan adat.

Baca Juga :  Lebaran Topat, MAS NTB Sematkan ‘’Pengerakse Gumi Tastura’’ kepada Bupati dan Wabup Loteng

Karena itu, rekonstruksi harus mampu mengembalikan keseluruhan karakter tersebut.

“Proses pembangunan ini tidak boleh terburu-buru. Wisatawan datang ke Sade karena ingin melihat bangunan yang bercerita tentang budaya masyarakat Sasak serta ritual dan kehidupan yang ada di NTB. Karena itu, nilai awal Sade harus dikembalikan,” tegasnya.

Untuk memastikan proses tersebut berjalan terarah, Gubernur Iqbal meminta segera dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Rekonstruksi Sade.

Satgas ini akan melibatkan unsur pemerintah, masyarakat adat, serta berbagai pihak terkait sehingga proses rekonstruksi dapat dikawal secara bersama-sama sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

Persoalan transparansi bantuan juga menjadi perhatian.

Gubernur Iqbal mendorong pembentukan rekening bersama untuk menampung bantuan yang datang dari masyarakat, lembaga, maupun berbagai pihak lainnya.

Dengan mekanisme tersebut, seluruh bantuan yang masuk dapat tercatat, dikelola secara terbuka, dan dipertanggungjawabkan.

“Banyak pihak yang ingin membantu. Karena itu, bantuan yang masuk harus dikumpulkan dan dikelola secara transparan,” katanya.

Pemulihan Sade juga tidak harus menunggu seluruh bangunan selesai untuk kembali memperkenalkan kawasan tersebut kepada wisatawan.

Gubernur Iqbal meminta pembangunan museum semi permanen dipercepat. Fasilitas ini diharapkan menjadi ruang edukasi sementara yang memungkinkan wisatawan tetap memperoleh gambaran mengenai Sade, mulai dari bentuk bangunan hingga cerita dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

“Ketika wisatawan datang, mereka tetap bisa melihat dan memahami bentuk serta cerita tentang Sade. Karena proses rekonstruksi dimulai, kawasan ini tentu harus ditata,” ujarnya.

Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri mengatakan prosesi Nyemulak menjadi momentum penting karena menandai dimulainya pembangunan kembali rumah adat Sasak dan Masjid Sade yang terdampak kebakaran.

Momentum tersebut, kata Pathul, semakin bermakna karena berlangsung pada bulan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Bulan Maulid Nabi Muhammad ini merupakan waktu yang terbaik, sehingga pembangunan rumah di Kampung Adat Sade ini dimulai hari ini,” kata Pathul.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, pemerintah, serta para donatur yang telah memberikan dukungan terhadap pemulihan Sade. Semangat gotong royong tersebut diharapkan terus terjaga hingga seluruh proses rekonstruksi rampung.

Baca Juga :  Lombok Tengah Raih Paritrana Award Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat 2025

Sementara itu, Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade, HL Muh. Faozal mengatakan prosesi Nyemulak telah melalui musyawarah bersama masyarakat Dusun Sade.

“Hari ini merupakan hari baik yang telah disepakati bersama untuk pemasangan tiang pancang pembangunan Masjid dan Rumah Adat Sade,” ujarnya.

Berdasarkan pendataan pascakebakaran, dampak kerusakan di kawasan tersebut cukup besar. Sebanyak 75 rumah adat, delapan berugak, enam sekenam, satu masjid, dua toilet, dan 69 artshop terdampak dalam peristiwa kebakaran.

Rekonstruksi selanjutnya akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan perencanaan dan kemampuan sumber daya yang tersedia.

Namun, bagi masyarakat Sade, angka-angka tersebut bukan sekadar daftar bangunan yang harus diperbaiki.

Di balik setiap rumah adat terdapat pengetahuan mengenai cara membangun, tata ruang, filosofi, dan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak Rembitan.

Karena itu, mengembalikan Sade berarti pula memastikan pengetahuan tersebut tidak ikut hilang bersama bangunan yang terbakar.

Di titik inilah rekonstruksi Sade mendapatkan makna yang lebih luas.

Pembangunan kembali bukan hanya tentang mengembalikan atap, dinding, tiang, atau bangunan yang rusak. Lebih jauh, proses tersebut menjadi upaya menjaga agar warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Nyemulak pun menjadi simbol dari perjalanan itu.

Dari sebuah tiang pertama yang ditancapkan, masyarakat Sade memulai babak baru: membangun kembali rumah yang hilang, memulihkan ruang kehidupan, dan pada saat yang sama menjaga ruh serta nilai budaya Sasak agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sade boleh saja berubah setelah kebakaran. Namun melalui rekonstruksi yang berpijak pada adat, masyarakat ingin memastikan satu hal: ketika bangunan-bangunan itu kembali berdiri, yang kembali bukan hanya bentuk Sade, melainkan juga identitas dan warisan yang membuat kampung adat tersebut tetap menjadi Sade.(Sid)

Berita Terkait

Tak Minta Dana Pemkab, Desa Jeruk Manis Tetap Gelar Festival dan Dapat Apresiasi Sekda Lotim
Bukan Sekadar Pentas, NTB Siapkan Generasi Muda untuk Bawa Seni Budaya ke Panggung Dunia
Alunan Budaya Desa Pringgasela 2026 Resmi Dibuka, Wabup Lotim Tegaskan Dukungan untuk Pelestarian Budaya dan Kebersamaan
Honda Vario 160 Buktikan Kenyamanan Saat Touring Sembalun hingga Menaklukkan Sirkuit Mandalika
Touring ke Destinasi Wisata Lombok? Jangan Abaikan Kondisi Tubuh demi Perjalanan Aman
Libur Sekolah 2026, Warga Bale Lumbung Residence 1 Gelar Camping Keluarga di Sembalun, Peserta Tembus 96 Orang
Bupati Lotim Minta Seluruh Camat Tiru Pringgabaya, Car Free Night Dinilai Dongkrak Ekonomi Warga
Gubernur NTB Syukuri Tambahan 6 Penerbangan Singapura-Lombok, Wisman Diprediksi Meningkat

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 14:05 WIB

Sade Bangkit dari Puing Kebakaran, Nyemulak Jadi Penanda Rekonstruksi Rumah Adat Sasak

Rabu, 12 Agustus 2026 - 03:02 WIB

Tak Minta Dana Pemkab, Desa Jeruk Manis Tetap Gelar Festival dan Dapat Apresiasi Sekda Lotim

Minggu, 9 Agustus 2026 - 18:08 WIB

Bukan Sekadar Pentas, NTB Siapkan Generasi Muda untuk Bawa Seni Budaya ke Panggung Dunia

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:01 WIB

Alunan Budaya Desa Pringgasela 2026 Resmi Dibuka, Wabup Lotim Tegaskan Dukungan untuk Pelestarian Budaya dan Kebersamaan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:07 WIB

Honda Vario 160 Buktikan Kenyamanan Saat Touring Sembalun hingga Menaklukkan Sirkuit Mandalika

Berita Terbaru

Ini Honda ST125 Dax warna Candy Energy Orange, yang membuat tampilan motor ikonik ini semakin mencuri perhatian.

Ekonomi & Bisnis

Honda ST125 Dax Tampil Beda dengan Warna Baru, Harga Rp84,5 Juta

Rabu, 2 Sep 2026 - 15:03 WIB