Gubernur Iqbal Dorong Tata Kelola TNGR Lebih Inklusif dan Berkelas Dunia

- Jurnalis

Senin, 23 Februari 2026 - 16:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal saat menerima audiensi Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, bersama GM Geopark Rinjani, Qwadru P. Wicaksono, serta jajaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di ruang kerjanya, pada Senin (23/2/2026).

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal saat menerima audiensi Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, bersama GM Geopark Rinjani, Qwadru P. Wicaksono, serta jajaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di ruang kerjanya, pada Senin (23/2/2026).

MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTB untuk mendorong tata kelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang lebih inklusif, kolaboratif, dan adaptif terhadap tantangan global.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat menerima audiensi Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, bersama General Manager Geopark Rinjani, Qwadru P. Wicaksono, serta jajaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di ruang kerjanya, pada Senin (23/2/2026).

Menurut Gubernur Iqbal, pengelolaan destinasi kelas dunia seperti Rinjani tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan orkestrasi kuat antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, hingga masyarakat lokal.

“Apapun yang terjadi dalam pengelolaan Rinjani, pemerintah provinsi adalah pihak pertama yang menghadapi situasi itu. Karena itu, TNGR tidak bisa bekerja sendiri,” ujarnya.

Gubernur Iqbal menilai, selama ini koordinasi lintas sektor masih perlu diperkuat. Terutama antara Balai TNGR dengan Pemprov NTB serta pemerintah kabupaten seperti Lombok Utara, Lombok Timur, dan Lombok Tengah.

Ia menekankan pentingnya mencari best practice pengelolaan bersama yang sesuai karakteristik lokal—mulai dari aspek konservasi, tata kelola wisata, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat desa penyangga.

Baca Juga :  Babak Baru Fihir vs Isvie, Gugatan Kembali Diajukan

Salah satu contoh konkret adalah inisiatif vertical rescue yang digagas Pemprov NTB bersama berbagai pemangku kepentingan setelah insiden kecelakaan pendaki beberapa waktu lalu. Model kolaborasi ini dinilai sebagai bukti bahwa sinergi mampu menghadirkan sistem keamanan pendakian yang lebih responsif dan profesional.

Dalam arahannya, Gubernur Iqbal juga mengusulkan pendekatan baru terhadap konsep wisata pendakian Rinjani. Ia mendorong agar Rinjani tidak lagi diposisikan sebagai destinasi mass tourism, melainkan sebagai pendakian eksklusif berstandar internasional.

Beberapa gagasan yang disampaikan antara lain: Tiket pendakian berstandar premium, Sertifikasi khusus bagi pendaki, Asuransi wajib untuk keamanan, Skema pengelolaan ekonomi melalui badan layanan usaha daerah, Optimalisasi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengalaman wisata sekaligus menjaga daya dukung lingkungan. “Rinjani bukan bukit biasa. Kesalahan terbesar kita sebelumnya adalah mempromosikan trekking, bukan mountaineering. Akibatnya, orang menganggap Rinjani seperti ‘Bukit Teletubbies’,” jelasnya.

Baca Juga :  1.000 Peserta Terpilih Ikuti Baparekraf Developer Day 2024 di Bandung

Gubernur Iqbal menutup arahannya dengan mendorong transparansi dan komunikasi global melalui konferensi pers, termasuk dengan media internasional, untuk menyampaikan berbagai pembaruan tata kelola yang telah dilakukan.

Pesannya jelas: Rinjani harus naik kelas—bukan hanya sebagai ikon pariwisata Indonesia, tetapi sebagai model pengelolaan taman nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan relevan dengan semangat zaman.

Selain tata kelola wisata, perhatian juga diberikan pada isu konservasi. Beberapa program prioritas yang dipaparkan pihak TNGR dalam pertemuan tersebut meliputi: Penguatan potensi desa penyangga, Sistem pengelolaan sampah terpadu, Peningkatan fasilitas keamanan pendakian, Pengembangan merchandise dan souvenir khas geopark.

Balai TNGR juga mengumumkan rencana pembukaan kembali jalur pendakian pada 28 Maret 2026, menandai kesiapan menghadapi musim pendakian dengan standar pengelolaan yang lebih baik.

Bagi masyarakat NTB, Gunung Rinjani bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah simbol kehidupan, sumber air, identitas budaya, sekaligus penggerak ekonomi.(Sid)

Berita Terkait

Dari Adelaide, Tiga Srikandi NTB Bawa Kekayaan Budaya Mendunia
Jelang MotoGP Mandalika 2026, NTB Desak Maskapai Tambah Penerbangan ke Lombok
Putri Victoria Lepas Tukik di Gili Meno, Pesan Penting soal Laut dan Ekonomi Biru
Putri Victoria Kagumi Songket Sasak dan Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita
Sade Bangkit dari Puing Kebakaran, Nyemulak Jadi Penanda Rekonstruksi Rumah Adat Sasak
Tak Minta Dana Pemkab, Desa Jeruk Manis Tetap Gelar Festival dan Dapat Apresiasi Sekda Lotim
Bukan Sekadar Pentas, NTB Siapkan Generasi Muda untuk Bawa Seni Budaya ke Panggung Dunia
Alunan Budaya Desa Pringgasela 2026 Resmi Dibuka, Wabup Lotim Tegaskan Dukungan untuk Pelestarian Budaya dan Kebersamaan

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 13:09 WIB

Dari Adelaide, Tiga Srikandi NTB Bawa Kekayaan Budaya Mendunia

Selasa, 8 September 2026 - 15:09 WIB

Jelang MotoGP Mandalika 2026, NTB Desak Maskapai Tambah Penerbangan ke Lombok

Minggu, 6 September 2026 - 13:03 WIB

Putri Victoria Lepas Tukik di Gili Meno, Pesan Penting soal Laut dan Ekonomi Biru

Sabtu, 5 September 2026 - 16:01 WIB

Putri Victoria Kagumi Songket Sasak dan Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita

Kamis, 3 September 2026 - 14:05 WIB

Sade Bangkit dari Puing Kebakaran, Nyemulak Jadi Penanda Rekonstruksi Rumah Adat Sasak

Berita Terbaru

Suasana kunjungan tiga perempuan yang mewakili kekuatan eksekutif, kebudayaan, dan legislatif NTB ke Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide, pada 11–12 September 2026.

Internasional

Dari Adelaide, Tiga Srikandi NTB Bawa Kekayaan Budaya Mendunia

Senin, 14 Sep 2026 - 13:09 WIB