Teluk Ekas Resmi Jadi Pusat Riset Rumput Laut Dunia

- Jurnalis

Jumat, 20 Februari 2026 - 13:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teluk Ekas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lotim.

Teluk Ekas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lotim.

NTB Bersiap Naik Kelas dari Penghasil ke Inovator Global

MATARAM, LOMBOKTODAY.ID — Peta ekonomi pesisir Indonesia bersiap berubah. Pemerintah pusat menetapkan Teluk Ekas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), sebagai lokasi International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC)—pusat riset rumput laut tropis berskala dunia.

Langkah ini bukan sekadar proyek penelitian. Ini bagian dari strategi besar: membawa Indonesia naik level, dari produsen bahan mentah menjadi pemain utama industri maritim berbasis ilmu pengetahuan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan penguatan riset rumput laut adalah langkah strategis menuju visi Indonesia sebagai pusat rumput laut global—sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

“ITSRC menjadi fondasi membangun ekosistem riset kelas dunia sekaligus mentransformasi ekonomi pesisir berbasis sains,” ujarnya.

Indonesia saat ini menguasai sekitar 75% produksi rumput laut tropis dunia. Nilai ekonominya mencapai USD 12 miliar per tahun—dan terus tumbuh. Namun ada satu celah besar: Indonesia kuat di produksi, tapi masih lemah di hilirisasi dan riset. Sehingga di sinilah ITSRC hadir. Pusat riset ini akan menjadi simpul kolaborasi internasional, melibatkan peneliti global termasuk: University of California, Berkeley; Beijing Genomics Institute (BGI), Tiongkok.

Baca Juga :  Kecerdasan Buatan dalam Masalah ''Makna'' dalam Bahasa

BGI bahkan berkomitmen mendukung pendanaan sekitar Rp3 miliar selama dua tahun pertama, sementara pemerintah Indonesia mengalokasikan Rp1,5 miliar pada tahap awal pembangunan.

Kenapa Teluk Ekas? Secara ilmiah, lokasi ini hampir ideal sebagai laboratorium alam. Apalagi Teluk Ekas memiliki perairan tropis terlindung, sirkulasi air stabil, keanekaragaman spesies tinggi.

Beberapa jenis rumput laut yang bisa dikembangkan di sini antara lain: Kappaphycus, Caulerpa, Ulva, hingga Halymenia. Dengan kata lain, Ekas bukan hanya tempat budidaya—tapi ruang eksperimen laut hidup (living laboratory).

Menindaklanjuti penetapan ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menyambut positif pembangunan pusat riset tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, menyebut ITSRC berpotensi menyelesaikan masalah klasik yang selama ini menghantui petani: bibit unggul. “Selama ini kendala utama petani adalah keterbatasan bibit berkualitas. ITSRC diharapkan menjadi solusi sekaligus pusat pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat,” katanya.

Baca Juga :  KWP Gelar Santunan Yatim Piatu di Parlemen, Ariawan: Wartawan Juga Punya Jiwa Sosial

Artinya, riset tidak berhenti di laboratorium—tetapi turun langsung ke tambak dan laut. Bahkan, Universitas Mataram (Unram) akan menjadi bagian dari ekosistem riset ITSRC melalui kolaborasi peneliti global, fasilitas laboratorium, hingga kapal penelitian.

Tak hanya itu, kampus ini juga membangun Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan untuk memperkuat layanan kesehatan masyarakat kepulauan sekaligus mendukung pendidikan dokter spesialis maritim.

Dengan kehadiran ITSRC, NTB tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah produksi rumput laut. Visinya lebih jauh:
pusat inovasi rumput laut tropis dunia. Jika berhasil, dampaknya bukan hanya ekspor meningkat—tetapi juga teknologi budidaya modern, industri turunan bernilai tinggi, kesejahteraan masyarakat pesisir, ekonomi biru berkelanjutan.

Teluk Ekas kini tidak sekadar teluk. Ia sedang diproyeksikan menjadi laboratorium laut dunia—tempat sains, ekonomi, dan kehidupan pesisir bertemu.(Sid)

Berita Terkait

1.215 Pelajar Adu Inovasi di AHM Best Student 2026, 27 Finalis Terbaik Bersaing di Tingkat Nasional
Wakapolda NTB Turun ke SMPN 6 Mataram, Ingatkan Siswa soal Bahaya Bullying
Sempat Putus Sekolah, Tiga Siswi di Lombok Barat Kembali Raih Mimpi Lewat Sekolah Rakyat
Gubernur NTB Dorong Akreditasi Sekolah Berasrama, Perlindungan Anak dan Perempuan Diperkuat
570 Pelajar dan Guru Adu Skill Keselamatan Berkendara, AHM Cetak Agen Perubahan Lewat Cari Aman Academy 2026
Global Scholarship Summit 2026 Bidik Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia
Gedung SDN 1 Jerowaru Mentereng, Kadis Dikbud Temukan Siswa Belum Bisa Membaca
Ahmad Al Farizi Harumkan UNW Mataram, Raih Most Innovative Idea di Future Leaders Summit

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:06 WIB

1.215 Pelajar Adu Inovasi di AHM Best Student 2026, 27 Finalis Terbaik Bersaing di Tingkat Nasional

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:15 WIB

Wakapolda NTB Turun ke SMPN 6 Mataram, Ingatkan Siswa soal Bahaya Bullying

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Sempat Putus Sekolah, Tiga Siswi di Lombok Barat Kembali Raih Mimpi Lewat Sekolah Rakyat

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:01 WIB

Gubernur NTB Dorong Akreditasi Sekolah Berasrama, Perlindungan Anak dan Perempuan Diperkuat

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:06 WIB

570 Pelajar dan Guru Adu Skill Keselamatan Berkendara, AHM Cetak Agen Perubahan Lewat Cari Aman Academy 2026

Berita Terbaru