Putri Victoria Terpukau Kearifan Lokal Karang Bajo Bayan, Hutan dan Mata Air Dijaga Turun-Temurun

- Jurnalis

Minggu, 6 September 2026 - 15:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana kunjungan Putri Mahkota Swedia, Victoria Ingrid Alice Désirée ke Desa Adat Karang Bajo, Bayan, Kabupaten Lombok Utara, pada Minggu (6/9/2026).

Suasana kunjungan Putri Mahkota Swedia, Victoria Ingrid Alice Désirée ke Desa Adat Karang Bajo, Bayan, Kabupaten Lombok Utara, pada Minggu (6/9/2026).

LOMBOK UTARA, LOMBOKTODAY.ID – Hutan, mata air, dan tradisi di Desa Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, menjadi jendela bagi Putri Mahkota Swedia Victoria untuk melihat langsung bagaimana kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Kunjungan Putri Victoria ke Desa Adat Karang Bajo, Minggu (6/9/2026), bukan sekadar agenda seremonial. Dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador United Nations Development Programme (UNDP) untuk Pembangunan Berkelanjutan, ia menyaksikan langsung kehidupan masyarakat adat Bayan yang hingga kini masih mempertahankan hubungan erat dengan alam dan warisan budaya leluhur.

Putri Victoria didampingi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, serta rombongan UNDP.

Mereka meninjau kehidupan masyarakat adat sekaligus melihat bagaimana hutan, sumber mata air, budaya, dan aktivitas masyarakat dipertahankan dalam satu kesatuan tata kehidupan.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Mata Air Mandala yang berada di kawasan hutan adat. Di lokasi tersebut, Putri Victoria mengikuti kegiatan penanaman pohon sekaligus berdialog dengan masyarakat mengenai pengetahuan dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi Putri Victoria, pengalaman tersebut meninggalkan kesan tersendiri. Ia menilai apa yang dilakukan masyarakat Karang Bajo memiliki arti penting, bukan hanya bagi kehidupan warga setempat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam untuk generasi mendatang.

“Apa yang Bapak dan Ibu lakukan di sini sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam yang ada. Mendengar pengetahuan dan kearifan lokal yang terus diwariskan kepada generasi mendatang merupakan sesuatu yang sangat penting,” kata Putri Victoria.

Baca Juga :  Bandara Amman Mineral di Sumbawa Barat Diproyeksikan Jadi Gerbang Baru Pariwisata dan Perdagangan NTB

Ia juga menyampaikan apresiasinya atas sambutan masyarakat Karang Bajo yang menurutnya memberikan pengalaman mendalam selama berada di desa adat tersebut.

“Saya sangat tersentuh dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari masyarakat di sini. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah menyambut saya dengan begitu hangat dan menerima saya sebagai bagian dari budaya masyarakat di sini,” sambungnya.

Bagi masyarakat adat Karang Bajo dan Bayan, menjaga lingkungan bukan sekadar program konservasi atau agenda pembangunan berkelanjutan. Hutan, mata air, dan tradisi merupakan bagian dari tata kehidupan yang saling terhubung.

Hubungan tersebut dijaga melalui pranata adat, aturan, prosesi, serta pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.

Alam tidak hanya dipandang sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga bagian dari kehidupan yang harus dihormati.

Pemekel Karang Bajo, Nikrana, mengatakan masyarakat adat Bayan memiliki filosofi yang menempatkan bumi sebagai ibu yang harus dihormati dan dijaga.

Filosofi tersebut kemudian diterapkan dalam berbagai aturan dan tradisi masyarakat, termasuk dalam menjaga hubungan manusia dengan hutan dan lingkungan sekitarnya.

“Hubungan masyarakat adat dengan alam dan hutan hingga hari ini terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat Bayan,” ujar Nikrana.

Kearifan tersebut memiliki konsekuensi yang sangat nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Di wilayah Bayan terdapat empat kawasan hutan adat dengan sedikitnya 27 mata air.

Puluhan mata air tersebut menjadi sumber penting bagi kehidupan masyarakat, termasuk untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan mendukung aktivitas pertanian.

Dengan demikian, menjaga hutan bagi masyarakat adat bukan hanya persoalan mempertahankan kawasan hijau, tetapi juga menjaga sumber air dan keberlanjutan kehidupan mereka.

Baca Juga :  Pembalap MotoGP Mandalika dan Dorna Sport Tiba di Lombok

Karang Bajo juga memiliki wajah lain sebagai desa wisata. Di tengah perkembangan pariwisata Lombok Utara, desa adat ini tetap mempertahankan kehidupan dan tradisi masyarakat Bayan.

Kondisi tersebut membuat Karang Bajo memiliki daya tarik yang berbeda. Wisatawan tidak hanya disuguhi keindahan alam, tetapi juga dapat melihat bagaimana budaya dan kehidupan masyarakat adat tetap tumbuh di tengah perkembangan zaman.

Di Karang Bajo, pariwisata dan pelestarian budaya berjalan dalam ruang yang sama. Hutan dan mata air dijaga, sementara tradisi leluhur tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kunjungan Putri Victoria sekaligus memperlihatkan bahwa praktik masyarakat adat yang selama ini hidup di tingkat lokal memiliki relevansi dengan isu global tentang pembangunan berkelanjutan.

Dari Karang Bajo, perhatian dunia tidak hanya tertuju pada keindahan sebuah desa di Lombok Utara. Lebih jauh, ada pesan tentang bagaimana masyarakat menjaga alam dengan pengetahuan yang diwariskan leluhur, mempertahankan budaya, sekaligus memastikan sumber kehidupan tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Apa yang dilakukan masyarakat Karang Bajo menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak selalu lahir dari konsep baru.

Di sejumlah komunitas adat, prinsip tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kunjungan Putri Mahkota Swedia Victoria pun menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa kearifan lokal masyarakat adat Bayan bukan sekadar warisan masa lalu.

Ia juga dapat menjadi bagian dari jawaban untuk menghadapi tantangan masa depan: bagaimana manusia tetap dapat hidup berdampingan dengan alam tanpa kehilangan akar budaya yang membentuk identitasnya.(Sid)

Berita Terkait

Honda BeAT Diklaim Irit hingga 60,6 Km/Liter, Begini Teknologi Pendukungnya
BPBD NTB Perkuat Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami, Simulasi Lintas Sektor Digelar
Fauzan Khalid Minta Rencana Penyaluran Gaji ASN Lewat Koperasi Desa Dikaji Ulang, Ini Alasannya
Astra Motor NTB Ingatkan Karyawan 4 Hal Wajib Dicek Sebelum Berkendara ke Tempat Kerja
Jelang Honda Bikers Day 2026, Bikers Lombok Panaskan Semangat Persaudaraan
Bid Dokkes Polda NTB Dampingi Jepang Ambil Sampel DNA Keluarga Korban Tsunami 2011
Penantian Panjang Terjawab, Bupati Lombok Timur Serahkan SHM kepada 109 Transmigran Puncak Jeringo
100 Bikers Honda Lombok Serbu Sirkuit Mandalika, Satu Hati Dukung Pembalap Honda di MotoGP 2026

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Honda BeAT Diklaim Irit hingga 60,6 Km/Liter, Begini Teknologi Pendukungnya

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:03 WIB

Fauzan Khalid Minta Rencana Penyaluran Gaji ASN Lewat Koperasi Desa Dikaji Ulang, Ini Alasannya

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Astra Motor NTB Ingatkan Karyawan 4 Hal Wajib Dicek Sebelum Berkendara ke Tempat Kerja

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:02 WIB

Jelang Honda Bikers Day 2026, Bikers Lombok Panaskan Semangat Persaudaraan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 08:03 WIB

Bid Dokkes Polda NTB Dampingi Jepang Ambil Sampel DNA Keluarga Korban Tsunami 2011

Berita Terbaru