Oleh : Lalu M. Kamil Ab │
DALAM pekan terakhir ini Kabupaten Lombok Timur (Lotim) diguncang gelombang aksi unjuk rasa dari sejumlah elemen mahasiswa. Tentu yang mendasar adalah mengkritisi kebijakan Bupati Lombok Timur (Lotim), H. Haerul Warisin.
Kendati demikian, orang nomor satu di Bumi Patuh Karya ini tak lalu bersikap anti kritik atau alergi dengan demonstrasi. Bahkan Bupati Iron mengajak Wakil Bupati (Wabup) Lotim, HM Edwin Hadiwijaya dan Sekda Lotim, HM Juaini Taofik mendampingi dirinya membuka pintu pendopo selebar-lebarnya bagi mahasiswa untuk menguras isi perut (aspirasi).
Pertemuan para petinggi Lotim dengan perwakilan elemen mahasiswa itu berlangsung pada Jumat (23/1/2026) dalam suasana hangat. Pertemuan tersebut menjadi ajang adu gagasan yang konstruktif antara pemerintah dan kaum intelektual muda.
Di hadapan puluhan mahasiswa, Bupati Iron menyampaikan, Pemerintah Daerah (Pemda) Lotim sangat menghargai fungsi kontrol sosial yang dijalankan oleh mahasiswa. Ia menekankan bahwa kritik adalah elemen penting dalam menjaga roda pemerintahan tetap pada jalurnya.
Karenanya, Bupati Iron mengajak mahasiswa untuk lebih mengedepankan jalur audiensi dalam menyampaikan ide-ide segar demi kemajuan daerah. Ia berharap komunikasi yang santun tetap menjadi ciri khas pergerakan mahasiswa di Lotim.
“Kami menghargai aspirasi yang disampaikan dengan cara yang santun dan beradab. Pemerintah siap melakukan audiensi jika ada ide dan gagasan untuk kemajuan Lotim, misalnya membedah sejarah HUT Lotim,” ujar Bupati Iron, di hadapan perwakilan organisasi mahasiswa.
Terkait tuntutan mahasiswa mengenai pencopotan Kepala Dinas Pariwisata dan Staf Khusus Bidang Pariwisata, Bupati Iron memberikan jawaban yang normatif namun tegas. Ia memastikan bahwa aspirasi tersebut ditampung, namun eksekusinya harus berlandaskan hukum.
“Prosesnya akan dilakukan dengan tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kami tidak memiliki kepentingan selain ingin memajukan Kabupaten Lotim ke arah yang lebih baik,” tegasnya.
Mengenai polemik pengelolaan kawasan wisata Sunrise Land Lombok (SLL), Bupati Iron menegaskan bahwa perubahan pengelola merupakan murni kebijakan strategis pemerintah untuk peningkatan kinerja. Ia justru menantang mahasiswa untuk turut serta mengawasi kinerja pengelola baru.
“Kami persilakan semua pihak untuk mengawasi. Hasilnya nanti bisa kita evaluasi bersama untuk kebaikan pembangunan pariwisata kita,” jelas Bupati Iron.
Dengan sikap humanis, Bupati Iron merespons laporan adanya mahasiswa yang terluka saat aksi unjuk rasa sebelumnya, Bupati Iron langsung memberikan instruksi khusus kepada Sekda Juaini untuk menjamin penanganan medis mereka.
“Untuk yang terluka dalam aksi kemarin, saya sudah direktif ke Sekda agar segera diurus. Kesehatan dan keselamatan mereka tetap menjadi prioritas kami,” ujarnya.
Pertemuan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk menjaga kondusivitas daerah serta membangun sinergi antara kebijakan pemerintah dan pengawasan masyarakat guna mewujudkan Lotim yang lebih maju dan terbuka.(*)

















