LOTIM, LOMBOKTODAY.ID — Harga cabai di sejumlah pasar di wilayah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) melonjak tajam dalam dua pekan terakhir. Curah hujan yang tinggi disebut menjadi pemicu utama terganggunya produksi dan distribusi komoditas pedas favorit masyarakat tersebut. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga momentum Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Untuk meredam lonjakan harga, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim) mengambil langkah cepat dengan mendatangkan pasokan cabai rawit merah dari Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Komoditas tersebut tiba di Lombok pada Jumat (6/3/2026) melalui Terminal Kargo Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).
Sekretaris Daerah Lombok Timur (Sekda Lotim), HM Juaini Taofik, menjelaskan bahwa pengiriman cabai ini merupakan hasil kerja sama bisnis langsung (business to business/B2B) antara pelaku usaha atau “champion cabai” dari Lombok Timur dan Enrekang.
Menurutnya, langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus menekan harga yang sedang melonjak di pasaran.
“Kerja sama ini antara champion cabai di Enrekang dan di Lombok Timur. Pemerintah membantu mendekatkan akses distribusi sehingga harga bisa lebih rendah dibandingkan harga yang beredar saat ini,” ujarnya usai serah terima pasokan cabai di BIZAM.
Sekda Juaini menambahkan, cabai yang didatangkan akan langsung disalurkan kepada masyarakat melalui operasi pasar di sejumlah titik strategis. Upaya ini dilakukan untuk memastikan stok rumah tangga tetap tersedia dan harga lebih terkendali.
“Besok kita akan lakukan operasi pasar cabai di Pasar Pancor, Taman Rinjani, dan beberapa titik lainnya. Ini juga sekaligus untuk memantau perkembangan harga di lapangan,” katanya.
Dalam operasi pasar tersebut, cabai rawit merah akan dijual dengan harga sekitar Rp75 ribu per kilogram—jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar saat ini yang berada di kisaran Rp120 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram.
Sementara itu, Direktur Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Rinna Syawal mengatakan, lonjakan harga cabai saat ini tidak hanya terjadi di Lombok Timur, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu faktor utama penyebabnya adalah curah hujan tinggi yang memengaruhi produksi.
Melalui Satgas Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Mutu, dan Keamanan Pangan, pemerintah memfasilitasi distribusi cabai dari daerah surplus ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan. Biaya transportasi pengiriman cabai dari Enrekang ke Lombok turut ditanggung oleh Bapanas.
“Kami memfasilitasi distribusi pangan dengan membawa cabai rawit merah dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Biaya transportasinya ditanggung Bapanas sehingga harga yang sampai ke masyarakat bisa setara dengan harga di daerah asal,” jelasnya.
Menurut Rinna, intervensi ini menjadi bentuk kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan agar masyarakat tetap dapat membeli kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
Ke depan, pemerintah daerah juga mendorong peningkatan produksi cabai lokal sebagai solusi jangka panjang. Hal ini mengingat Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Lombok Timur (Lotim), dikenal sebagai salah satu sentra produksi cabai di Indonesia. Dengan penguatan produksi lokal, diharapkan ketahanan pasokan dan stabilitas harga dapat lebih terjaga.(Kml)

















