Jangan Terpancing Emosi di Jalan, Ini 5 Cara Tetap Aman Saat Berkendara

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 13:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keselamatan berkendara tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengendalikan sepeda motor, tetapi juga bagaimana pengendara mampu mengendalikan emosi dan mengambil keputusan secara bijak ketika menghadapi berbagai situasi di jalan raya.

Keselamatan berkendara tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengendalikan sepeda motor, tetapi juga bagaimana pengendara mampu mengendalikan emosi dan mengambil keputusan secara bijak ketika menghadapi berbagai situasi di jalan raya.

MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Satu kesalahan kecil pengendara lain di jalan raya bisa memancing emosi. Dipotong secara tiba-tiba, disalip, dibunyikan klakson, atau melihat kendaraan lain berpindah jalur tanpa sein kerap membuat pengendara merasa kesal.

Namun, membalas perilaku tersebut justru dapat mengubah situasi sepele menjadi persoalan yang jauh lebih berbahaya.

Keselamatan berkendara bukan hanya soal kemampuan mengendalikan sepeda motor. Lebih dari itu, pengendara dituntut mampu mengendalikan emosi dan mengambil keputusan dengan kepala dingin ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.

Dalam perjalanan sehari-hari, berbagai karakter pengguna jalan akan selalu ditemui. Ada pengendara yang berpindah jalur secara mendadak, lupa menyalakan lampu sein, berhenti tiba-tiba, menyalip dari arah yang tidak diperkirakan, hingga mengambil celah lalu lintas secara agresif.

Respons spontan terhadap situasi tersebut bisa menjadi masalah baru.

Rasa kesal atau tersinggung yang tidak terkendali dapat mengganggu konsentrasi. Pengendara kemudian bisa terdorong mengejar kendaraan yang menyalip, membalas klakson, memaksakan diri masuk ke celah lalu lintas, atau melakukan manuver agresif.

Padahal, keputusan yang diambil dalam kondisi emosi dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

“Menang dalam perselisihan di jalan tidak memberikan manfaat apabila justru meningkatkan risiko kecelakaan. Prioritas utama pengendara adalah keselamatan dan memastikan dapat sampai di tujuan dengan selamat,” ujar Safety Riding Instructor Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya.

Menurut Satria, pengendara memang tidak mungkin mengendalikan perilaku seluruh pengguna jalan. Namun, setiap orang masih memiliki kendali atas respons yang diberikan ketika menghadapi situasi yang memancing emosi.

Karena itu, kemampuan mengelola emosi menjadi bagian penting dari keselamatan berkendara.

Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan pengendara agar tidak mudah terpancing ketika menghadapi perilaku pengguna jalan lain.

Baca Juga :  Bupati Pimpin Pembuatan Formasi HUT ke-80 Kemerdekaan RI di Sirkuit Mandalika

1. Kenali tanda emosi mulai meningkat
Langkah pertama adalah mengenali perubahan pada diri sendiri. Perasaan mulai kesal, muncul keinginan mengejar pengendara lain, ingin membalas, menggenggam setang terlalu kuat, hingga tanpa sadar meningkatkan kecepatan merupakan sejumlah tanda bahwa emosi mulai mengambil alih.

Mengenali tanda tersebut penting agar pengendara dapat menghentikan respons sebelum berubah menjadi tindakan berisiko.

2. Jangan langsung bereaksi
Ketika dipotong, disalip, atau dibunyikan klakson, jangan langsung mengambil keputusan secara spontan. Hindari mengejar kendaraan yang dianggap mengganggu, membalas klakson, atau melakukan manuver sebagai bentuk perlawanan.

Berikan waktu bagi diri sendiri untuk kembali tenang. Dalam kondisi lalu lintas yang dinamis, beberapa detik untuk mengendalikan respons bisa jauh lebih berharga dibandingkan mempertahankan ego di jalan.

3. Kurangi kecepatan dan jaga jarak
Jika situasi mulai memancing emosi, pengendara dapat mengurangi kecepatan secara aman dan mempertahankan jarak dengan kendaraan di depan.

Jarak yang cukup memberikan ruang untuk bereaksi ketika terjadi perubahan mendadak. Pada saat yang sama, pengendara memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan.

Dengan kata lain, menjaga jarak bukan hanya soal menghindari tabrakan, tetapi juga membantu pengendara mendapatkan ruang untuk mengendalikan diri.

4. Alihkan fokus dari konflik ke keselamatan
Daripada terus memikirkan tindakan pengendara lain, kembalikan perhatian kepada kondisi lalu lintas. Perhatikan kendaraan di depan, kendaraan di samping dan belakang, kondisi permukaan jalan, rambu lalu lintas, serta potensi bahaya lain yang mungkin muncul.

Fokus utama ketika berkendara seharusnya bukan siapa yang benar atau siapa yang harus diberi pelajaran, melainkan bagaimana perjalanan dapat berlangsung dengan aman.

Baca Juga :  Ajang KLHN 2025 Hadirkan Semangat Layanan “Lebih Dekat, Lebih Hangat”

5. Jika emosi sulit dikendalikan, berhenti di tempat aman
Tidak semua kondisi harus dipaksakan untuk dilalui. Jika kemarahan sudah membuat konsentrasi terganggu atau pengendara merasa sulit mengendalikan diri, sebaiknya cari lokasi yang aman untuk berhenti.

Tenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan perjalanan. “Ketika emosi meningkat, jangan mengambil keputusan yang tidak perlu. Kita bisa memilih untuk tidak membalas, tidak mengejar, dan tidak memaksakan diri. Berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali tenang sebelum melanjutkan perjalanan,” jelas Satria.

Pengendalian emosi juga menjadi aspek penting bagi pengendara muda yang mulai diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor secara legal.

Di Indonesia, usia minimum untuk memperoleh SIM C adalah 17 tahun. Ketentuan tersebut menjadi salah satu persyaratan dalam proses memperoleh surat izin mengemudi, selain persyaratan administrasi dan pengujian sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, usia 17 tahun tidak otomatis berarti seseorang telah memiliki kematangan emosional yang sempurna.

Kematangan dalam berkendara perlu dibentuk melalui edukasi, pengalaman, disiplin, serta kebiasaan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan keselamatan.

Kemampuan untuk tidak mudah terpancing, memahami risiko, menghormati pengguna jalan lain, dan tetap mampu mengendalikan tindakan ketika berada dalam tekanan merupakan bagian dari perilaku berkendara yang bertanggung jawab.

Karena itu, edukasi keselamatan berkendara bagi pengendara muda tidak cukup hanya mengajarkan cara mengoperasikan sepeda motor.

Pengendara juga perlu dibekali kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan di jalan.

Sebab, di jalan raya, tidak semua hal bisa dikendalikan. Tetapi satu hal yang selalu bisa dikendalikan adalah respons diri sendiri.(amn)

Berita Terkait

Honda Bikers Day 2026 Bawa Semangat ”Brotherhood” Lintas Generasi
Gubernur NTB: Juara Itu Bonus, Misi Utama Kafilah adalah Syiar Al-Qur’an
BKN Beri Lampu Hijau, 1.000 PPPK Paruh Waktu Lombok Timur Bakal Jadi Penuh Waktu pada 2027
Jangan Merasa Paling Benar di Jalan, Beri Ruang untuk Kesalahan Pengendara Lain
Ketua AMAN NTB Tekankan Peran Paralegal untuk Lindungi Hak dan Wilayah Adat di Dompu
AMAN NTB Dorong Masyarakat Adat Paham Hukum, Paralegal Jadi Jembatan Akses Keadilan
Putri Victoria Terpukau Kearifan Lokal Karang Bajo Bayan, Hutan dan Mata Air Dijaga Turun-Temurun
Tekan Risiko Kecelakaan, Astra Motor NTB Gandeng Jasa Raharja, Ditlantas dan Denpom Edukasi Keselamatan Berkendara

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 15:00 WIB

Honda Bikers Day 2026 Bawa Semangat ”Brotherhood” Lintas Generasi

Rabu, 9 September 2026 - 11:08 WIB

Gubernur NTB: Juara Itu Bonus, Misi Utama Kafilah adalah Syiar Al-Qur’an

Selasa, 8 September 2026 - 16:03 WIB

BKN Beri Lampu Hijau, 1.000 PPPK Paruh Waktu Lombok Timur Bakal Jadi Penuh Waktu pada 2027

Selasa, 8 September 2026 - 13:08 WIB

Jangan Terpancing Emosi di Jalan, Ini 5 Cara Tetap Aman Saat Berkendara

Senin, 7 September 2026 - 13:00 WIB

Jangan Merasa Paling Benar di Jalan, Beri Ruang untuk Kesalahan Pengendara Lain

Berita Terbaru

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal saat rapat koordinasi bersama maskapai dan pemangku kepentingan penerbangan melalui konferensi daring dari Mataram, pada Selasa (8/9/2026).

Pariwisata Seni Budaya

Jelang MotoGP Mandalika 2026, NTB Desak Maskapai Tambah Penerbangan ke Lombok

Selasa, 8 Sep 2026 - 15:09 WIB