MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Di tengah dinamika harga bahan pokok yang kerap bikin was-was, Tim Satuan Tugas Saber Keamanan, Mutu, dan Harga Pangan (Satgas Saber Pangan) Provinsi NTB 2026 bergerak cepat.
Sebanyak 1,18 ton cabai rawit didatangkan dari Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dikawal langsung proses distribusinya demi menjaga harga tetap stabil dan kualitas tetap terjaga.
Pengawasan dilakukan di gudang kargo Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), pada Minggu (1/3/2026). Langkah ini menjadi bagian dari strategi preventif untuk mengantisipasi lonjakan harga sekaligus memastikan rantai distribusi berjalan transparan dan sesuai aturan.
Aksi pengawasan ini melibatkan banyak pihak: Direktur PKP Bapanas RI, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Wakil Bupati Lombok Tengah, Anggota Komisi II DPRD Lombok Tengah, jajaran Ditreskrimsus Polda NTB, Dinas Pertanian dan Pangan Lombok Barat, hingga aparat kepolisian wilayah bandara.
Direktur Reskrimsus Polda NTB, Kombes Pol FX Endriadi, S.I.K., melalui Kasubdit I Indagsi, Kompol Moh. Nasrulloh, S.I.K., M.M., menegaskan bahwa pengawasan ini bukan sekadar formalitas. “Kami ingin memastikan keamanan harga dan mutu cabai rawit. Rantai distribusi harus transparan dan sesuai ketentuan,” tegasnya.
Berdasarkan hasil monitoring, sebanyak 1.180 kilogram cabai rawit dikirim dari Sulawesi Selatan dengan harga beli Rp58.000 per kilogram. Komoditas tersebut dibeli oleh pelaku usaha asal Lombok Tengah, H. Irfan, yang bertindak sebagai operator distribusi di wilayah Lombok.
Cabai rawit ini akan didistribusikan ke sejumlah pasar di Lombok Tengah, antara lain Pasar Renteng, Jelojok, Kopang, Barabali, Stiling, Karang Sidemen, dan Pasar Lantan.
Skema harganya pun dikawal ketat: Harga ke pedagang: Rp63.000/kg, Harga ke konsumen: Rp63.000–Rp73.000/kg. Dengan margin yang terukur, diharapkan harga tetap rasional dan tidak membebani daya beli masyarakat.
Sebagai bentuk keterbukaan informasi, setiap lapak pedagang akan ditempelkan stiker harga resmi sesuai ketentuan Forum Distribusi Pangan (FDP). Tujuannya jelas: masyarakat bisa tahu harga acuan dan terhindar dari praktik spekulatif.
Tim Satgas juga memastikan pengawasan dilakukan secara intensif, mulai dari titik kedatangan hingga distribusi ke pasar-pasar tradisional.
“Ini bagian dari intervensi aktif untuk menekan potensi lonjakan harga dan menjaga stabilitas bapokting, khususnya cabai rawit,” tegas Kompol Moh. Nasrulloh.
“Bismillah, mohon doa dari rekan-rekan dan masyarakat agar kami bisa bekerja maksimal menstabilkan harga bahan pokok penting, khususnya cabai rawit,” sambungnya.
Langkah terpadu lintas instansi ini menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas pangan adalah prioritas bersama. Dengan pasokan yang terjaga, distribusi transparan, dan harga yang dikawal, masyarakat NTB diharapkan bisa tetap memenuhi kebutuhan dapur tanpa harus khawatir harga melonjak drastis.
Di era ketika informasi bergerak cepat dan ekspektasi publik semakin tinggi, transparansi dan respons sigap menjadi kunci. Satgas Saber Pangan NTB pun menunjukkan bahwa menjaga stabilitas harga bukan sekadar tugas, melainkan komitmen untuk melindungi daya beli dan kesejahteraan masyarakat.(Sid)

















