Oleh: Nurul Hidayati │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
BERBICARA merupakan kemampuan dasar manusia dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Meskipun sering dilakukan setiap hari, proses berbicara tidak selalu berjalan dengan lancar. Dalam berbagai situasi, individu kerap mengalami jeda, pengulangan kata, atau ucapan yang terhenti di tengah kalimat. Fenomena ini menunjukkan bahwa berbicara bukanlah proses yang sederhana.
Dalam perspektif psikolinguistik, berbicara melibatkan proses kognitif yang kompleks, mulai dari perencanaan pesan, pemilihan kata, hingga pengucapan. Artikel opini ini membahas mengapa ucapan tidak selalu mengalir dengan lancar dengan meninjau faktor kognitif, emosional, dan linguistik yang memengaruhi produksi ujaran.
Produksi ucapan menuntut kerja otak yang cepat dan terkoordinasi. Ketika seseorang berbicara sambil berpikir keras atau menyampaikan gagasan yang kompleks, beban kognitif meningkat. Keterbatasan memori kerja dapat menyebabkan jeda, pengulangan kata, dan ketidakteraturan dalam struktur kalimat.
Selain itu, faktor emosional seperti kecemasan dan rasa takut melakukan kesalahan juga berpengaruh besar terhadap kelancaran berbicara. Dalam konteks akademik, mahasiswa sering mengalami kecemasan saat presentasi atau diskusi kelas. Kondisi ini membuat fokus terhadap bahasa berkurang sehingga ucapan terdengar kurang lancar, meskipun materi sebenarnya dikuasai.
Faktor linguistik dan lingkungan turut memengaruhi kelancaran ucapan. Keterbatasan kosakata, terutama pada pembelajar bahasa asing, menyebabkan penutur membutuhkan waktu lebih lama untuk memilih kata yang tepat. Lingkungan komunikasi yang kurang suportif juga dapat memperparah ketidaklancaran berbicara.
Ketidaklancaran dalam berbicara merupakan hal yang wajar dalam komunikasi manusia. Dari sudut pandang psikolinguistik, kondisi ini dipengaruhi oleh proses kognitif, faktor emosional, serta kemampuan linguistik dan lingkungan. Oleh karena itu, ketidaklancaran berbicara tidak selalu mencerminkan kurangnya kemampuan bahasa.
Pemahaman dan empati sangat diperlukan, khususnya dalam konteks pendidikan. Dengan menciptakan lingkungan yang suportif dan mengurangi kecemasan berbicara, kemampuan komunikasi lisan mahasiswa dapat berkembang secara lebih optimal.(*)

















