Negeri Jiran dan Magnet Pekerja Indonesia

- Jurnalis

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lalu Niqman Zahir.

Lalu Niqman Zahir.

Oleh: Lalu Niqman Zahir |

SETIAP kali muncul berita tentang pekerja migran Indonesia di Malaysia, baik keberhasilan ekonomi, persoalan perlindungan, maupun kasus keberangkatan tanpa prosedur, pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah: mengapa daerah asal mereka sering berulang? Mengapa begitu banyak berasal dari NTB, NTT, Madura di Jawa Timur, Sumatera Utara, Aceh, dan Jawa Barat?
Jawaban paling cepat biasanya adalah karena daerah-daerah itu miskin.

Tetapi penjelasan itu terlalu sederhana. Kalau kemiskinan adalah satu-satunya penyebab, maka daerah termiskin di Indonesia seharusnya selalu menjadi pengirim pekerja migran terbesar. Faktanya tidak sesederhana itu. Ada daerah yang relatif tidak termasuk termiskin tetapi tetap menjadi kantong utama pekerja migran. Sebaliknya, ada daerah yang tingkat kesejahteraannya rendah namun tidak menghasilkan arus migrasi internasional sebesar wilayah-wilayah tersebut. Artinya, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar soal ekonomi.

Fenomena migrasi pekerja Indonesia ke Malaysia sesungguhnya memperlihatkan bagaimana sejarah, jaringan sosial, budaya merantau, dan struktur ekonomi bekerja secara bersamaan membentuk keputusan jutaan orang.

Migrasi Bukan Keputusan Individu, tetapi Strategi Keluarga

Dalam banyak desa pengirim pekerja migran, keputusan berangkat ke Malaysia jarang diambil sendiri. Keputusan untuk berangkat sering kali adalah keputusan keluarga.

Satu anak berangkat agar ada pemasukan rutin. Uang dikirim untuk memperbaiki rumah, membeli sawah, membangun usaha kecil, atau membiayai sekolah adik.

Di banyak wilayah pedesaan, migrasi bukan lagi pilihan terakhir ketika ekonomi gagal. Migrasi justru menjadi strategi utama mempercepat mobilitas ekonomi.

Bagi sebagian keluarga, bekerja lima tahun di luar negeri dianggap lebih realistis dibanding menunggu peluang kerja formal yang belum tentu tersedia.

Dalam logika seperti ini, migrasi tidak dipahami sebagai kegagalan pembangunan, tetapi sebagai instrumen pembangunan keluarga.

Mengapa Daerah yang Sama Terus Mengirim Orang?

Jawabannya terletak pada sesuatu yang sering tidak terlihat yakni jaringan migrasi.
Bayangkan seseorang dari sebuah desa di Lombok berhasil bekerja di Malaysia. Ia lalu mengajak saudara. Saudara itu mengajak tetangga. Tetangga membantu kerabat berikutnya.

Baca Juga :  Amanahkan Pilar AM Health, Astra Group Dukung Penurunan Angka Stunting di Mataram

Lama-kelamaan terbentuk jalur yang stabil:
ada tempat tinggal, ada informasi pekerjaan, ada akses transportasi, bahkan ada orang yang membantu pengurusan dokumen.
Akhirnya biaya dan risiko migrasi menjadi semakin kecil.
Pada titik tertentu, keputusan berangkat tidak lagi terasa seperti langkah besar. Ia berubah menjadi sesuatu yang normal.
Di sinilah muncul paradoks pembangunan: semakin banyak orang berhasil bermigrasi, semakin besar kemungkinan orang lain mengikuti. Akhirnya migrasi menghasilkan migrasi baru.

Malaysia Tidak Sekadar Menarik, Tetapi Membutuhkan

Kita juga sering melihat migrasi hanya dari sisi Indonesia saja. Padahal ada sisi lain yang sama pentingnya yakni Malaysia.

Ekonomi Malaysia selama puluhan tahun tumbuh dengan kebutuhan tenaga kerja yang tidak seluruhnya dapat dipenuhi tenaga kerja lokal. Sektor perkebunan, konstruksi, manufaktur, dan pekerjaan domestik membutuhkan pekerja dalam jumlah besar.

Banyak pekerjaan tersebut tidak cukup diminati penduduk lokal karena dianggap berat, kurang prestisius, atau upahnya tidak menarik dibanding sektor lain. Di sinilah pekerja migran masuk. Artinya, migrasi bukan hanya karena orang Indonesia ingin pergi, tetapi karena ada sistem ekonomi regional yang memang menyerap mereka.
Dalam bahasa sederhana: ada yang membutuhkan, ada yang menyediakan.

Mengapa Jalur Tidak Resmi Tetap Bertahan?

Pertanyaan berikutnya yang sering muncul: jika peluang kerja tersedia secara legal, mengapa jalur tidak resmi masih ada?
Lagi-lagi jawabannya tidak sesederhana “karena melanggar aturan”.
Bagi sebagian calon pekerja: proses resmi dianggap lama, biaya awal tinggi, persyaratan administrasi rumit, atau peluang kerja datang terlalu cepat untuk menunggu prosedur selesai.

Baca Juga :  Satu Meja, Banyak Rasa: The People’s Cafe Bawa Cita Rasa Daerah ke Pesta Rasa Nusantara

Ketika kebutuhan ekonomi mendesak, jaringan informal menjadi alternatif.
Ini tentu bukan pembenaran terhadap keberangkatan tidak sesuai prosedur. Tetapi memahami penyebabnya penting agar solusi yang dibuat tidak berhenti pada penindakan semata. Karena selama faktor pendorong tetap ada dan permintaan tenaga kerja tetap besar, jalur informal akan terus mencari bentuk baru. Yang perlu diubah bukan mobilitasnya, tetapi pilihannya.

Di sinilah perdebatan kebijakan sering salah arah. Tujuan pembangunan seharusnya bukan menghentikan orang pergi karena mobilitas manusia adalah hal normal. Justru yang perlu dibangun adalah kondisi di mana bekerja di luar negeri menjadi pilihan sadar, bukan satu-satunya jalan yang tersedia.

Kalau seseorang memilih bekerja di Malaysia karena ingin memperluas pengalaman dan pendapatan, itu adalah mobilitas ekonomi.

Tetapi jika seseorang merasa tidak punya alternatif selain pergi, maka persoalannya bukan migrasi, melainkan struktur kesempatan di daerah asal.

Karena itu solusi jangka panjang tidak cukup berupa pembatasan keberangkatan atau pengetatan dokumen. Justru yang lebih mendasar adalah menciptakan lapangan kerja lokal, memperkuat ekonomi pedesaan, memperluas akses pelatihan, menurunkan biaya migrasi resmi, dan memastikan uang hasil migrasi benar-benar berubah menjadi investasi produktif.

Indonesia selama ini sering melihat pekerja migran sebagai cerita keberangkatan. Padahal yang jauh lebih penting adalah cerita tentang pilihan. Selama pilihan itu belum benar-benar tersedia secara merata, maka sebagian desa di NTB, NTT, Madura, Aceh, Sumut, dan Jawa Barat kemungkinan akan tetap menjadi pintu yang terus terbuka menuju Malaysia.

Sehingga pertanyaannya bukan lagi mengapa mereka pergi, tapi apakah negara sudah menyediakan cukup alasan bagi mereka untuk tetap tinggal?.

Penulis adalah Deputi Bidang Administrasi Sekretariat Jenderal DPD RI, Peneliti Senior pada Geoeconomics Assesment Institute of Nusantara(GAIN).

Berita Terkait

Gubernur Iqbal Perintahkan APBD-P 2026 Tindak Lanjuti Arahan KPK
Bulan Maulid Nabi, Pemprov NTB Gelar GPM di RS Mandalika, Harga Pangan Lebih Terjangkau
Putri Victoria Dengar Kisah Petani Sajang, 450 Meter Irigasi Pulihkan Harapan Pascagempa Lombok
Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Astra Motor NTB Ajak Konsumen Touring Satu Hati dan Tebar Beragam Apresiasi
Pemprov NTB dan DPRD Sepakati Perubahan KUA-PPAS 2026, Belanja Daerah Tembus Rp6,52 Triliun
Bulan Maulid, Pemprov NTB Gelar Gerakan Pangan Murah di Rusunawa Montong Are, Ayam Dijual Rp37 Ribu per Kg
Honda ST125 Dax Tampil Beda dengan Warna Baru, Harga Rp84,5 Juta
New Honda NX500 Resmi Meluncur di Indonesia, Bawa Teknologi E-Clutch dan Harga Rp230 Juta

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 18:06 WIB

Bulan Maulid Nabi, Pemprov NTB Gelar GPM di RS Mandalika, Harga Pangan Lebih Terjangkau

Sabtu, 5 September 2026 - 17:09 WIB

Putri Victoria Dengar Kisah Petani Sajang, 450 Meter Irigasi Pulihkan Harapan Pascagempa Lombok

Sabtu, 5 September 2026 - 11:08 WIB

Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Astra Motor NTB Ajak Konsumen Touring Satu Hati dan Tebar Beragam Apresiasi

Jumat, 4 September 2026 - 23:30 WIB

Pemprov NTB dan DPRD Sepakati Perubahan KUA-PPAS 2026, Belanja Daerah Tembus Rp6,52 Triliun

Kamis, 3 September 2026 - 13:01 WIB

Bulan Maulid, Pemprov NTB Gelar Gerakan Pangan Murah di Rusunawa Montong Are, Ayam Dijual Rp37 Ribu per Kg

Berita Terbaru

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal saat rapat koordinasi bersama maskapai dan pemangku kepentingan penerbangan melalui konferensi daring dari Mataram, pada Selasa (8/9/2026).

Pariwisata Seni Budaya

Jelang MotoGP Mandalika 2026, NTB Desak Maskapai Tambah Penerbangan ke Lombok

Selasa, 8 Sep 2026 - 15:09 WIB