Hingga 25 Agustus, Tim Kesehatan NTB Sudah Layani 3.307 Warga Terdampak

- Jurnalis

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hingga 25 Agustus 2026 berada di tengah situasi pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT), Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memberikan 3.307 layanan kesehatan kepada warga terdampak.

Hingga 25 Agustus 2026 berada di tengah situasi pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT), Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memberikan 3.307 layanan kesehatan kepada warga terdampak.

MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Enam hari berada di tengah situasi pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT), Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memberikan 3.307 layanan kesehatan kepada warga terdampak.

Di tengah kebutuhan pengobatan yang masih tinggi, tim juga memperkuat surveilans penyakit, terutama terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berpotensi berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB).

Data hingga 25 Agustus 2026 itu merupakan bagian dari misi Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB yang digerakkan untuk membantu penanganan kesehatan masyarakat di tujuh kabupaten terdampak gempa.

Juru Bicara Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB sekaligus Ketua Tim Koordinator Solidaritas KR-BNN NTB, Ahsanul Halik, mengatakan tingginya jumlah layanan menunjukkan kebutuhan kesehatan masyarakat pascabencana masih cukup besar.

“Angka 3.307 layanan itu menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat di lapangan memang cukup besar. Karena itu, sejak awal respons yang kita bangun bukan hanya menempatkan tenaga kesehatan di satu titik, tetapi memperkuat pos pelayanan dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” kata Ahsanul Halik, di Mataram, Rabu (26/8/2026).

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 berdampak pada tujuh kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, Manggarai Barat, Nagekeo, dan Ngada.

Dampaknya cukup luas. Sebanyak 1.915.194 penduduk tercatat terdampak, dengan 83 orang meninggal dunia, 331 orang mengalami luka berat, dan 639 orang mengalami luka ringan.

Sementara itu, 43.686 warga mengungsi dan tersebar di 400 titik pengungsian. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap layanan kesehatan, obat-obatan, sanitasi, air bersih, hingga pengawasan penyakit menular menjadi bagian penting dari respons pascabencana.

Untuk memperkuat layanan di lapangan, NTB mengerahkan 89 relawan kesehatan dalam dua tahap pemberangkatan.

Sebanyak 53 relawan atau sekitar 60 persen diberangkatkan pada tahap pertama, kemudian 36 relawan atau 40 persen menyusul pada tahap kedua.

Komposisi tim didominasi 32 perawat dan 28 dokter. Mereka diperkuat enam apoteker, tiga tenaga administrasi kesehatan, tiga psikolog, dua epidemiolog, dua tenaga kesehatan lingkungan, seorang bidan, seorang analis, serta tenaga pendukung lainnya.

Salah satu titik pelayanan berada di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Dari wilayah tersebut, tim tidak hanya memberikan pelayanan di pos kesehatan, tetapi juga bergerak secara mobile untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang membutuhkan.

Baca Juga :  Peringati Hari Kebangkitan Nasional ke-117, Polres Loteng Tekankan Program Asta Cita

Jika dilihat dari perkembangan harian, kebutuhan pelayanan sempat melonjak tajam. Pada 20 Agustus, tim mencatat 134 layanan. Sehari kemudian meningkat menjadi 367 layanan.

Lonjakan tertinggi terjadi pada 22 Agustus, ketika jumlah pelayanan mencapai 1.340 layanan dalam sehari. Setelah itu, angka pelayanan berangsur turun menjadi 879 layanan pada 23 Agustus, 381 layanan pada 24 Agustus, dan 201 layanan pada 25 Agustus.

Secara kumulatif, total layanan hingga 25 Agustus mencapai 3.307.

Menurut Ahsanul Halik yang akrab disapa AKA, penurunan jumlah layanan harian tidak serta-merta menjadi tanda bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat telah berakhir.

“Puncaknya terjadi pada 22 Agustus. Setelah itu jumlah pelayanan mulai menurun, tetapi kami tidak boleh serta-merta menganggap situasi selesai. Pelayanan harus tetap berjalan, terutama untuk memastikan masyarakat yang masih membutuhkan bisa dijangkau dan perkembangan penyakit tetap terpantau,” ujarnya.

Dari ribuan layanan tersebut, myalgia atau keluhan nyeri otot menjadi diagnosis terbanyak dengan 751 kasus. Berikutnya dispepsia sebanyak 634 kasus, ISPA 364 kasus, nyeri 268 kasus, dan hipertensi 259 kasus.

Tim juga menangani berbagai keluhan lain, mulai dari pusing, diare, luka atau vulnus, hingga bronkitis.

Sepuluh jenis keluhan dan diagnosis terbanyak bahkan menyumbang sekitar 88 persen dari keseluruhan pelayanan. Angka ini menunjukkan beban layanan masih terkonsentrasi pada sejumlah masalah kesehatan utama yang muncul di tengah kondisi pascabencana.

Namun, perhatian tim tidak berhenti pada pengobatan pasien.

ISPA menjadi salah satu penyakit potensial KLB yang mendapat perhatian serius. Kasus ISPA tercatat 148 kasus pada 22 Agustus dan meningkat menjadi 156 kasus pada 23 Agustus. Setelah turun menjadi 23 kasus pada 24 Agustus, kasus kembali tercatat 37 pada 25 Agustus.

Kasus diare juga mengalami fluktuasi, dari 42 kasus pada 22 Agustus menjadi 34 kasus pada 23 Agustus, kemudian meningkat menjadi 41 kasus pada 24 Agustus sebelum turun menjadi dua kasus pada 25 Agustus.

Baca Juga :  Pemancing Tenggelam di Sungai Dodokan Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Resmi Ditutup

Sementara itu, pneumonia mencapai 30 kasus pada 24 Agustus dan masih tercatat 12 kasus pada 25 Agustus. Disentri juga menunjukkan kecenderungan meningkat pada akhir periode pengamatan.

Perkembangan tersebut mendorong tim memperkuat surveilans harian, deteksi dini, pemantauan kelompok rentan, serta pengawasan sanitasi, air bersih, dan lingkungan di kawasan pengungsian.

“Bagi kami, angka penyakit itu bukan sekadar catatan harian. Ketika ada peningkatan, tim harus melihat apa penyebab dan faktor risikonya di lapangan. Karena itu, pelayanan medis harus berjalan bersama dengan surveilans, pemantauan air bersih, sanitasi, dan kondisi masyarakat di pengungsian,” kata AKA.

Selain pelayanan di pos, tim melakukan layanan mobile untuk menjangkau masyarakat di luar titik pelayanan. Berdasarkan pemetaan di sekitar Desa Satar Padut, kelompok yang menjadi perhatian meliputi 37 balita usia 0–5 tahun, tujuh anak dan remaja usia 6–17 tahun, serta 152 penduduk usia 18–59 tahun.

Respons juga diperkuat melalui koordinasi dengan HEOC Provinsi serta Kabupaten/Kota, penguatan alur rujukan, hingga pelayanan kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Tim telah melakukan rujukan pasien dengan kasus obstetri ke Rumah Sakit Ruteng. Di sisi lain, pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah diperkuat melalui koordinasi dan integrasi bersama Tim Layanan Kesehatan Universitas Airlangga (UNAIR).

Sebagai pusat koordinasi, Tim Kesehatan NTB juga membentuk dan mengoperasikan Pos Induk Kesehatan di Puskesmas Dampek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.

Dari pos tersebut, respons diperluas melalui pelayanan mobile, distribusi logistik kesehatan dan obat-obatan, serta penguatan koordinasi dengan berbagai fasilitas dan pos kesehatan di wilayah terdampak.

AKA menegaskan, respons kesehatan NTB akan terus disesuaikan dengan dinamika kebutuhan masyarakat.

“Solidaritas kemanusiaan tidak cukup hanya hadir pada hari-hari pertama bencana. Yang lebih penting adalah memastikan respons terus mengikuti kebutuhan masyarakat. Karena itu, kita akan terus melihat perkembangan di lapangan, memperkuat koordinasi, dan memastikan masyarakat yang membutuhkan pelayanan tetap dapat dijangkau,” pungkasnya.(Sid)

Berita Terkait

Lombok Timur Kembali Juara 1 Jamsostek Award NTB, 30.108 Pekerja Berhasil Dilindungi
Pascakebakaran, Gubernur NTB: Jangan Sampai Sade Kehilangan Sade-nya
120 Bangunan Desa Adat Sade Ludes Terbakar, Sari Yuliati Serahkan Bantuan Rp200 Juta
Tak Terlihat Bukan Berarti Aman, Kenali Bahaya Blind Spot dan Terapkan 4T Saat Berkendara
Baru Tiba dari NTT, Gubernur NTB Langsung Terjun ke Tengah Kebakaran Sade
Solidaritas KR-BNN Menguat, Gubernur NTB dan Bali Turun Langsung Tinjau Dampak Gempa M7,7 di NTT
Jangan Sampai Tubuh Berkendara, tapi Pikiran Tertinggal: Waspadai Bahaya Autopilot Riding
Pemprov NTB Finalisasi Dashboard Eksekutif, Data Jadi Senjata Baru Pengambilan Kebijakan

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:04 WIB

Lombok Timur Kembali Juara 1 Jamsostek Award NTB, 30.108 Pekerja Berhasil Dilindungi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 14:07 WIB

Pascakebakaran, Gubernur NTB: Jangan Sampai Sade Kehilangan Sade-nya

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:06 WIB

Hingga 25 Agustus, Tim Kesehatan NTB Sudah Layani 3.307 Warga Terdampak

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:05 WIB

120 Bangunan Desa Adat Sade Ludes Terbakar, Sari Yuliati Serahkan Bantuan Rp200 Juta

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:07 WIB

Tak Terlihat Bukan Berarti Aman, Kenali Bahaya Blind Spot dan Terapkan 4T Saat Berkendara

Berita Terbaru

Suasana acara Jamsostek Award 2026 Tingkat Provinsi NTB yang digelar di Prime Park Hotel, Mataram, Rabu (26/8/2026).

Ekonomi & Bisnis

Jamsostek Award 2026, NTB Masih Punya PR Lindungi 470 Ribu Pekerja

Rabu, 26 Agu 2026 - 16:01 WIB