JAKARTA, LOMBOKTODAY.ID – Eskalasi serangan udara kembali meningkat di tengah perang Rusia-Ukraina. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kyiv dan KBRI Moskow terus memantau situasi keamanan untuk memastikan keselamatan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kedua negara tersebut.
Peningkatan aktivitas serangan terjadi dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini menjadi perhatian khusus karena serangan antara Rusia dan Ukraina berpotensi meluas ke sejumlah wilayah lain.
Pada 19–20 September 2026, Ukraina melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Moskow, termasuk fasilitas kilang minyak. Perkembangan tersebut berpotensi diikuti peningkatan serangan balasan Rusia terhadap sejumlah wilayah di Ukraina.
Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan KBRI Kyiv terus memantau perkembangan situasi keamanan berdasarkan informasi dari lapangan dan otoritas setempat.
Menurut Heni, terdapat peningkatan frekuensi serangan drone Rusia di sejumlah wilayah Ukraina. Beberapa wilayah yang terdampak dalam perkembangan terbaru antara lain Kyiv dan Odesa.
Peningkatan aktivitas serangan juga menjadi perhatian di wilayah yang berada di jalur utama menuju perbatasan Polandia, seperti Zhytomyr dan Rivne.
“Berdasarkan pengamatan KBRI Kyiv dan informasi otoritas setempat, terdapat peningkatan frekuensi serangan drone Rusia di sejumlah wilayah Ukraina,” demikian keterangan yang disampaikan Heni Hamidah terkait perkembangan situasi keamanan tersebut.
Di sisi lain, Rusia pada 21 September 2026 juga melaporkan adanya serangan drone terhadap sejumlah fasilitas yang diklaim berkaitan dengan kepentingan militer dan logistik Ukraina.
Situasi tersebut turut mendorong otoritas Ukraina melakukan penyesuaian operasional di sejumlah titik perlintasan perbatasan. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya serangan.
Meski eskalasi serangan meningkat, Kemlu memastikan kondisi WNI yang berada di Rusia dan Ukraina sejauh ini masih aman.
Berdasarkan pantauan KBRI Kyiv dan KBRI Moskow di wilayah akreditasi masing-masing, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak langsung akibat perkembangan keamanan terbaru.
KBRI Kyiv dan KBRI Moskow juga terus berkomunikasi dengan para WNI. Komunikasi tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan sekaligus memperoleh informasi terkini mengenai kondisi WNI di masing-masing wilayah.
Jumlah WNI yang berada di kedua negara tersebut juga cukup signifikan. Berdasarkan data KBRI Kyiv per Juni 2026, terdapat sebanyak 80 WNI di Ukraina.
Sementara itu, berdasarkan data KBRI Moskow per 10 September 2025, terdapat 1.325 WNI yang berada di Rusia.
Dengan meningkatnya intensitas serangan, Kemlu mengimbau seluruh WNI di Ukraina dan Rusia untuk meningkatkan kewaspadaan.
WNI juga diminta menghindari perjalanan yang tidak esensial menuju wilayah yang tengah mengalami aktivitas serangan.
Selain itu, WNI diminta secara rutin memantau informasi terbaru serta mengikuti arahan resmi yang dikeluarkan oleh otoritas setempat.
Kemlu juga mengingatkan WNI agar segera menuju tempat perlindungan apabila terdapat peringatan serangan.
Dokumen perjalanan dan kebutuhan penting lainnya juga diminta untuk selalu dipersiapkan serta ditempatkan di lokasi yang mudah diakses.
Langkah tersebut dinilai penting agar WNI dapat bergerak cepat apabila situasi keamanan mengalami perubahan secara tiba-tiba.
Kemlu melalui KBRI Kyiv dan KBRI Moskow menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi keamanan di Rusia dan Ukraina.
Koordinasi dengan otoritas setempat juga terus dilakukan secara intensif untuk memastikan langkah pelindungan terhadap WNI dapat dilakukan secara cepat dan terukur.
Bagi WNI yang berada di Ukraina dan membutuhkan bantuan dalam kondisi darurat, KBRI Kyiv menyediakan layanan hotline di nomor +380 50 334 7917.
Sementara itu, WNI di Rusia dapat menghubungi Hotline KBRI Moskow +7 985 7502410 apabila menghadapi kondisi darurat dan membutuhkan bantuan.
Kemlu mengingatkan agar seluruh WNI tetap mengutamakan keselamatan, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti perkembangan informasi resmi di tengah situasi keamanan Rusia-Ukraina yang masih dinamis.(Sid)















