ADA orang-orang yang kehadirannya bukan sekadar menyentuh sejarah, tapi menciptakan sejarah. Ada pribadi-pribadi yang tak hanya menginspirasi generasinya, tapi juga menyalakan api harapan bagi generasi sesudahnya.
Buku ”TOKOH LINTAS BATAS” adalah jendela yang membuka ruang batin kita untuk melihat lebih dalam sosok Prof Ir H Mansur Ma’shum, Ph.D – bukan hanya sebagai mantan Rektor Universitas Mataram (Unram), bukan sekadar alumni Australia, bukan semata Mustasyar DMI NTB, tokoh Adat Sasak, tetapi sebagai manusia utuh, pemimpin pemikir, dan penjaga nilai yang teguh.
Buku setebal 400-an halaman ini menyajikan tiga lanskap besar. Pertama, kita dibawa menyusuri jejak langkah dan dinamika hidup beliau sejak masa kecil hingga menjadi tokoh penting di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kedua, kita diajak mendengar kesaksian para tokoh tentang beliau – sebuah kanvas penghormatan dari berbagai sudut pandang yang menguatkan betapa pengaruh beliau tak terbantahkan. Dan ketiga, kita diajak menikmati potongan visual kenangan dalam bentuk dokumentasi dan galeri – yang bukan sekadar gambar, tetapi fragmen-fragmen hidup yang berbicara lebih dari seribu kata.
Membaca buku ini, seperti berbicara langsung dengan jiwa seorang tokoh. Kita akan merasakan keheningan yang menggetarkan saat membaca kisah-kisah perjuangannya, kita akan menunduk penuh hormat melihat konsistensi nilai yang ia pegang dalam dunia akademik, sosial, dan budaya.
Prof Mansur Ma’shum bukan sekadar tokoh adat, bukan hanya ilmuwan, tetapi suluh yang menerangi jalan di tengah gelapnya tantangan zaman. Kita tidak sedang membaca sekadar kisah hidup. Kita sedang menapaki lorong-lorong waktu yang sarat nilai, menyesap hikmah dari keteguhan, dan menimba kekuatan dari keteladanan. Buku ini adalah bentuk penghormatan — bukan untuk mengkultuskan pribadi, melainkan untuk mencatat teladan yang pantas dikenang dan dijadikan pijakan.
Apresiasi setinggi-tingginya untuk upaya memperkaya khazanah jiwa ini. Sebab, dalam masyarakat yang mudah lupa, mencatat dan menulis adalah bentuk perjuangan yang luhur. Dan dalam zaman yang makin menipis nilai, menghadirkan sosok seperti beliau adalah upaya membangun kembali fondasi moral kolektif kita.
Maka, bila pun ada kritik, biarlah itu muncul setelah membaca dan menyelami langsung. Sebab, setiap halaman dari ”TOKOH LINTAS BATAS” tidak untuk dihakimi, tapi untuk direnungkan, dihayati, dan diambil sarinya.
Sebuah karya seperti ini, tidak hanya pantas dibaca, tetapi layak untuk diwariskan. Karena bangsa besar, selalu ditopang oleh ingatan kolektif terhadap tokoh-tokoh besarnya. Dan Prof Mansur Ma’shum, dengan segala jejak dan baktinya, adalah salah satu dari mereka.(*)