Motor di Depan Belum Tentu Tahu Jalan Aman, Jangan Asal Ikuti Gerakannya

- Jurnalis

Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam berkendara, kendaraan yang berada di depan sering kali menjadi acuan bagi pengendara di belakang. Namun, mengikuti setiap manuver kendaraan di depan tanpa mengetahui alasan di baliknya dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

Dalam berkendara, kendaraan yang berada di depan sering kali menjadi acuan bagi pengendara di belakang. Namun, mengikuti setiap manuver kendaraan di depan tanpa mengetahui alasan di baliknya dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Jangan buru-buru mengikuti motor di depan ketika tiba-tiba mengerem, berpindah jalur, atau menghindari sesuatu. Manuver yang terlihat aman bagi pengendara lain belum tentu aman untuk diikuti. Bisa jadi, motor tersebut sedang menghindari lubang, pasir, genangan air, jalan rusak, atau kendaraan yang muncul dari arah lain.

Kebiasaan “ikut saja” tanpa lebih dulu membaca kondisi jalan justru dapat menjadi jebakan bagi pengendara. Karena itu, pengendara sepeda motor perlu membangun kebiasaan untuk mengambil keputusan berdasarkan situasi yang terlihat secara langsung, bukan semata-mata meniru gerakan kendaraan di depan.

Marketing Sub Dept Head Astra Motor NTB, Yehezkiel Felix, mengingatkan pengendara agar tidak menjadikan kendaraan di depan sebagai satu-satunya acuan ketika berkendara.

“Pengendara perlu memahami bahwa setiap manuver kendaraan di depan memiliki alasan yang belum tentu kita ketahui. Jangan langsung mengikuti gerakannya. Berikan waktu untuk melihat kondisi jalan dan pastikan keputusan yang diambil memang aman,” ujar Yehezkiel Felix.

Menurut Yehezkiel, salah satu kunci penting untuk menghindari risiko tersebut adalah menjaga jarak aman. Jarak yang cukup tidak hanya membuat perjalanan lebih nyaman, tetapi juga memberikan ruang dan waktu bagi pengendara untuk merespons ketika situasi berubah secara tiba-tiba.

Ketika motor di depan melakukan pengereman mendadak, misalnya, pengendara yang terlalu dekat akan memiliki waktu respons yang lebih sempit. Kondisi tersebut dapat membuat pengendara panik dan mengambil keputusan secara terburu-buru.

Baca Juga :  Gubernur Iqbal dan Ketua TP PKK NTB Tinjau Posyandu hingga Rumah Balita Stunting di Mataram

Sebaliknya, dengan jarak yang memadai, pengendara dapat mengurangi kecepatan secara bertahap, mengamati situasi, kemudian menentukan langkah berikutnya dengan lebih terkendali.

Safety Riding Instructor Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya, menegaskan bahwa kendaraan di depan memang dapat menjadi referensi dalam berkendara, tetapi bukan berarti setiap gerakannya harus diikuti.

“Kendaraan di depan dapat menjadi referensi, tetapi bukan komando. Ketika kendaraan di depan berpindah jalur atau mengerem, kita perlu melihat terlebih dahulu apa yang terjadi di depan sebelum menentukan tindakan,” jelas Satria.

Pesan tersebut menjadi penting, terutama ketika pengendara berada di jalan yang ramai. Dalam situasi seperti itu, perubahan posisi kendaraan dapat terjadi dalam hitungan detik. Pengendara yang hanya terpaku pada motor di depannya berisiko kehilangan kesempatan untuk membaca bahaya yang sebenarnya berada di jalurnya sendiri.

Misalnya, motor di depan tiba-tiba bergeser ke kanan. Pengendara di belakang mungkin mengira kendaraan tersebut hendak menyalip atau sekadar berpindah jalur. Padahal, bisa saja terdapat lubang atau genangan air di sisi kiri jalan.

Jika pengendara langsung mengikuti gerakan tersebut tanpa mengecek kondisi sekitar, keputusan yang semula dianggap aman justru dapat menciptakan risiko baru.

Hal yang sama berlaku ketika kendaraan di depan tiba-tiba mengerem. Jangan langsung panik atau melakukan manuver ekstrem. Kurangi kecepatan secara terkendali, perhatikan kondisi di depan, cek situasi sekitar, dan pastikan setiap perubahan arah dilakukan setelah kondisi benar-benar aman.

Baca Juga :  Siswa SMAIT Anak Sholeh Mataram Raih Juara 2 Olimpiade Sains di Islamic Youth Festival

Keselamatan berkendara pada dasarnya dimulai dari kemampuan pengendara membaca situasi secara mandiri. Pengendara perlu memperhatikan permukaan jalan, kendaraan dari berbagai arah, kondisi lalu lintas, hingga potensi hambatan yang mungkin muncul secara tiba-tiba.

Dengan kata lain, fokus tidak boleh hanya tertuju pada lampu belakang kendaraan di depan.

Yehezkiel menambahkan, keselamatan berkendara tidak selalu membutuhkan langkah rumit. Justru, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian penting dalam mencegah kecelakaan.

“Jangan mudah terpancing mengikuti manuver kendaraan lain. Tetap fokus, jaga jarak, dan pastikan setiap keputusan berkendara dilakukan berdasarkan kondisi yang kita lihat sendiri. Dengan begitu, kita bisa Jago Cari Aman Biar Happy dalam setiap perjalanan,” tutupnya.

Melalui semangat “Jago Cari Aman Biar Happy”, Astra Motor NTB mengajak masyarakat menjadikan keselamatan sebagai bagian dari gaya berkendara sehari-hari.

Sebab, berkendara aman bukan sekadar bagaimana bisa tiba di tujuan secepat mungkin. Lebih penting dari itu adalah bagaimana perjalanan berlangsung dengan tenang, nyaman, dan tanpa menciptakan risiko bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

Jadi, ketika motor di depan tiba-tiba berpindah jalur, mengerem, atau menghindari sesuatu, jangan langsung ikut bergerak.

Lihat dulu. Pahami situasinya. Jaga jarak. Baru ambil keputusan. Karena kendaraan di depan adalah referensi, bukan komando. Jago Cari Aman Biar Happy!.(arz)

Berita Terkait

Jangan Sampai Tubuh Berkendara, tapi Pikiran Tertinggal: Waspadai Bahaya Autopilot Riding
Pemprov NTB Finalisasi Dashboard Eksekutif, Data Jadi Senjata Baru Pengambilan Kebijakan
Gubernur Iqbal Titip Disiplin kepada Paskibra NTB, Sekaligus Tegaskan Solidaritas untuk NTT
Perubahan APBD NTB 2026 Tembus Rp6 Triliun: Fokus Tekan Kemiskinan, Ketahanan Pangan dan Pariwisata
Menyeberangi Laut, Tim Solidaritas NTB Bergerak Bantu Korban Gempa M7,7 di NTT
Remisi Bukan Sekadar Potongan Hukuman, Ini Pesan Bupati Lotim untuk Narapidana
Warga Sekaroh Masih Krisis Air Bersih, Polres Lombok Timur Turun Langsung Salurkan Bantuan
Lima Penumpang KMP Putri Yasmin Masih Hilang, Tim SAR Perluas Pencarian ke Barat Daya Selat Lombok

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:01 WIB

Jangan Sampai Tubuh Berkendara, tapi Pikiran Tertinggal: Waspadai Bahaya Autopilot Riding

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Pemprov NTB Finalisasi Dashboard Eksekutif, Data Jadi Senjata Baru Pengambilan Kebijakan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 07:09 WIB

Gubernur Iqbal Titip Disiplin kepada Paskibra NTB, Sekaligus Tegaskan Solidaritas untuk NTT

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:01 WIB

Perubahan APBD NTB 2026 Tembus Rp6 Triliun: Fokus Tekan Kemiskinan, Ketahanan Pangan dan Pariwisata

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:03 WIB

Menyeberangi Laut, Tim Solidaritas NTB Bergerak Bantu Korban Gempa M7,7 di NTT

Berita Terbaru