Jangan Sepelekan Sakit Kepala, Kenali Tanda Bahaya yang Bisa Mengancam Nyawa

- Jurnalis

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 05:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokter Spesialis Bedah Saraf dari Primaya Hospital Depok, dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, FMV.

Dokter Spesialis Bedah Saraf dari Primaya Hospital Depok, dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, FMV.

JAKARTA, LOMBOKTODAY.ID – Sakit kepala kerap dianggap sebagai keluhan biasa yang cukup diatasi dengan beristirahat atau mengonsumsi obat pereda nyeri.

Padahal, pada kondisi tertentu, sakit kepala bisa menjadi sinyal adanya gangguan serius pada otak, mulai dari perdarahan hingga pecahnya pembuluh darah otak yang membutuhkan penanganan medis segera.

Karena itu, mengenali karakteristik sakit kepala menjadi langkah penting untuk membedakan keluhan yang umum terjadi dengan gejala yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa.

Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Depok, dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, FMV, menjelaskan bahwa sakit kepala secara umum terbagi menjadi dua kategori, yakni sakit kepala primer dan sekunder.

Keduanya memiliki karakteristik serta penyebab yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan penanganan yang sesuai.

“Sakit kepala pada dasarnya merupakan alarm alami tubuh. Sebagian besar memang bukan kondisi yang berbahaya, tetapi ketika sakit kepala memiliki pola atau gejala yang tidak biasa, kita perlu lebih waspada karena bisa menjadi tanda adanya masalah struktural atau neurologis pada otak,” ujar dr. Kusdiansah.

Sakit kepala primer merupakan kondisi ketika sakit kepala itu sendiri menjadi gangguan utama, bukan gejala dari penyakit lain. Jenis yang paling umum meliputi migrain, tension-type headache, dan cluster headache.

Migrain biasanya ditandai dengan nyeri berdenyut, sering kali pada satu sisi kepala. Keluhan ini dapat disertai mual serta peningkatan sensitivitas terhadap cahaya dan suara. Sementara itu, tension-type headache umumnya menimbulkan sensasi seperti kepala tertekan atau terikat.

Berbeda dari keduanya, cluster headache dapat menyebabkan nyeri sangat hebat di sekitar atau belakang salah satu mata. Kondisi tersebut juga bisa disertai mata merah, mata berair, atau hidung tersumbat pada sisi yang sama.

Meski memiliki karakteristik berbeda, sakit kepala primer tidak selalu mudah dibedakan dari sakit kepala sekunder hanya berdasarkan sensasi nyerinya.

Sakit kepala sekunder merupakan keluhan yang muncul akibat kondisi medis lain. Penyebabnya dapat berupa cedera kepala, tumor otak, aneurisma, infeksi sistem saraf pusat, hingga perdarahan di otak. Sejumlah kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut agar dapat ditangani secara tepat.

Salah satu tantangan dalam mengenali sakit kepala serius adalah gejalanya dapat menyerupai keluhan sehari-hari.

Untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan sakit kepala sekunder, dokter mengenal sejumlah tanda bahaya atau red flags, yang salah satunya dirangkum dalam pendekatan SNNOOP10.

Masyarakat perlu mewaspadai sakit kepala yang muncul mendadak dengan intensitas sangat hebat, terutama jika terasa sebagai sakit kepala terburuk yang pernah dialami.

Baca Juga :  Wamen BUMN Apresiasi Kesiapan Listrik PLN Sambut Nataru

Perubahan pola sakit kepala, keluhan yang semakin berat dari waktu ke waktu, serta sakit kepala yang baru muncul pada kondisi tertentu juga perlu mendapat perhatian.

Risiko menjadi lebih serius apabila sakit kepala disertai kelemahan anggota tubuh, gangguan penglihatan, kejang, penurunan kesadaran, atau demam tinggi.

Sakit kepala yang memburuk ketika batuk, bersin, maupun berolahraga juga perlu dievaluasi, terutama jika merupakan keluhan baru.

Perhatian khusus diperlukan pada sakit kepala setelah benturan kepala, selama kehamilan, maupun pada masa setelah persalinan.

Dalam situasi tersebut, pemeriksaan medis penting untuk menilai kemungkinan adanya kondisi yang mendasari keluhan.

“Jangan hanya melihat seberapa sering sakit kepala terjadi. Perubahan pola, intensitas, waktu muncul, serta gejala yang menyertai justru menjadi informasi penting bagi dokter. Sakit kepala yang tiba-tiba sangat hebat, disertai kelemahan, gangguan penglihatan, kejang, atau penurunan kesadaran merupakan kondisi yang tidak sebaiknya ditunggu,” jelasnya.

Pada sejumlah kasus, sakit kepala sekunder dapat berkaitan dengan gangguan yang membutuhkan penanganan segera.

Kondisi tersebut meliputi perdarahan subaraknoid, stroke, tumor otak, abses otak, infeksi sistem saraf pusat, serta hematoma subdural atau penumpukan darah di antara selaput pelindung otak.

Dalam praktik bedah saraf, beberapa kondisi bahkan dapat berkembang menjadi kegawatdaruratan. Di antaranya perdarahan subaraknoid akibat pecahnya aneurisma otak, hematoma akibat trauma kepala, hidrosefalus akut atau penumpukan cairan di otak yang terjadi secara mendadak, serta apopleksi pituitari, yakni perdarahan atau gangguan aliran darah akut pada kelenjar pituitari.

Kondisi-kondisi tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan keluhan sakit kepala. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk menentukan penyebab, tingkat kegawatan, dan tindakan yang sesuai.

Karena itu, masyarakat tidak disarankan menunggu hingga rasa sakit semakin berat apabila sejak awal muncul tanda bahaya. Penanganan yang cepat dapat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko komplikasi.

Evaluasi sakit kepala dimulai melalui wawancara medis untuk mengetahui karakteristik nyeri, waktu kemunculan, riwayat penyakit, serta gejala lain yang menyertainya.

Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis untuk menilai kemungkinan gangguan pada sistem saraf.

Jika ditemukan tanda bahaya, pemeriksaan pencitraan dapat dilakukan sesuai indikasi. CT scan kepala sering digunakan dalam situasi darurat karena dapat membantu mendeteksi perdarahan akut dan patah tulang tengkorak.

S Systemic symptoms — gejala sistemik, misalnya demam.
N Neoplasm history — memiliki riwayat kanker.
N Neurologic deficit — kelemahan anggota tubuh, kejang atau penurunan kesadaran.
O Onset sudden — sakit kepala muncul mendadak dan sangat hebat.
O Older age — sakit kepala baru muncul pada usia lebih tua, khususnya di atas 65 tahun.
P Pattern change — pola sakit kepala berubah atau semakin memburuk.
P Positional headache — sakit kepala dipengaruhi posisi tubuh.
P Precipitated by Valsalva — dipicu batuk, bersin, mengejan, atau aktivitas fisik.
P Papilledema — pembengkakan saraf optik yang ditemukan melalui pemeriksaan medis.
P Progressive/atypical — pola nyeri progresif atau tidak biasa
P Pregnancy  — kehamilan atau masa nifas
P Painful eye — nyeri mata tertentu
P Post-traumatic Headache — sakit kepala setelah trauma
P Pathology of immune system — gangguan sistem imun atau HIV
P Painkiller overuse —  penggunaan obat pereda nyeri berlebihan
Baca Juga :  Hallo Semeton XBI Lombok!

Sementara itu, MRI otak dapat memberikan gambaran lebih detail mengenai jaringan otak dan membantu mengevaluasi kondisi tertentu.

Pemeriksaan angiografi juga dapat dipertimbangkan untuk menilai pembuluh darah otak apabila terdapat kecurigaan gangguan vaskular.

Tidak semua pasien dengan sakit kepala membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Pemilihan metode diagnostik bergantung pada kondisi klinis, temuan pemeriksaan, dan dugaan penyebab yang perlu dikonfirmasi.

Perkembangan teknologi turut mendukung penanganan berbagai gangguan otak dan sistem saraf. Teknologi seperti neuronavigasi, mikroskop bedah, endoskopi, prosedur endovaskular, hingga Gamma Knife dapat digunakan pada kondisi tertentu sesuai kebutuhan pasien.

Neuronavigasi membantu dokter menentukan lokasi dan arah tindakan secara lebih presisi. Mikroskop dan endoskopi mendukung visualisasi struktur selama prosedur, sedangkan tindakan endovaskular memungkinkan penanganan gangguan pembuluh darah melalui pembuluh darah menggunakan teknik khusus.

Gamma Knife merupakan teknologi radiosurgeri yang menggunakan radiasi terfokus untuk menangani kelainan tertentu tanpa operasi terbuka konvensional.

Meski demikian, pemilihan teknologi tetap bergantung pada diagnosis dan indikasi medis masing-masing pasien.

Menurut dr. Kusdiansah, hal terpenting bukanlah merasa takut setiap kali mengalami sakit kepala, melainkan memahami kapan keluhan tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sakit kepala mendadak yang sangat hebat, gangguan penglihatan, kelemahan anggota tubuh, kejang, penurunan kesadaran, atau demam tinggi yang menyertai sakit kepala. Keluhan yang semakin progresif atau berbeda dari pola biasanya juga tidak boleh diabaikan.

Mengenali tanda bahaya, memperoleh diagnosis yang tepat, dan menjalani penanganan sesuai penyebab merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi serta mempertahankan kualitas hidup.

Sebab, di balik keluhan yang sering dianggap sepele, sakit kepala terkadang menjadi sinyal bahwa tubuh membutuhkan pertolongan segera. Mengenali tanda bahayanya sejak dini dapat membuat perbedaan besar bagi keselamatan pasien.(arz)

Berita Terkait

NTB Satu Data Tembus 5 Besar Indonesia’s SDGs Action Awards 2026, Gubernur Iqbal Perkuat Pembangunan Berbasis Bukti
Lombok Timur Kembali Terbaik di TPAKD Award 2026, Program Kredit Tanpa Bunga Tembus Rp170 Miliar
Suara Daerah Harus Berpengaruh, Lalu Niqman Zahir Tawarkan Transformasi DPD RI Lewat Parlemen Teritorial Digital
Honda BeAT Diklaim Irit hingga 60,6 Km/Liter, Begini Teknologi Pendukungnya
BPBD NTB Perkuat Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami, Simulasi Lintas Sektor Digelar
Fauzan Khalid Minta Rencana Penyaluran Gaji ASN Lewat Koperasi Desa Dikaji Ulang, Ini Alasannya
Astra Motor NTB Ingatkan Karyawan 4 Hal Wajib Dicek Sebelum Berkendara ke Tempat Kerja
Jangan Hanya Menuntut Negara, Saatnya Anak Bangsa Belajar Melihat Sisi Baik dan Berkontribusi untuk Indonesia

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 05:07 WIB

Jangan Sepelekan Sakit Kepala, Kenali Tanda Bahaya yang Bisa Mengancam Nyawa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:03 WIB

NTB Satu Data Tembus 5 Besar Indonesia’s SDGs Action Awards 2026, Gubernur Iqbal Perkuat Pembangunan Berbasis Bukti

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:14 WIB

Lombok Timur Kembali Terbaik di TPAKD Award 2026, Program Kredit Tanpa Bunga Tembus Rp170 Miliar

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Honda BeAT Diklaim Irit hingga 60,6 Km/Liter, Begini Teknologi Pendukungnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:06 WIB

BPBD NTB Perkuat Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami, Simulasi Lintas Sektor Digelar

Berita Terbaru