Oleh: Farid Abdul Basid │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
GROUP chat WhatsApp (WA) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi sehari-hari. Dalam lingkungan akademik, profesional, maupun sosial, berbagai diskusi dan pengambilan keputusan kini banyak dilakukan melalui ruang digital ini. Meski menawarkan kecepatan dan kemudahan, komunikasi dalam group chat kerap menghadapi persoalan mendasar, yaitu kurangnya pemahaman terhadap konteks.
Dalam kajian komunikasi, konteks berperan penting dalam membentuk makna sebuah pesan. Pesan tidak hanya dipahami dari kata-kata yang digunakan, tetapi juga dari situasi, waktu, hubungan antaranggota, serta kondisi emosional masing-masing. Berbeda dengan komunikasi tatap muka, group chat WhatsApp menghilangkan unsur nonverbal seperti intonasi suara dan ekspresi wajah, sehingga pesan teks menjadi lebih mudah disalahartikan.
Masalah konteks ini sering muncul dalam pesan singkat dan langsung. Kalimat sederhana yang dimaksudkan sebagai pengingat atau permintaan biasa dapat ditafsirkan sebagai tekanan atau sikap tidak sabar. Selain itu, sifat komunikasi WhatsApp yang asinkron—tidak menuntut respons pada waktu yang sama—sering memicu kesalahpahaman, terutama ketika keterlambatan membalas pesan dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian.
Konteks juga berkaitan erat dengan dinamika sosial dan hierarki dalam group chat. Bahasa yang digunakan dalam grup pertemanan tentu berbeda dengan grup yang melibatkan dosen, atasan, atau pihak berwenang. Ketidaksadaran terhadap konteks relasi ini dapat menimbulkan ketegangan dan rasa tidak nyaman, meskipun tidak ada niat buruk dari pengirim pesan.
Pada akhirnya, group chat WhatsApp bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang sosial digital yang menuntut kepekaan dalam berbahasa. Memahami konteks—baik situasional, sosial, maupun personal—menjadi kunci untuk menghindari salah paham dan menjaga kualitas interaksi. Dengan kesadaran konteks dan sikap saling memahami, komunikasi digital dapat berlangsung lebih efektif, sehat, dan bermakna.(*)

















