Jangan Hanya Menuntut Negara, Saatnya Anak Bangsa Belajar Melihat Sisi Baik dan Berkontribusi untuk Indonesia

- Jurnalis

Minggu, 18 Oktober 2026 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Forum Kebangsaan, Samianto.

Presiden Forum Kebangsaan, Samianto.

Oleh: Samianto, Presiden Forum Kebangsaan |

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negara”. Pesan yang dikenal luas dari John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat, ini sejalan dengan semangat pidato pelantikan Presiden Soekarno yang menekankan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Pesan tersebut tetap relevan untuk direnungkan oleh setiap anak bangsa di tengah dinamika politik, sosial, dan pemerintahan Indonesia saat ini.

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang bekerja, tetapi juga oleh rakyat yang mau memahami, mengawasi, mengkritik secara bertanggung jawab, dan ikut memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan negaranya.

Melihat Indonesia dengan Pikiran Jernih
Di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, berbagai agenda pembangunan dan penegakan hukum menjadi bagian dari perhatian publik.

Semangat pemberantasan korupsi, pembenahan tata kelola pemerintahan, penguatan kedaulatan nasional, serta peningkatan kesejahteraan rakyat merupakan cita-cita yang patut diperjuangkan bersama.

Upaya membersihkan praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, mafia yang merugikan kepentingan umum, dan berbagai bentuk intervensi yang mengancam kepentingan nasional harus dilakukan secara konsisten.

Namun, setiap tindakan penegakan hukum harus berlandaskan bukti, prosedur yang sah, dan asas keadilan. Tidak seorang pun boleh dianggap bersalah hanya karena perbedaan pandangan atau kritik terhadap pemerintah.

Di sinilah kedewasaan sebuah bangsa diuji. Kita perlu membedakan kritik yang membangun dengan informasi menyesatkan, perbedaan pendapat dengan fitnah, serta pengawasan publik dengan upaya memecah belah masyarakat.

Ketika Media Sosial Menjadi Medan Pertarungan Opini
Media sosial kini menjadi ruang yang sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi masyarakat. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, tetapi kebenarannya tidak selalu diperiksa sebelum dibagikan.

Ketika pemerintah menjalankan program pembangunan dan pembenahan negara, masyarakat berhak mempertanyakan hasilnya, mengawasi anggaran, serta menilai apakah kebijakan benar-benar memberikan manfaat.

Sebaliknya, pemerintah juga layak mendapatkan penilaian berdasarkan hasil kerja nyata, bukan semata-mata berdasarkan narasi yang viral.

Anak bangsa hendaknya tidak mudah terjebak dalam pertarungan opini yang hanya menonjolkan keburukan, memperbesar permusuhan, atau menghilangkan kesempatan untuk melihat kemajuan.

Sebelum menyebarkan suatu informasi, periksalah sumbernya. Sebelum menghakimi seseorang, pahami persoalannya.

Baca Juga :  KMP Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok, 173 Orang Berhasil Dievakuasi, 1 Meninggal Dunia

Sebelum menyimpulkan bahwa negara gagal, lihat pula apa yang sedang dikerjakan, apa yang sudah tercapai, dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Sikap kritis bukan berarti harus selalu menentang. Demikian pula, mencintai negara bukan berarti harus selalu membenarkan pemerintah.

Patriotisme yang dewasa adalah keberanian menyampaikan kebenaran sekaligus kesediaan mengakui hal-hal baik yang memang telah dilakukan.

Asta Cita dan Harapan Indonesia Berdaulat
Asta Cita yang menjadi agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membawa sejumlah arah pembangunan, mulai dari penguatan ideologi dan demokrasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan pertahanan dan kemandirian bangsa, pembangunan ekonomi, hingga pemerataan kesejahteraan.

Cita-cita tersebut tidak akan terwujud hanya melalui pidato, slogan, atau kebijakan di atas kertas. Pelaksanaannya membutuhkan kerja nyata, integritas pejabat, pengawasan masyarakat, partisipasi dunia usaha, serta keterlibatan generasi muda.

Indonesia yang berdaulat bukan hanya Indonesia yang mampu menentukan arah politiknya sendiri, melainkan juga negara yang memiliki ketahanan pangan dan energi, industri yang kuat, pendidikan yang berkualitas, serta kemampuan mengelola sumber daya untuk kepentingan rakyat.

Indonesia yang sejahtera bukan sekadar negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi, melainkan negara yang memastikan masyarakat memperoleh kesempatan kerja, pelayanan kesehatan, pendidikan yang layak, keadilan hukum, dan kehidupan yang bermartabat.

Karena itu, keberhasilan agenda pemerintah perlu dinilai secara objektif melalui pelaksanaan program, transparansi, hasil yang terukur, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Negara sedang bekerja siang malam memastikan program Asta Cita wujud di tanah air tercinta.

Jangan Biarkan Kebencian Mengalahkan Pengabdian
Bangsa ini tidak kekurangan orang yang pandai berkomentar. Tantangan kita adalah melahirkan lebih banyak orang yang mau bekerja, berinovasi, menjaga integritas, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Jika petani meningkatkan produktivitas, guru mendidik dengan tulus, tenaga kesehatan melayani dengan baik, pengusaha menciptakan lapangan kerja, aparatur negara bekerja tanpa korupsi, dan generasi muda menghasilkan inovasi, semuanya merupakan bentuk pengabdian kepada Indonesia.

Demikian pula, jurnalis yang menyampaikan fakta, aktivis yang memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan warga yang mengawasi kekuasaan secara bertanggung jawab ikut menjaga masa depan bangsa.

Jangan sampai perbedaan politik membuat kita kehilangan rasa persaudaraan. Jangan sampai derasnya informasi negatif menutup mata terhadap kerja nyata. Namun, jangan pula semangat persatuan digunakan untuk membungkam kritik atau menutupi penyimpangan.

Baca Juga :  Gubernur Iqbal Benahi Mesin Pemerintahan NTB, Manajemen ASN hingga Satgas Bencana Diperkuat

Indonesia membutuhkan keberanian untuk membenahi kekurangan sekaligus kebijaksanaan untuk menghargai kemajuan.

Apa yang Sudah Kita Berikan kepada Indonesia?
Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar bagi setiap anak bangsa bukan sekadar siapa yang sedang berkuasa, siapa yang paling keras mengkritik, atau siapa yang paling pandai membangun narasi di media sosial.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang sudah kita lakukan agar Indonesia menjadi lebih baik?

Apakah kita turut menyebarkan kebenaran atau justru memperluas prasangka? Apakah kita membantu menyelesaikan persoalan atau hanya memperbesar pertengkaran? Apakah kita ikut menjaga uang negara, lingkungan, persatuan, dan kepentingan rakyat?

Pemerintah harus bekerja dan bertanggung jawab. Rakyat harus tetap kritis dan berani mengawasi. Penegak hukum harus adil, media harus menjaga integritas, dan generasi muda harus berani menciptakan perubahan.

Jika ada penyimpangan, bongkarlah berdasarkan bukti. Jika ada ketidakadilan, perjuangkan melalui jalan yang benar. Jika ada keberhasilan, akuilah secara jujur. Jika ada kekurangan, doronglah perbaikan dengan pikiran jernih.

Sebab Indonesia bukan hanya milik pemerintah, bukan hanya milik kelompok politik tertentu, dan bukan pula milik mereka yang paling lantang bersuara. Indonesia adalah rumah bersama yang masa depannya ditentukan oleh tanggung jawab seluruh anak bangsa.

Mari belajar melihat sisi baik tanpa menutup mata terhadap kekurangan. Mari mendukung pembangunan tanpa kehilangan sikap kritis.

Dan mari mengawasi kekuasaan tanpa kehilangan rasa cinta kepada Tanah Air. Bangun diskusi menghadirkan kemaslahatan bukan hanya mencari cari kesalahan.

Karena mencintai Indonesia bukan sekadar membela atau mengkritik pemerintah, melainkan memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil membawa bangsa ini semakin dekat pada kedaulatan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.

Indonesia maju bukan karena rakyatnya berhenti mengkritik, melainkan karena kritik melahirkan perbaikan, pengabdian menghasilkan kemajuan, dan persatuan menjaga cita-cita bangsa tetap hidup. Rakyat ikut aktif menjaga negri. Tutup ruang koruptor mafioso antek asing mengadu domba anak bangsa.(*)

Berita Terkait

KPK Bongkar Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB, 5 Tersangka Ditahan dan Rp5,47 Miliar Disita
Jelang Pilkades, Fauzan Khalid Ingatkan Warga Lombok Jaga Persatuan: Beda Pilihan Jangan Putus Silaturahmi
Wamenaker Tegaskan Sertifikasi Pekerja BUMN Harus Buktikan Kompetensi Nyata
Global Scholarship Summit 2026 Bidik Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia
Ledakan Pasar Cimanggis Tangsel, 50 Personel Brimob Dikerahkan, Enam Orang Jadi Korban
AI Makin Canggih, JAMIRA Desak Perlindungan Anak di Ruang Digital Tak Berhenti pada Regulasi
Mohan Roliskana Pimpin KONI NTB, Gubernur Iqbal Ingatkan Soliditas Jelang PON 2028
PLN EG Perkuat Transisi Energi Nasional, Dua Direktur Baru Diharapkan Jadi Motor Perubahan

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Jangan Hanya Menuntut Negara, Saatnya Anak Bangsa Belajar Melihat Sisi Baik dan Berkontribusi untuk Indonesia

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:09 WIB

KPK Bongkar Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB, 5 Tersangka Ditahan dan Rp5,47 Miliar Disita

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Jelang Pilkades, Fauzan Khalid Ingatkan Warga Lombok Jaga Persatuan: Beda Pilihan Jangan Putus Silaturahmi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:05 WIB

Global Scholarship Summit 2026 Bidik Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Ledakan Pasar Cimanggis Tangsel, 50 Personel Brimob Dikerahkan, Enam Orang Jadi Korban

Berita Terbaru