MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Dari ruang konvensi modern hingga beranda rumah warga, denyut pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) kini terasa semakin terhubung. Bukan sekadar soal jumlah wisatawan, tetapi bagaimana setiap agenda, setiap event, dan setiap kunjungan mampu mengalirkan dampak ekonomi langsung ke masyarakat.
Di balik geliat itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menegaskan satu hal: pariwisata harus tumbuh tanpa meninggalkan jejak kerusakan. Prinsip keberlanjutan (sustainable tourism) menjadi fondasi, bukan sekadar jargon.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan. Dalam tahun pertama kepemimpinannya bersama Wagub Indah Dhamayanti Putri, arah kebijakan pariwisata difokuskan pada kualitas, dampak ekonomi, dan ketahanan lingkungan.
“Kita ingin pariwisata NTB naik kelas. MICE adalah instrumen strategis untuk mendatangkan wisatawan berkualitas, memperpanjang lama tinggal, dan menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan,” tegas Gubernur Iqbal.
Strategi unggulan NTB bertumpu pada sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Bukan hanya memperbanyak agenda, melainkan membangun ekosistem event yang berdampak luas.
Sepanjang 2025–2026, NTB menjelma sebagai episentrum sport tourism dan event internasional di Indonesia. Beberapa agenda besar yang memperkuat posisi tersebut antara lain: MotoGP Indonesia di Pertamina Mandalika International Street Circuit, Festival Olahraga Masyarakat Nasional VIII, Pocari Sweat Run Lombok, GT World Challenge Asia, Bau Nyale Festival.
Event-event ini bukan hanya magnet wisata, tetapi penggerak ekonomi riil. Hotel terisi, penerbangan meningkat, UMKM bergerak, dan desa wisata ikut menikmati limpahan manfaat. NTB tidak lagi menjual destinasi semata. NTB menjual pengalaman.
Tantangan klasik NTB adalah rata-rata lama tinggal wisatawan yang relatif singkat. Melalui MICE, pemerintah mendorong integrasi paket pra- dan pasca-event agar peserta tidak hanya datang untuk forum, tetapi juga menjelajah pantai, desa wisata, hingga sentra ekonomi kreatif.
Hasilnya mulai terlihat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, tingkat hunian hotel berbintang pada Oktober 2025 mencapai 43,51 persen. Rata-rata lama tinggal tamu mendekati dua hari—indikasi bahwa event mendorong pergerakan ekonomi lebih luas.
Efek berganda (multiplier effect) menjadi ukuran utama keberhasilan. Setiap konferensi membuka peluang bagi: Hotel dan penginapan rakyat, Transportasi dan rental kendaraan, UMKM kuliner, Perajin lokal, Pemandu wisata, Event organizer dan tenaga kerja harian.
Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia yang merupakan bagian dari kalender MotoGP menjadi contoh konkret. Lebih dari 140 ribu penonton hadir sepanjang akhir pekan balapan. Okupansi hotel di zona Mandalika mencapai 100 persen, sementara Lombok secara keseluruhan berada di atas 90 persen.
Estimasi perputaran ekonomi menembus Rp4,8 triliun—mengalir ke sektor akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga ekonomi kreatif. Ratusan UMKM diberi ruang berjualan di dalam dan sekitar kawasan sirkuit.
Efek serupa terjadi saat Fornas VIII 2025. Dengan lebih dari 18.000 peserta dari 38 provinsi, ajang ini mendorong perputaran ekonomi sekitar Rp800 miliar dan menciptakan sekitar 9.500 lapangan kerja sementara.
Sementara itu, Pocari Sweat Run Lombok 2025 yang diikuti lebih dari 9.000 pelari mendorong dampak ekonomi lebih dari Rp50 miliar. Jumlah penumpang di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid meningkat sekitar 3 persen selama periode kegiatan.
Event tak lagi berhenti di arena. Ia menjalar hingga warung makan, homestay keluarga, penyedia jasa kendaraan, hingga perajin di pelosok desa.
Di balik padatnya kalender event, NTB juga memperkuat komitmen lingkungan: Pengurangan plastik sekali pakai di venue MICE, Penggunaan produk lokal untuk konsumsi acara, Pelibatan desa wisata dan komunitas, Kampanye kebersihan laut di kawasan Gili dan pesisir selatan Lombok.
Pariwisata tidak lagi berdiri terpisah dari masyarakat dan lingkungan. Ia terhubung langsung dengan ekosistem lokal.
Tahun 2025 menjadi babak transformasi penting bagi NTB. Dari ruang-ruang rapat hingga garis pantai yang dijaga kelestariannya, NTB menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan bukan dua kutub yang bertentangan.
NTB kini memosisikan diri sebagai: destinasi MICE kelas dunia, episentrum sport tourism nasional, laboratorium wisata berkelanjutan, penggerak ekonomi berbasis UMKM.
Di tengah dinamika industri pariwisata nasional dan global, NTB memilih untuk tidak hanya ramai—tetapi relevan, berdampak, dan berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, pariwisata bukan sekadar tentang orang yang datang. Tetapi tentang manfaat yang tinggal dan tumbuh bersama masyarakat.(Sid)

















