Oleh: Yogi Ardiansyah │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia menggunakan bahasa. Fitur autocorrect, teks prediktif, dan kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari aktivitas menulis sehari-hari, baik di ponsel maupun komputer. Teknologi tersebut memang menawarkan kepraktisan, terutama dalam mempercepat proses penulisan dan mengurangi kesalahan ejaan. Namun, perubahan ini juga memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana teknologi memengaruhi keterlibatan manusia dalam berpikir saat berbahasa.
Dalam kajian psikolinguistik, berbahasa dipahami sebagai proses mental yang kompleks dan sadar. Penutur atau penulis tidak hanya menyusun kata, tetapi juga merancang gagasan, memilih struktur yang sesuai, serta memastikan makna tersampaikan dengan tepat. Ketika autocorrect atau AI secara otomatis memberikan koreksi dan saran, sebagian proses tersebut tidak lagi sepenuhnya dilakukan oleh pengguna. Kebiasaan menerima koreksi tanpa refleksi berpotensi melemahkan kesadaran terhadap kaidah bahasa itu sendiri.
Fenomena ini semakin terlihat pada generasi muda yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi digital. Banyak penulis pemula yang kesulitan membedakan bentuk bahasa baku dan tidak baku, serta kurang peka terhadap kesalahan tata bahasa saat menulis tanpa bantuan sistem otomatis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan pada teknologi dapat mengurangi latihan berpikir yang seharusnya terbentuk secara alami melalui proses berbahasa.
Meski demikian, teknologi tidak sepenuhnya dapat diposisikan sebagai penyebab utama permasalahan ini. Autocorrect dan AI pada dasarnya dirancang sebagai alat bantu untuk mendukung aktivitas manusia. Permasalahan muncul ketika pengguna bersikap pasif dan menyerahkan sepenuhnya proses berbahasa kepada mesin. Dengan kata lain, kemalasan kognitif lebih dipengaruhi oleh pola penggunaan teknologi daripada keberadaan teknologi itu sendiri.
Oleh karena itu, diperlukan sikap yang lebih seimbang dan kritis dalam memanfaatkan teknologi bahasa. Autocorrect dan AI sebaiknya digunakan sebagai pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Kebiasaan membaca, menulis, dan meninjau ulang teks secara mandiri tetap penting untuk menjaga ketajaman kemampuan berbahasa. Jika digunakan secara bijak, teknologi tidak akan melemahkan bahasa, melainkan justru dapat membantu manusia mengembangkan kompetensi linguistiknya.(*)

















