LOTIM, LOMBOKTODAY.ID – Angin segar perubahan berembus dari pesisir selatan Lombok Timur (Lotim), tepatnya di Pantai Kura-Kura, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru. Di lokasi yang sarat pesona alam itu, Himpunan Masyarakat Paer Lauq (HIMAPALA) resmi dideklarasikan, pada Sabtu sore (7/2/2026).
Organisasi ini hadir sebagai ruang kolaborasi baru untuk memperkuat adat, mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mengawal arah pembangunan Paer Lauq agar tetap berpijak pada kearifan lokal. Prosesi acara deklarasi yang dimulai pukul 14.00 Wita tersebut, berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan.
Rangkaian acara diawali dengan laporan ketua panitia, pembacaan Surat Keputusan (SK) dan naskah deklarasi oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) HIMAPALA, Dr. Drs. H. Musa Shofiandy, S.H., M.M., dilanjutkan prosesi pengukuhan, sesi foto bersama, hingga sambutan-sambutan.
Tak hanya menjadi momentum organisasi, acara ini juga dimanfaatkan untuk mengenalkan pesona wisata setempat melalui branding “Wonderful Kura-Kura Beach” sebagai ikon destinasi unggulan Paer Lauq.
Sentuhan budaya Sasak kian terasa lewat penampilan Tari Gandrung dan atraksi Peresean yang menutup rangkaian kegiatan—sekaligus menegaskan bahwa identitas lokal tetap menjadi ruh utama gerakan HIMAPALA.
Ketua Panitia, Dr. TGH. M. Fikri Zainul Mukhlis, MA., menegaskan bahwa HIMAPALA dibentuk sebagai wadah konsolidasi seluruh elemen masyarakat Paer Lauq.
Organisasi ini diharapkan mampu menguatkan peran adat, menjaga kelestarian lingkungan pesisir, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan berbasis budaya.
“HIMAPALA bukan sekadar nama besar. Ini adalah instrumen sosial yang harus bergerak nyata dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum HIMAPALA, Prof. Dr. H. Said Agil Al-Idrus, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya deklarasi ini.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal yang diwakili oleh Plh Sekda NTB, HL Moh. Faozal, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim), unsur TNI/Polri, BPBD, Dinas Perhubungan, Majelis Adat Sasak (MAS), para camat dan kepala desa se-Paer Lauq, serta seluruh panitia pelaksana.
Menurut Prof. Said Agil, kelahiran HIMAPALA merupakan buah dari proses panjang dan kerja kolektif para tokoh Paer Lauq. Ia juga mengungkapkan kebanggaan atas terpilihnya Rektor Universitas Mataram (Unram) periode mendatang yang berasal dari Paer Lauq dan menjadi bagian dari keluarga besar HIMAPALA.
“Ini bukti nyata bahwa putra-putri Paer Lauq punya kapasitas, kualitas, dan daya saing di level strategis. Kita patut bangga,” tuturnya optimistis.
Dari perspektif adat, Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak (MAS), Dr. HL Sajim Sastrawan, S.H., M.H., mengingatkan bahwa HIMAPALA harus menjadi gerakan kultural yang konsisten menjaga marwah adat Sasak, memperkuat identitas daerah, serta merawat kohesi sosial di tengah derasnya arus modernisasi.
Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Plh Sekda NTB, HL Moh. Faozal mewakili Gubernur NTB, menegaskan bahwa HIMAPALA merupakan modal sosial yang sangat strategis bagi pembangunan daerah.

Pemprov NTB membuka ruang sinergi seluas-luasnya dengan organisasi masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan warga, penguatan adat, dan pembangunan berkelanjutan seperti HIMAPALA.
Deklarasi HIMAPALA di Pantai Kura-Kura ini menjadi tonggak penting bagi masyarakat Paer Lauq. Sebuah komitmen kolektif telah diteguhkan: bahwa kemajuan Paer Lauq harus berakar pada jati diri, pembangunan mesti berjalan seiring adat, dan kekuatan lokal—baik budaya, manusia, maupun solidaritas—adalah fondasi utama menuju masa depan Paer Lauq yang lebih maju, inklusif, dan bermartabat.(Sid)

















