Pascakebakaran, Gubernur NTB: Jangan Sampai Sade Kehilangan Sade-nya

- Jurnalis

Rabu, 26 Agustus 2026 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal didampingi Ketua TP PKK Provinsi NTB, Sinta Agathia Iqbal dan Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri saat mengunjungi langsung Desa Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada Rabu (26/8/2026).

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal didampingi Ketua TP PKK Provinsi NTB, Sinta Agathia Iqbal dan Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri saat mengunjungi langsung Desa Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada Rabu (26/8/2026).

LOMBOK TENGAH, LOMBOKTODAY.ID – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal mengingatkan agar rekonstruksi Desa Adat Sade pascakebakaran tidak berhenti pada pembangunan kembali rumah-rumah warga.

Lebih dari itu, pemerintah diminta memastikan sejarah, arsitektur tradisional, tata ruang, dan kehidupan masyarakat Sasak tetap menjadi ruh kawasan adat tersebut.

Pesan itu disampaikan Gubernur Iqbal saat mengunjungi langsung Desa Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada Rabu (26/8/2026).

Didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Sinta Agathia Iqbal dan Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, Gubernur Iqbal meninjau kawasan yang terdampak kebakaran sekaligus berdialog dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, masyarakat adat, dan warga yang bergotong royong membersihkan sisa-sisa kebakaran.

Menurut Gubernur Iqbal, penanganan kebakaran di Sade tidak bisa disamakan dengan penanganan kebakaran pada kawasan permukiman biasa. Desa Adat Sade memiliki nilai sejarah dan budaya yang jauh lebih luas daripada sekadar bangunan fisik.

“Ini bukan sekadar kebakaran biasa. Ini kebakaran yang terjadi terhadap situs sejarah yang penuh budaya. Sehingga rekonstruksinya bukan membangun rumah layak huni, tetapi membangun kembali situs sejarah sedekat mungkin dengan bentuk aslinya,” tegas Gubernur Iqbal.

Karena itu, ia meminta pemerintah tidak terburu-buru menentukan desain pembangunan maupun skema pembiayaan.

Menurutnya, arah rekonstruksi harus terlebih dahulu dibicarakan dan disepakati bersama masyarakat adat sebagai pihak yang selama ini menjaga dan menjalankan kehidupan di Sade.

Gubernur Iqbal menegaskan masyarakat Sade tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan. Mereka harus menjadi subjek utama dalam proses pemulihan, mulai dari menyusun konsep hingga menentukan bentuk rekonstruksi.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Bongkar Impor Ilegal 49,85 Ton Kacang Tanah, Dokumen Tak Lengkap

“Yang punya desa ini adalah masyarakat, masyarakat adat yang ada di sini. Sehingga kita perlu mengajak mereka bicara dan memutuskan bersama apa yang harus kita lakukan,” ujarnya.

Dalam dialog bersama warga, muncul kesepahaman awal bahwa rekonstruksi Sade akan menggunakan pendekatan berbasis masyarakat.

Prinsip utamanya adalah mengembalikan kawasan sedekat mungkin dengan karakter aslinya, tetapi sekaligus meningkatkan aspek keselamatan dan mitigasi bencana.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan kembali tidak sekadar meniru bentuk rumah tradisional. Infrastruktur pendukung juga perlu diperbaiki agar kawasan lebih siap menghadapi risiko kebakaran di kemudian hari.

“Kita kembalikan sedekat mungkin dengan aslinya, tetapi dalam versi yang lebih baik. Kita harus memikirkan hidran, APAR, sistem sirkulasi dan akses, sehingga apabila terjadi kebakaran, penanganannya dapat dilakukan lebih cepat dan efektif,” jelasnya.

Pemerintah juga membuka kemungkinan penataan kawasan secara lebih komprehensif, termasuk pengaturan ruang hidup masyarakat di luar kawasan inti adat. Namun, Gubernur Iqbal menegaskan seluruh opsi tersebut masih sebatas pembahasan dan belum menjadi keputusan.

Setiap perubahan, kata dia, harus melalui proses dialog dengan masyarakat adat agar upaya memperbaiki kawasan tidak justru menghilangkan karakter yang selama ini menjadi daya tarik utama Sade.

Bagi Gubernur Iqbal, nilai Sade tidak semata terletak pada potensinya sebagai destinasi wisata. Kampung adat tersebut merupakan ruang hidup masyarakat Sasak sekaligus bagian dari kekayaan budaya NTB dan Indonesia.

Karena itu, ia meminta proses pemulihan tidak dikebut hanya demi mengejar agenda pariwisata atau berbagai kegiatan besar yang akan berlangsung di NTB.

Baca Juga :  Jadi Keynote Speaker, Ketua DPD RI Dorong Generasi Muda Wujudkan Visi, Resilience, dan Legacy Menuju Indonesia Emas 2045

Kecepatan memang diperlukan agar masyarakat segera kembali beraktivitas. Namun, pembangunan yang terlalu terburu-buru justru berisiko menghasilkan kawasan baru yang secara fisik berdiri, tetapi kehilangan identitas aslinya.

“Kesepakatannya kita tentukan dulu arahnya. Jangan terburu-buru membangun. Setelah arah rekonstruksinya jelas dan disepakati masyarakat, baru kita pikirkan bersama dari mana sumber pembiayaannya,” tegasnya.

Di sisi lain, Gubernur Iqbal meminta kawasan yang terdampak kebakaran untuk sementara diamankan. Masih terdapat material sisa kebakaran yang berpotensi membahayakan warga maupun relawan yang melakukan pembersihan.

Ia juga mengimbau agar bantuan dari masyarakat dan berbagai pihak disalurkan melalui posko serta mekanisme yang telah disiapkan. Langkah tersebut dinilai penting agar bantuan dapat dikelola secara tertib dan benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.

“Sade bukan lagi hanya milik warga yang tinggal di sini. Sade adalah milik NTB, bahkan bagian dari warisan Indonesia. Karena itu, wajar kalau semua orang memiliki rasa memiliki dan ingin ikut membantu,” katanya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, masyarakat adat, serta pihak terkait selanjutnya akan mematangkan konsep rekonstruksi sebelum masuk ke tahap pembangunan dan pembiayaan.

Bagi Gubernur Iqbal, membangun kembali Sade berarti memulihkan lebih dari sekadar rumah yang terbakar. Yang harus dikembalikan adalah ruang hidup, karakter kampung, dan warisan budaya yang telah membuat Sade memiliki tempat istimewa.

Sade harus bangkit. Namun ketika rumah-rumah dan kehidupan masyarakat kembali berdiri, identitas yang membuatnya dikenal sebagai Desa Adat Sade tidak boleh ikut terbakar. Jangan sampai Sade kembali berdiri, tetapi kehilangan Sade-nya.(Sid)

Berita Terkait

Jangan Sepelekan Sakit Kepala, Kenali Tanda Bahaya yang Bisa Mengancam Nyawa
NTB Satu Data Tembus 5 Besar Indonesia’s SDGs Action Awards 2026, Gubernur Iqbal Perkuat Pembangunan Berbasis Bukti
Honda BeAT Diklaim Irit hingga 60,6 Km/Liter, Begini Teknologi Pendukungnya
BPBD NTB Perkuat Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami, Simulasi Lintas Sektor Digelar
Fauzan Khalid Minta Rencana Penyaluran Gaji ASN Lewat Koperasi Desa Dikaji Ulang, Ini Alasannya
Astra Motor NTB Ingatkan Karyawan 4 Hal Wajib Dicek Sebelum Berkendara ke Tempat Kerja
Jelang Honda Bikers Day 2026, Bikers Lombok Panaskan Semangat Persaudaraan
Bid Dokkes Polda NTB Dampingi Jepang Ambil Sampel DNA Keluarga Korban Tsunami 2011

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 05:07 WIB

Jangan Sepelekan Sakit Kepala, Kenali Tanda Bahaya yang Bisa Mengancam Nyawa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:03 WIB

NTB Satu Data Tembus 5 Besar Indonesia’s SDGs Action Awards 2026, Gubernur Iqbal Perkuat Pembangunan Berbasis Bukti

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Honda BeAT Diklaim Irit hingga 60,6 Km/Liter, Begini Teknologi Pendukungnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:06 WIB

BPBD NTB Perkuat Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami, Simulasi Lintas Sektor Digelar

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:03 WIB

Fauzan Khalid Minta Rencana Penyaluran Gaji ASN Lewat Koperasi Desa Dikaji Ulang, Ini Alasannya

Berita Terbaru