Oleh: Asipa Nurhayati Q.H │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2026
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
DALAM kehidupan sehari-hari, manusia dan mahluk hidup lainnya menjadikan bahasa sebagai alat penting dalam berkomunikasi dan menyampaikan prasaan. Emosi yang berupa rasa marah, kecewa, senang, sedih ataupun rasa takut sering kali di ungkapkan melalui kata-kata. Prasaan atau emosi yang di rasakan seseorang bisa mempengaruhi cara berbicara, pemilihan kata dan penyusunan kalimat yang di gunakan dapat mencerminkan kondisi emosional yang di alaminya. Oleh karenanya, bahasa dan emosi memiliki hubungan yang sangat erat.
Dalam kajian Psycholinguistik, bahasa tidak hanya sekedar bunyi dan kata saja, tetapi juga sebagai hasil dari proses mental manusia. Yang dimana kita ketahui, emosi merupakan bagian dari proses mental yang dapat mempengaruhi produksi dan pemahaman bahasa seseorang. Ketika emosi seseorang berubah-ubah maka cara berbahasanya ikut berpengaruh baik dari segi Intonasi, pemilihan kata maupun struktur kalimat yang akan di gunakan. Dan ketika seseorang dalam keadaan emosi yang berubah-ubah juga, pememahamannya sering kali menjadi keliru.
Dengan demikian, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan peran bahasa dalam mengekspresikan emosi dari perspektif psycholinguistik. Diharapkan setelah memahami hubungan antara bahasa dan emosi, pembaca dapat lebih paham bagaimana proses mental dapat sangat berpengaruh terhadap penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia membutuhkan bahasa sebagai sarana dalam mengekspresikan emosi yang di rasakannya. Melalui bahasa, seseorang bisa memberitahukan atau mengekspresikan apa yang di rasakan kepada orang lain, baik ketika sedang marah,sedih atau sedang dalam suasana senang. Misalnya ketika seseorang merasa senang maka kata-kata yang di gunakan seringkali bersifat positif dengan nada yang terdengar lembut. Namun berbeda halnya ketika seseorang dalam keadaan marah maka kata-katanya cenderung negatif dan terdengar kasar.
Pemilihan kata yang di gunakan juga dapat menunjukkan jenis emosi tertentu. Kata-kata seperti senang, bahagia atau bersyukur sering digunakan untuk mengekspresikan emosi-emosi positif. Sedangkan kata-kata seperti marah, sedih dan kecewa sering di gunakan untuk mengekspresikan emosi-emosi yang negatif. Dengan begitu bahasa menjadi suatu media yang penting untuk mengekspresikan atau mengungkapkan perasaan yang ada dalam diri seseorang.
Dengan adanya bahasa, emosi yang bersifat abstrak dapat di pahami dengan mudahnya. Jika bahasa tidak ada, emosi yang ada pada seseorang akan sulit di sampaikan dan hanya akan di rasakan secara internal tanpa bisa di fahami.
Dalam perspektif psycholinguistic, emosi memiliki hubungan erat dengan prose mental yang terjadi di dalam otak manusia. Ketika seseorang merasakan emosi tertentu, kondisi mentalnya akan mempengaruhi cara produksi bahasa. Misalnya, ketika sedang merasa gugup atau cemas, seseorang akan kesulitan menyampaikan apa yang ingin di bicarakan dan sering kali melakukan kesalahan dalam berbahasa.
Emosi yang di alami, mempengaruhi intonasi serta kecepatan dalam berbahasa. Orang yang sedang marah seringkali berbicara cepat dengan intonasi yang tinggi. Sedangkan orang yang merasa sedih berbicara dengan pelan dengan intonasi rendah. Itu menunujukan bahwa emosi yang di rasakan dapat mempengaruhi proses pengolahan bahasa di dalam otak.
Dengan begitu, bahasa dan emosi saling mempengaruhi satu sama lain melalui proses mental. Psycholingustik membantu menjelaskan bagaimana emosi yang merupakan bagian dari kondisi psikologis manusia dapat mempengaruhi cara seseorang mengunakan bahasa dalam situasi tertentu.
Dengan pembahasan di atas, dapat di simpulkan bahwa bahasa memeliki peran yang sangat penting dalam mengekpresikan emosi yang di terjadi. Emosi dapat mempengaruhi cara bicara, intonasi dan pemilihan kata yang di gunakan. Dalam kajian Psycholinguistik, hubungan bahasa dan emosi dapat dipahami sebagai hasil dari proses mental yang di alami di dalam otak. Dengan begitu, memahami peran bahasa dalam mengekspresikan emosi dapat membantu memahami cara manusia berkomunikasi secara mendalam.(*)

















