BIMA, LOMBOKTODAY.ID – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) terus mengakselerasi penanganan stunting dengan pendekatan yang lebih humanis dan berbasis data.
Pada Selasa (3/3/2026), Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, turun langsung ke Desa Nggembe, Kabupaten Bima, memastikan intervensi benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan.
Didampingi Bupati Bima, Ady Mahyudi, serta Ketua TP-PKK NTB, Sinta Agathia Iqbal, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial.
Gubernur Iqbal dan rombongan mendatangi langsung rumah balita terdampak stunting dan anak yang mengalami diare, mendengar kondisi riil keluarga, sekaligus memverifikasi efektivitas program yang telah berjalan.
“Penanganan stunting harus tepat sasaran. Karena itu kami turun langsung melihat kondisi anak-anak dan keluarga, agar intervensi yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Gubernur Iqbal.
Di Desa Nggembe tercatat 12 anak menjadi sasaran penanganan stunting. Dalam kunjungan tersebut, dua balita—Zakir (16 bulan) dan Jafir (12 bulan)—dikunjungi secara langsung. Keduanya juga menjadi bagian dari program imunisasi campak (URI) melalui fasilitas layanan kesehatan setempat.
Sebagai langkah preventif, dilakukan pula pemberian imunisasi simbolis kepada anak-anak PAUD Meci Angi. Langkah ini menegaskan pentingnya penguatan layanan kesehatan dasar sejak usia dini, sejalan dengan upaya membangun generasi sehat dan produktif di masa depan.
Gubernur Iqbal juga menyerahkan paket Pemberian Nutrisi Tambahan (PNT) berupa biskuit dari Dinas Kesehatan NTB, serta memastikan dukungan layanan dari Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) dan Puskesmas setempat terus berjalan optimal. Bantuan ini diharapkan mempercepat pemulihan kondisi anak sekaligus memperkuat pendampingan keluarga secara berkelanjutan.
Dalam keterangannya, Gubernur Iqbal menekankan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kurang gizi. Faktor sanitasi, kondisi hunian, akses air bersih, hingga penyakit penyerta turut menjadi determinan yang harus ditangani secara simultan.
“Penanganan stunting tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Penyebabnya beragam. Karena itu pendekatannya harus komprehensif dan terintegrasi,” tegasnya.
Sinergi lintas sektor dan lintas pemerintahan menjadi kunci. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten membagi peran sesuai kewenangan masing-masing, memastikan setiap program berjalan efektif dan terukur.
“Kita bergandengan tangan dengan Kabupaten. Semua sektor harus bergerak bersama agar target penurunan stunting 2026 dapat tercapai,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut menunjukkan hasil signifikan. Angka stunting di Kabupaten Bima berhasil ditekan dari 26 persen menjadi 12 persen. Di tingkat provinsi, prevalensi stunting NTB juga turun menjadi 13 persen.
Capaian ini menjadi bukti bahwa kerja kolektif—mulai dari sektor kesehatan, perumahan, sanitasi, hingga dukungan sosial kemasyarakatan—mampu menghadirkan perubahan nyata.
Pemprov NTB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dan intervensi terintegrasi, memastikan setiap anak NTB mendapatkan hak tumbuh kembang yang optimal.
Di tengah tantangan global dan dinamika zaman, investasi pada kesehatan anak bukan hanya soal hari ini, melainkan tentang menyiapkan generasi masa depan yang lebih tangguh, cerdas, dan berdaya saing.(ltn)

















