Dunia Menutup Mata, Anak-Anak Palestina Dibantai dan Dibiarkan Menjadi Disabilitas

- Jurnalis

Rabu, 25 Juni 2025 - 10:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Lalu Wisnu Pradipta |

ANGKA itu bukan sekadar statistik. 377.000 korban perang di Palestina, dan lebih dari setengahnya adalah anak-anak. Itu berarti lebih dari 180.000 jiwa kecil – yang seharusnya bermain, belajar, dan tumbuh – justru menjadi korban kebiadaban perang.

Dunia melihat, tapi memilih diam. Kamera merekam, tapi lidah-lidah penguasa membisu. Ketika pembantaian terjadi di depan mata, diam bukan lagi netral, melainkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Yang lebih menyayat hati, dari ratusan ribu korban itu, ribuan anak-anak yang selamat justru kehilangan anggota tubuh, penglihatan, pendengaran, atau mengalami trauma psikososial yang berat.

Mereka kini hidup dalam kondisi disabilitas, di tengah reruntuhan dan tanpa akses rehabilitasi medis yang layak. Mereka kehilangan masa depan, bukan hanya karena perang, tapi juga karena dunia tidak memberikan harapan.

Bayangkan seorang anak berusia 8 tahun yang harus belajar hidup dengan satu kaki di tengah wilayah blokade. Atau bayi yang kehilangan penglihatan karena serpihan bom.

Atau remaja yang tak bisa lagi bicara karena shock berat. Mereka tidak hanya kehilangan bagian tubuhnya, tetapi juga kehilangan tempat untuk hidup, sekolah untuk belajar, dan masyarakat untuk tumbuh.

Baca Juga :  Dekranasda NTB Tancap Gas, Bunda Sinta Dorong Kerajinan Lokal Go Global dan Digital

Dunia internasional, khususnya negara-negara besar yang mengaku menjunjung hak asasi manusia, bersikap selektif dalam kepedulian. Resolusi PBB mentok pada veto.

Bantuan kemanusiaan dipolitisasi. Sementara media arus utama pun kerap membingkai perang ini seolah dua pihak seimbang, padahal jelas satu pihak adalah penjajah, satu pihak adalah yang dijajah.

Lebih memilukan lagi, sebagian besar negara-negara Arab, yang seharusnya menjadi benteng pertahanan Palestina, justru memilih jalan kompromi ekonomi.

Alih-alih bersatu, mereka sibuk dengan kerja sama dagang, proyek energi, dan aliansi politik, bahkan dengan pihak yang selama puluhan tahun membantai saudara mereka.

Di mana hati nurani ketika anak-anak Palestina dibantai atau dijadikan disabilitas seumur hidup? Apakah kemanusiaan kini bisa ditukar dengan kontrak investasi?

Indonesia, meskipun tetap konsisten bersuara di forum internasional, perlu lebih berani menjadi inisiator dan penggerak gerakan global.

Baca Juga :  Setiap Sabtu, Astra Motor Ampenan Gelar Fashion Week

Bukan hanya dalam bentuk pernyataan sikap, tapi juga melalui diplomasi aktif, tekanan konkret ke negara-negara OKI, dan dukungan riil terhadap layanan kemanusiaan, termasuk akses rehabilitasi bagi korban disabilitas akibat perang.

Perang ini bukan hanya membunuh tubuh, tapi juga menghancurkan harapan generasi masa depan. Dunia telah gagal mencegah pembantaian, jangan sampai gagal juga dalam merawat mereka yang selamat dalam luka.

Kita tidak sedang membela satu agama atau satu bangsa. Kita sedang membela hak paling dasar manusia untuk hidup, untuk sehat, dan untuk bermasa depan.

Jika 180.000 anak-anak mati di tempat lain, dunia mungkin sudah bereaksi keras. Tapi karena itu terjadi di Gaza, dunia memilih bungkam.

Maka suara kita, sekecil apapun, tak boleh ikut tenggelam. Sebab dalam setiap suara yang jujur dan lantang, ada harapan bahwa kemanusiaan belum sepenuhnya mati. Dan mungkin, di sanalah satu-satunya kekuatan untuk menyelamatkan mereka yang tersisa.(*)

Penulis dari Lombok Independent Disabilitas Indonesia (LIDI)

Berita Terkait

Kebakaran Tempat Hiburan di Bangkok Tewaskan 27 Orang, Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Jadi Korban
KBRI Kuala Lumpur Sebut NTB Mitra Strategis Malaysia, Investasi Hijau dan Skema Zero Cost PMI Jadi Magnet
Temui Ribuan PMI NTB di Malaysia, Gubernur Iqbal Siapkan KUR Khusus agar Buruh Sawit Tak Terjerat Rentenir
Gempa M 7,8 Guncang Mindanao Filipina, Bagaimana Kondisi WNI Saat Ini?
Bawa Pesan Prabowo ke Jenewa, Menaker Perjuangkan Perlindungan Awak Kapal Perikanan Indonesia
KBRI Kuala Lumpur Telusuri Dugaan Keterlibatan WNI dalam Kasus 2.251 Pelaku Online Scam di Malaysia
Presiden Prabowo Terima Penghargaan Tertinggi Korea Selatan, Grand Order of Mugunghwa
Presiden Prabowo Saksikan 10 MoU RI–Korsel, Fokus Ekonomi Digital hingga Energi Bersih

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 13:47 WIB

Kebakaran Tempat Hiburan di Bangkok Tewaskan 27 Orang, Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Jadi Korban

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:02 WIB

KBRI Kuala Lumpur Sebut NTB Mitra Strategis Malaysia, Investasi Hijau dan Skema Zero Cost PMI Jadi Magnet

Jumat, 19 Juni 2026 - 19:09 WIB

Temui Ribuan PMI NTB di Malaysia, Gubernur Iqbal Siapkan KUR Khusus agar Buruh Sawit Tak Terjerat Rentenir

Senin, 8 Juni 2026 - 11:05 WIB

Gempa M 7,8 Guncang Mindanao Filipina, Bagaimana Kondisi WNI Saat Ini?

Senin, 8 Juni 2026 - 08:01 WIB

Bawa Pesan Prabowo ke Jenewa, Menaker Perjuangkan Perlindungan Awak Kapal Perikanan Indonesia

Berita Terbaru