LOBAR, LOMBOKTODAY.ID – Tugas mengibarkan Merah Putih boleh berakhir, tetapi nilai disiplin yang lahir dari proses panjang menjadi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tidak boleh ikut selesai.
Pesan itu disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal saat menghadiri acara pembubaran panitia dan anggota Paskibra Provinsi NTB di kediaman Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) NTB, di Desa Saribaye, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, pada Selasa malam (18/8/2026).
Di hadapan para anggota dan purna-Paskibra, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa pengalaman selama menjalankan tugas pada rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia harus menjadi bekal untuk menjalani kehidupan setelahnya.
Menurut Gubernur Iqbal, Paskibra bukan sekadar tentang baris-berbaris, ketepatan gerakan, atau menjalankan tugas dalam sebuah upacara kenegaraan.
Lebih jauh, proses pembinaan yang dijalani para anggota Paskibra merupakan bagian dari pembentukan karakter, mental, tanggung jawab, dan kedisiplinan.
“Musuh terbesar untuk kita bisa maju adalah diri kita sendiri. Disiplin yang dipelajari selama pelatihan bertujuan untuk mengalahkan rasa malas dan ego pribadi. Jangan sampai kedisiplinan itu berhenti di PBB saja, melainkan harus dibawa sepanjang hidup,” tegas Gubernur Iqbal.
Dalam suasana kekeluargaan, Gubernur Iqbal juga membuka ruang dialog dengan para purna-Paskibra. Ia mendorong generasi muda NTB untuk tidak takut mencoba sesuatu yang baru, termasuk menghadapi kemungkinan gagal.
Bagi Gubernur Iqbal, masa muda merupakan fase penting untuk mencari pengalaman, mengembangkan keberanian, sekaligus belajar dari berbagai proses kehidupan.
Kesalahan dan kegagalan, kata dia, tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti melangkah selama setiap usaha dilakukan dengan niat baik dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Ia juga mengingatkan para pemuda agar tidak melupakan peran keluarga, terutama orang tua, dalam perjalanan menuju keberhasilan.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari pertemuan yang dihadiri Ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj. Sinta Agathia Iqbal, sejumlah pejabat Pemprov NTB, tokoh masyarakat, serta anggota Paskibra yang telah menuntaskan tugasnya.
Tidak hanya berbicara mengenai disiplin dan masa depan generasi muda, Gubernur Iqbal juga menyampaikan perkembangan penanganan bencana kemanusiaan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi NTB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan tim gabungan bergerak kurang dari 24 jam setelah instruksi penanganan dikeluarkan.
Respons tersebut diwujudkan melalui pengiriman bantuan logistik dan tenaga kesehatan ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Manggarai.
NTB mengerahkan 31 kendaraan operasional dalam misi kemanusiaan tersebut. Armada itu terdiri atas 14 truk yang membawa bahan pangan dan beras serta tujuh unit ambulans, termasuk kendaraan dengan kemampuan penggerak empat roda untuk menembus medan yang sulit dijangkau.
Selain dukungan logistik dan kendaraan operasional, sebanyak 82 tenaga kesehatan juga diterjunkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah terdampak.
Gubernur Iqbal menyebut NTB menjadi daerah pertama di luar NTT yang berhasil mendaratkan bantuan logistik dan tim medis secara langsung ke lokasi terdampak.
Menurutnya, langkah tersebut bukan semata-mata bentuk kepedulian terhadap masyarakat NTT. Lebih dari itu, respons cepat tersebut menjadi momentum untuk menguji kesiapsiagaan pemerintah daerah ketika menghadapi situasi darurat dan bencana.
“Ketika ada saudara kita di NTT yang mengalami kesulitan, penderitaannya juga menjadi penderitaan kita bersama di NTB. Solidaritas kemanusiaan ini adalah fondasi persaudaraan kita,” ujarnya.
Gubernur Iqbal menegaskan bahwa hubungan Bali, NTB, dan NTT tidak hanya dibangun oleh kedekatan geografis, tetapi juga memiliki ikatan persaudaraan yang kuat.
Karena itu, kerja sama antardaerah dinilai penting untuk terus diperkuat, terutama ketika masyarakat menghadapi persoalan kemanusiaan dan bencana.
Semangat tersebut sekaligus menjadi pesan yang relevan bagi para generasi muda yang baru saja menyelesaikan tugas sebagai Paskibra. Menurut Gubernur Iqbal, disiplin, keberanian, kepedulian, dan solidaritas tidak boleh berhenti ketika seragam Paskibra dilepas.
Nilai-nilai itu justru harus dibawa ke tengah masyarakat dan menjadi bagian dari karakter generasi muda NTB.
Acara pembubaran Paskibra Provinsi NTB kemudian berlangsung dalam suasana hangat. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, ramah tamah, makan malam bersama, serta foto bersama antara jajaran pemerintah daerah dan para anggota Paskibra.
Momentum tersebut menandai berakhirnya tugas resmi para Paskibra dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Namun, pesan Gubernur Iqbal menegaskan satu hal: tugas boleh selesai, tetapi disiplin, keberanian, pengabdian, dan solidaritas kemanusiaan harus terus berjalan.(arz)

















