Satgas Saber Pangan NTB Kawal 1,18 Ton Cabai Rawit dari Sulsel, Harga Dijaga Tetap Stabil

- Jurnalis

Senin, 2 Maret 2026 - 07:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Satgas Saber Pangan NTB saat mengawal distribusi cabai rawit yang didatangkan dari Sulawesi Selatan, di gudang kargo BIZAM Lombok.

Tim Satgas Saber Pangan NTB saat mengawal distribusi cabai rawit yang didatangkan dari Sulawesi Selatan, di gudang kargo BIZAM Lombok.

MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Di tengah dinamika harga bahan pokok yang kerap bikin was-was, Tim Satuan Tugas Saber Keamanan, Mutu, dan Harga Pangan (Satgas Saber Pangan) Provinsi NTB 2026 bergerak cepat.

Sebanyak 1,18 ton cabai rawit didatangkan dari Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dikawal langsung proses distribusinya demi menjaga harga tetap stabil dan kualitas tetap terjaga.

Pengawasan dilakukan di gudang kargo Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), pada Minggu (1/3/2026). Langkah ini menjadi bagian dari strategi preventif untuk mengantisipasi lonjakan harga sekaligus memastikan rantai distribusi berjalan transparan dan sesuai aturan.

Aksi pengawasan ini melibatkan banyak pihak: Direktur PKP Bapanas RI, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Wakil Bupati Lombok Tengah, Anggota Komisi II DPRD Lombok Tengah, jajaran Ditreskrimsus Polda NTB, Dinas Pertanian dan Pangan Lombok Barat, hingga aparat kepolisian wilayah bandara.

Direktur Reskrimsus Polda NTB, Kombes Pol FX Endriadi, S.I.K., melalui Kasubdit I Indagsi, Kompol Moh. Nasrulloh, S.I.K., M.M., menegaskan bahwa pengawasan ini bukan sekadar formalitas. “Kami ingin memastikan keamanan harga dan mutu cabai rawit. Rantai distribusi harus transparan dan sesuai ketentuan,” tegasnya.

Baca Juga :  Wagub NTB Serahkan Bantuan Pembangunan Masjid dan Sembako di Desa Labuan Haji Sumbawa

Berdasarkan hasil monitoring, sebanyak 1.180 kilogram cabai rawit dikirim dari Sulawesi Selatan dengan harga beli Rp58.000 per kilogram. Komoditas tersebut dibeli oleh pelaku usaha asal Lombok Tengah, H. Irfan, yang bertindak sebagai operator distribusi di wilayah Lombok.

Cabai rawit ini akan didistribusikan ke sejumlah pasar di Lombok Tengah, antara lain Pasar Renteng, Jelojok, Kopang, Barabali, Stiling, Karang Sidemen, dan Pasar Lantan.

Skema harganya pun dikawal ketat: Harga ke pedagang: Rp63.000/kg, Harga ke konsumen: Rp63.000–Rp73.000/kg. Dengan margin yang terukur, diharapkan harga tetap rasional dan tidak membebani daya beli masyarakat.

Sebagai bentuk keterbukaan informasi, setiap lapak pedagang akan ditempelkan stiker harga resmi sesuai ketentuan Forum Distribusi Pangan (FDP). Tujuannya jelas: masyarakat bisa tahu harga acuan dan terhindar dari praktik spekulatif.

Baca Juga :  Terkait Program Brigade Pangan Kementan, Sultan Minta Pemerintah Prioritaskan Lulusan Lembaga Pendidikan Pertanian

Tim Satgas juga memastikan pengawasan dilakukan secara intensif, mulai dari titik kedatangan hingga distribusi ke pasar-pasar tradisional.

“Ini bagian dari intervensi aktif untuk menekan potensi lonjakan harga dan menjaga stabilitas bapokting, khususnya cabai rawit,” tegas Kompol Moh. Nasrulloh.

“Bismillah, mohon doa dari rekan-rekan dan masyarakat agar kami bisa bekerja maksimal menstabilkan harga bahan pokok penting, khususnya cabai rawit,” sambungnya.

Langkah terpadu lintas instansi ini menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas pangan adalah prioritas bersama. Dengan pasokan yang terjaga, distribusi transparan, dan harga yang dikawal, masyarakat NTB diharapkan bisa tetap memenuhi kebutuhan dapur tanpa harus khawatir harga melonjak drastis.

Di era ketika informasi bergerak cepat dan ekspektasi publik semakin tinggi, transparansi dan respons sigap menjadi kunci. Satgas Saber Pangan NTB pun menunjukkan bahwa menjaga stabilitas harga bukan sekadar tugas, melainkan komitmen untuk melindungi daya beli dan kesejahteraan masyarakat.(Sid)

Berita Terkait

Pendapatan NTB Baru 66,53 Persen, Gubernur Iqbal Optimistis Target APBD Perubahan 2026 Tercapai
ASLIPAY Hadir untuk Warga ASLI, Bukan Sekadar Aplikasi Transaksi: Ada Perlindungan hingga Marketplace UMKM
Gubernur NTB Pesan Peserta Magang di Jepang: Jangan Cuma Cari Gaji, Bangun Komitmen dan Aset
Tak Dapat Bansos? Wabup Lombok Timur Tegas Minta Warga Isi Data Sendiri
Tak Dapat Pensiun, 4.000 Marbot dan Guru Ngaji di Lombok Timur Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan
Honda CT125 Tampil Makin Ikonik, Warna Baru Matte Fresco Brown Bikin Motor Trekking Ini Makin Berkarakter
Dana Transfer Pusat Bertambah, Lombok Timur Alokasikan Rp71 Miliar untuk Infrastruktur Jalan
Gubernur Iqbal Perintahkan APBD-P 2026 Tindak Lanjuti Arahan KPK

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 16:01 WIB

Pendapatan NTB Baru 66,53 Persen, Gubernur Iqbal Optimistis Target APBD Perubahan 2026 Tercapai

Senin, 14 September 2026 - 16:07 WIB

ASLIPAY Hadir untuk Warga ASLI, Bukan Sekadar Aplikasi Transaksi: Ada Perlindungan hingga Marketplace UMKM

Senin, 14 September 2026 - 15:34 WIB

Gubernur NTB Pesan Peserta Magang di Jepang: Jangan Cuma Cari Gaji, Bangun Komitmen dan Aset

Sabtu, 12 September 2026 - 07:06 WIB

Tak Dapat Bansos? Wabup Lombok Timur Tegas Minta Warga Isi Data Sendiri

Sabtu, 12 September 2026 - 06:01 WIB

Tak Dapat Pensiun, 4.000 Marbot dan Guru Ngaji di Lombok Timur Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan

Berita Terbaru

Suasana tradisi betabeq yang digelar menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, pada Rabu malam (16/9/2026).

Pariwisata Seni Budaya

Jelang MotoGP Mandalika 2026, Betabeq Jadi Simbol Doa, Restu dan Keselamatan

Rabu, 16 Sep 2026 - 22:38 WIB