SUMBAWA, LOMBOKTODAY.ID – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, melakukan inspeksi langsung ke Pasar Brang Biji, Kabupaten Sumbawa, Kamis (12/3/2026), guna memantau pergerakan harga bahan pokok di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda Safari Ramadan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB di wilayah Sumbawa.
Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Iqbal berdialog langsung dengan para pedagang sekaligus mengecek harga sejumlah komoditas pangan strategis di pasar tradisional tersebut.
Dari hasil pemantauan di lapangan, harga cabai rawit masih berada pada kisaran Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
Gubernur Iqbal menilai harga tersebut masih tergolong tinggi, terutama karena Pasar Brang Biji bukan merupakan pasar induk yang menjadi pusat distribusi utama.
“Dari pengecekan langsung di pasar, harga cabai rawit memang masih cukup tinggi. Hal ini juga dipengaruhi karena pasar ini bukan pasar induk, sehingga distribusi pasokan tidak sebesar di pasar utama,” ujar Gubernur Iqbal.
Menurutnya, lonjakan harga cabai rawit saat ini dipicu oleh mekanisme pasar, di mana pasokan terbatas belum mampu mengimbangi tingginya permintaan masyarakat, khususnya menjelang hari besar keagamaan.
Sebelumnya, Pemprov NTB telah melakukan langkah intervensi dengan mendatangkan lebih dari satu ton cabai dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Namun upaya tersebut dinilai belum cukup signifikan dalam menekan harga di tingkat pasar.
Karena itu, Pemprov NTB kini tengah menjajaki opsi penambahan pasokan dari daerah lain melalui koordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Data distribusi pangan antarwilayah akan menjadi acuan untuk menentukan daerah yang memiliki surplus produksi cabai dan memungkinkan dilakukan distribusi ke NTB.
“Kami terus berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional untuk melihat daerah mana yang memiliki harga cabai lebih rendah dan memungkinkan dilakukan distribusi ke NTB sebagai bentuk intervensi pasar,” jelasnya.
Selain cabai, Gubernur Iqbal juga memantau harga sejumlah komoditas penting lainnya seperti minyak goreng dan beras. Untuk komoditas tersebut, pemerintah membuka peluang intervensi melalui koordinasi dengan Perum Bulog guna menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan stok di pasaran.
Dalam sidak tersebut, Gubernur Iqbal juga menemukan bahwa harga minyak goreng bersubsidi “Minyak Kita” di wilayah Sumbawa masih relatif tinggi. Kondisi ini diduga terjadi karena sebagian pedagang belum terhubung langsung dengan jalur distribusi resmi dari distributor.
Pemantauan pasar, kata Gubernur Iqbal, akan terus dilakukan selama bulan Ramadan guna memastikan pasokan bahan pokok tetap tersedia dan harga tetap terkendali di berbagai daerah di NTB.
“Pemerintah harus hadir memastikan harga tetap stabil dan kebutuhan masyarakat, terutama menjelang hari raya ketika permintaan biasanya meningkat,” katanya.(arz)

















