Empat PMI Asal NTB di Libya Dipastikan Aman dalam Perlindungan KBRI Tripoli

- Jurnalis

Jumat, 27 Februari 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB di Libya.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB di Libya.

MATARAM, LOMBOKTODAY.ID — Di tengah riuhnya linimasa TikTok yang menayangkan video viral tentang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di Libya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB akhirnya angkat bicara. Klarifikasi resmi disampaikan untuk meredam spekulasi sekaligus memastikan publik mendapat informasi yang utuh dan akurat.

Berdasarkan laporan dari KBRI Tripoli, saat ini terdapat empat PMI asal NTB yang berada dalam perlindungan pihak kedutaan. Mereka berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Sumbawa, dan Dompu.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa video yang beredar direkam saat para PMI tersebut sudah berada di lingkungan aman KBRI. “Kondisi mereka saat ini aman, sehat, dan dalam pengawasan serta pendampingan pihak KBRI Tripoli,” tegasnya.

Di balik layar, langkah diplomasi terus bergerak. KBRI Tripoli tengah melakukan negosiasi intensif dengan pihak agensi dan majikan di Libya. Fokus utamanya jelas: pengembalian paspor dan dokumen perjalanan, penyelesaian administrasi izin tinggal dan exit permit, upaya pengurangan atau penghapusan tuntutan denda dan ganti rugi.

Baca Juga :  Batam Tuan Rumah Silatnas dan Harlah ke-3 ASLI

Pengembalian paspor menjadi kunci. Tanpa dokumen tersebut, proses pemulangan ke Indonesia tak bisa dipercepat. Dalam kasus ini, agensi dilaporkan meminta ganti rugi sebesar USD 7.000 per orang sebagai syarat pengembalian paspor.

Angka yang tak sedikit, dan dinilai sangat memberatkan PMI beserta keluarganya. Negosiasi diplomatik pun terus diupayakan untuk mencari jalan keluar terbaik.

Keempat PMI tersebut bekerja di sektor domestik dan belum menyelesaikan kontrak dua tahun. Masa kerja mereka berkisar antara dua hingga delapan bulan. Menurut keterangan yang dihimpun, selama bekerja mereka diduga mengalami: kekerasan fisik dan/atau verbal, perlakuan tidak manusiawi, tekanan kerja berlebihan, penahanan dokumen oleh majikan atau agensi.

Karena merasa tak lagi aman, mereka memutuskan meninggalkan tempat kerja dan mencari perlindungan ke KBRI Tripoli. Kasus seperti ini bukan hal baru bagi PMI nonprosedural di Libya.

Tantangan yang kerap muncul meliputi penahanan paspor, tuntutan ganti rugi akibat pemutusan kontrak sepihak, hingga persoalan administrasi izin keluar dan denda keimigrasian.

AKA, demikian Kadis Kominfotik NTB ini biasa disapa menegaskan bahwa video viral tersebut tidak mencerminkan kondisi terkini. Saat video direkam, para PMI sudah berada di bawah perlindungan resmi KBRI. Artinya, asumsi bahwa mereka masih dalam ancaman langsung tidak sesuai fakta terbaru di lapangan.

Baca Juga :  Gubernur Bali Apresiasi Gerak Cepat PLN Atasi Gangguan Kelistrikan

Kasus ini menjadi pengingat serius bahwa Libya termasuk negara berisiko tinggi bagi PMI sektor domestik, terutama bagi mereka yang berangkat secara nonprosedural. Penempatan tidak resmi membuka celah besar terhadap penipuan, eksploitasi, hingga persoalan hukum yang kompleks.

AKA mendorong penguatan edukasi dan pengawasan dari level desa hingga kabupaten agar calon PMI tidak mudah tergiur janji manis pekerjaan di luar negeri tanpa prosedur resmi.

Pemerintah daerah juga memastikan akan terus memantau perkembangan kasus ini serta berkoordinasi dengan kementerian terkait dan perwakilan RI di luar negeri. Informasi terbaru akan disampaikan secara berkala berdasarkan laporan resmi dari KBRI Tripoli.

Di era ketika satu video bisa membentuk opini global dalam hitungan menit, akurasi dan verifikasi tetap jadi kunci. Karena di balik setiap konten viral, ada manusia, ada keluarga, dan ada perjuangan untuk pulang dengan selamat.(Sid)

Berita Terkait

Gubernur Iqbal Tegaskan SPM Tak Boleh Berhenti di Dokumen, Harus Dirasakan Warga NTB
MotoGP Mandalika 2026: NTB Ingin Balapan Tak Sekadar Mendunia, tapi Berdampak ke Warga
Bank NTB Syariah Jajaki Sinergi dengan RSIA Permata Hati, Bidik Pengembangan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak
Honda Vario Evo Night Ride Ramaikan Malam Kota Mataram, 150 Riders Ikut City Rolling
Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak Bawa 243 Orang, 103 Penumpang Berhasil Dievakuasi
Gubernur NTB: Pers Tak Harus Jadi Corong Pemerintah, Tapi Juga Bukan Musuh
Empat Tahun Hidup Bersama Psoriasis Setelah Vaksin Ketiga Covid-19, di Mana Tanggung Jawab Negara?
Bukan Sekadar Jago AI, Anak Muda di Samsung Solve for Tomorrow 2026 Belajar Menemukan Masalah yang Tepat untuk Diselesaikan

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 15:04 WIB

Gubernur Iqbal Tegaskan SPM Tak Boleh Berhenti di Dokumen, Harus Dirasakan Warga NTB

Senin, 14 September 2026 - 12:06 WIB

MotoGP Mandalika 2026: NTB Ingin Balapan Tak Sekadar Mendunia, tapi Berdampak ke Warga

Senin, 14 September 2026 - 08:05 WIB

Bank NTB Syariah Jajaki Sinergi dengan RSIA Permata Hati, Bidik Pengembangan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak

Minggu, 13 September 2026 - 13:09 WIB

Honda Vario Evo Night Ride Ramaikan Malam Kota Mataram, 150 Riders Ikut City Rolling

Minggu, 13 September 2026 - 07:06 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak Bawa 243 Orang, 103 Penumpang Berhasil Dievakuasi

Berita Terbaru

Suasana tradisi betabeq yang digelar menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, pada Rabu malam (16/9/2026).

Pariwisata Seni Budaya

Jelang MotoGP Mandalika 2026, Betabeq Jadi Simbol Doa, Restu dan Keselamatan

Rabu, 16 Sep 2026 - 22:38 WIB