JAKARTA, LOMBOKTODAY.ID – Visi pembangunan nasional yang tertuang dalam program Asta Cita terus menjadi peta jalan menuju Indonesia yang lebih sejahtera dan berkeadilan.
Melalui berbagai program strategis, pemerintah berupaya memastikan pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan ekonomi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama yang berada di daerah.
Salah satu fokus utama dalam Asta Cita adalah hilirisasi pertambangan serta penguatan ekonomi berbasis desa. Kedua agenda tersebut tercermin dalam poin kelima dan keenam Asta Cita yang menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah sumber daya alam sekaligus membangun kekuatan ekonomi nasional dari tingkat desa.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program, seperti Koperasi Desa Merah Putih, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga perluasan akses pengelolaan pertambangan bagi masyarakat melalui penerbitan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di berbagai daerah.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah mendorong kolaborasi antara investor lokal dan masyarakat sekitar wilayah tambang. Investor tidak hanya berperan dalam pengembangan usaha, tetapi juga memberikan edukasi mengenai praktik pertambangan yang baik, aman, dan berkelanjutan.
Konsep inilah yang dinilai sebagai bentuk hilirisasi sederhana namun berdampak nyata, yakni transfer pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat agar mampu mengelola potensi sumber daya alam secara optimal serta menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
Presiden Forum Kebangsaan, Samianto, menilai kehadiran investor lokal memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi di daerah.
“Keberadaan investor lokal memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat. UMKM dan koperasi memiliki peluang untuk naik kelas, sementara warga di sekitar tambang turut merasakan manfaat ekonomi yang lebih luas,” ujar Samianto dalam keterangan resminya, di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, implementasi Asta Cita mulai menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Selain membuka lapangan pekerjaan baru, kebijakan tersebut juga memperluas kesempatan masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengelolaan sumber daya alam di daerahnya sendiri.
Salah satu daerah yang dinilai berhasil menjalankan program tersebut adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Daerah ini disebut menjadi salah satu contoh pengembangan ekonomi berbasis pertambangan yang melibatkan koperasi dan masyarakat sekitar melalui pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU).
Di bawah kepemimpinan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, berbagai program pembangunan terus didorong untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di kalangan warga, ia dikenal dengan sapaan “Mamiq Iqbal”, sebuah panggilan yang mencerminkan kedekatan budaya dan hubungan yang akrab antara pemimpin dengan masyarakatnya.
Selain sektor pertambangan, NTB juga terus mengembangkan potensi pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran berbagai agenda internasional telah memperkuat posisi NTB di tingkat global.
Pulau Lombok, misalnya, telah menjadi tuan rumah berbagai ajang balap dunia di Sirkuit Mandalika. Sementara itu, Sumbawa juga menjadi lokasi penyelenggaraan sejumlah event olahraga otomotif internasional. Tak hanya itu, olahraga selancar dan paralayang berskala dunia juga rutin digelar di wilayah tersebut.
Didukung infrastruktur yang semakin berkembang dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, NTB dinilai memiliki potensi besar untuk bersaing sebagai salah satu daerah unggulan Indonesia di tingkat global.
Melalui penguatan hilirisasi pertambangan, pemberdayaan koperasi, serta pembangunan ekonomi berbasis desa, semangat Asta Cita diharapkan mampu menghadirkan pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan oleh segelintir pihak, tetapi benar-benar hadir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.(Sid)

















