Otak Tidak Kosong, Tapi Kata Menghilang: Fenomena Lupa Kata yang Dialami Hampir Semua Orang

- Jurnalis

Rabu, 21 Januari 2026 - 17:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siti Muslihatun.

Siti Muslihatun.

Oleh: Siti Muslihatun │ 

Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A

FENOMENA lupa kata adalah pengalaman yang sangat umum dialami oleh hampir setiap orang, tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan, atau kemampuan berbahasa seseorang. Banyak dari kita pernah mengalami momen ketika ingin menyampaikan suatu ide atau menyebutkan nama objek, orang, atau tempat tertentu, namun kata yang diinginkan seolah-olah “tersembunyi” di dalam otak–kita tahu bahwa kata tersebut ada, bahkan bisa menggambarkan ciri-cirinya, tapi tidak dapat mengeluarkannya dengan jelas. Meskipun sering dianggap sebagai tanda kelelahan atau penurunan daya ingat ringan, fenomena ini pada dasarnya berkaitan erat dengan bagaimana otak memproses, menyimpan, dan mengambil informasi bahasa.

Dalam konteks psycholinguistics, pemahaman tentang lupa kata bukan hanya fokus pada penyebabnya, tetapi juga pada mekanisme kerja sistem bahasa di dalam otak yang membuat kejadian ini bisa terjadi meskipun kemampuan berbahasa secara keseluruhan tetap terjaga dengan baik. Artikel ini di buat untuk menyajikan deskripsi tentang fenomena tersebut, dengan tujuan menjelaskan secara jelas bagaimana proses tersebut berlangsung di dalam otak serta mengapa hal itu menjadi bagian alami dari penggunaan bahasa sehari-hari.

Proses berbahasa melibatkan serangkaian tahapan kompleks di dalam otak, mulai dari pembentukan gagasan yang ingin disampaikan, pemilihan kata-kata yang sesuai, hingga produksi ucapan atau tulisan. Ketika seseorang mengalami lupa kata, tidak berarti informasi tentang kata tersebut hilang sama sekali dari memori. Sebaliknya, otak masih mampu mengakses bagian-bagian informasi terkait kata tersebut–seperti fungsi objek yang disebutkan, warna, bentuk, atau bahkan awal huruf dari kata yang diinginkan. Misalnya, seseorang mungkin tidak dapat menyebutkan nama “kalkulator”, tapi bisa menjelaskan bahwa itu adalah alat untuk menghitung dan mungkin menyebutkan bahwa kata tersebut dimulai dengan huruf “k”. Hal ini menunjukkan bahwa penyimpanan informasi bahasa di otak bersifat terstruktur, di mana setiap kata tidak hanya disimpan sebagai satu kesatuan, tetapi juga terhubung dengan berbagai informasi terkait seperti makna, bunyi, dan penggunaannya.

Baca Juga :  Civitas Akademika IAIH Pancor Sebut NBDI Adalah Spirit Bagi Generasi Segala Zaman

Selain itu, faktor-faktor eksternal dan internal juga dapat memengaruhi terjadinya lupa kata. Faktor internal seperti tingkat stres, kelelahan, atau perhatian yang terbagi dapat mengganggu proses pengambilan kata dari memori. Ketika otak sedang fokus pada hal lain atau dalam kondisi yang tidak rileks, jalur saraf yang mengatur akses ke informasi bahasa bisa menjadi kurang lancar. Sementara itu, faktor eksternal seperti lingkungan yang ramai atau adanya gangguan saat berkomunikasi juga dapat memperbesar kemungkinan terjadinya fenomena ini. Meskipun demikian, lupa kata bukanlah indikasi adanya masalah serius pada sistem saraf atau kemampuan berbahasa, kecuali jika terjadi secara terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada kebanyakan kasus, kata yang hilang tersebut akan muncul sendiri setelah beberapa saat, ketika otak kembali dalam kondisi yang lebih rileks atau ketika mendapatkan isyarat yang dapat membimbing proses pengambilan informasi.

Baca Juga :  Hadapi Dunia Kerja Era AI, Menaker Yassierli Ungkap 5 Bekal Penting bagi Generasi Muda

Cara otak menangani fenomena lupa kata juga menunjukkan fleksibilitas sistem bahasa manusia. Ketika tidak dapat mengakses kata yang diinginkan, orang biasanya akan mencari alternatif kata atau menggunakan deskripsi untuk menyampaikan maksudnya – hal ini disebut sebagai strategi kompensasi dalam berbahasa. Misalnya, seseorang yang tidak dapat menyebutkan “termometer” bisa berkata, “alat untuk mengukur suhu badan”. Strategi ini menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi tidak sepenuhnya tergantung pada kemampuan mengakses kata tertentu, melainkan pada kemampuan menghubungkan makna dengan bentuk bahasa yang tersedia. Proses ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara makna dan kata di dalam otak bersifat dinamis, di mana satu makna dapat diwakili oleh beberapa bentuk kata atau deskripsi yang berbeda.

Fenomena lupa kata adalah bagian alami dari proses kerja sistem bahasa di dalam otak, yang dialami oleh hampir semua orang. Kejadian ini tidak menunjukkan bahwa informasi bahasa hilang dari memori, melainkan adanya gangguan sementara dalam proses pengambilan kata yang disimpan secara terstruktur. Faktor internal dan eksternal dapat memengaruhi terjadinya lupa kata, namun pada umumnya tidak menjadi masalah serius. Sistem bahasa manusia memiliki fleksibilitas yang memungkinkan individu untuk tetap berkomunikasi dengan baik melalui strategi kompensasi ketika kata yang diinginkan tidak dapat diakses. Dengan demikian, lupa kata bukanlah tanda bahwa otak “kosong”, melainkan bukti kompleksitas dan dinamisme cara otak memproses serta menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Berita Terkait

1.215 Pelajar Adu Inovasi di AHM Best Student 2026, 27 Finalis Terbaik Bersaing di Tingkat Nasional
Wakapolda NTB Turun ke SMPN 6 Mataram, Ingatkan Siswa soal Bahaya Bullying
Sempat Putus Sekolah, Tiga Siswi di Lombok Barat Kembali Raih Mimpi Lewat Sekolah Rakyat
Gubernur NTB Dorong Akreditasi Sekolah Berasrama, Perlindungan Anak dan Perempuan Diperkuat
570 Pelajar dan Guru Adu Skill Keselamatan Berkendara, AHM Cetak Agen Perubahan Lewat Cari Aman Academy 2026
Global Scholarship Summit 2026 Bidik Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia
Gedung SDN 1 Jerowaru Mentereng, Kadis Dikbud Temukan Siswa Belum Bisa Membaca
Ahmad Al Farizi Harumkan UNW Mataram, Raih Most Innovative Idea di Future Leaders Summit

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:06 WIB

1.215 Pelajar Adu Inovasi di AHM Best Student 2026, 27 Finalis Terbaik Bersaing di Tingkat Nasional

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:15 WIB

Wakapolda NTB Turun ke SMPN 6 Mataram, Ingatkan Siswa soal Bahaya Bullying

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Sempat Putus Sekolah, Tiga Siswi di Lombok Barat Kembali Raih Mimpi Lewat Sekolah Rakyat

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:01 WIB

Gubernur NTB Dorong Akreditasi Sekolah Berasrama, Perlindungan Anak dan Perempuan Diperkuat

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:06 WIB

570 Pelajar dan Guru Adu Skill Keselamatan Berkendara, AHM Cetak Agen Perubahan Lewat Cari Aman Academy 2026

Berita Terbaru