Oleh: Uci Sulistiani │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
DI DUNIA yang makin sibuk ini, orang-orang lebih sering bicara, tapi makin jarang benar-benar mendengarkan. Media sosial, gadget, dan rutinitas sehari-hari bikin kita lebih fokus menumpahkan pikiran sendiri daripada berusaha paham orang lain. Akibatnya, kemampuan mendengar—yang seharusnya jadi landasan komunikasi antarmanusia—perlahan memudar. Banyak orang sekarang menganggap mendengar cuma aktivitas pasif, padahal sebenarnya, ini keterampilan penting yang sangat memengaruhi kualitas hubungan sosial dan kemanusiaan kita.
Mendengar itu bukan cuma soal telinga menangkap suara. Lebih dari itu, kita belajar memahami maksud, emosi, dan konteks di balik kata-kata orang lain. Tapi kenyataannya, banyak di antara kita mendengarkan hanya untuk membalas, bukan untuk mengerti. Dalam obrolan sehari-hari, sering kali orang sudah sibuk menyiapkan jawaban bahkan sebelum lawan bicaranya selesai ngomong. Jadi, perhatian kita lebih ke kepentingan sendiri, bukan ke apa yang sedang disampaikan.
Lunturya seni mendengar ini kerasa banget di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial. Di sekolah, misalnya, murid-murid sering merasa pendapat atau keluhannya nggak didengar. Dalam pergaulan, kurangnya kemampuan mendengar bisa bikin salah paham, konflik, bahkan hubungan jadi renggang. Banyak orang akhirnya merasa diabaikan, nggak dihargai, dan memilih diam.
Teknologi juga ikut memperparah situasi. Percakapan langsung banyak tergantikan pesan singkat yang kering ekspresi dan empati. Notifikasi yang nggak berhenti bikin konsentrasi gampang buyar, jadi makin sulit buat mendengar dengan penuh perhatian. Padahal, kalau kita benar-benar mendengar, kita bisa nunjukin empati, menghargai perbedaan, dan membangun kepercayaan.
Seni mendengar itu kemampuan dasar yang makin lama makin dilupakan, padahal sekarang justru makin penting. Mendengar dengan sungguh-sungguh bukan cuma bikin komunikasi jadi lebih baik, tapi juga mempererat hubungan dan bikin lingkungan lebih penuh empati. Kita perlu belajar lagi untuk benar-benar mendengar—nggak cuma dengan telinga, tapi juga dengan hati dan pikiran yang terbuka. Dengan menghidupkan lagi seni mendengar, kita bisa lebih memahami orang lain, dan jadi manusia yang lebih utuh.(*)

















