LOMBOK TENGAH, LOMBOKTODAY.ID – Berawal dari hasil pertanian yang kerap tak laku dijual, UMKM Cempake di Kabupaten Lombok Tengah perlahan mengubah jagung, singkong, hingga sorghum menjadi produk pangan bernilai ekonomi.
Perjalanan itu tidak berlangsung instan. Sejak berdiri pada 2014, UMKM yang berlokasi di Dusun Lendang Batah Daye, Desa Mekar Damai, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah tersebut harus melewati berbagai tantangan sebelum mampu membawa produknya masuk ke pasar modern.
Ketua UMKM Cempake, Maemunah, mengatakan ide membentuk kelompok usaha tersebut berangkat dari kondisi hasil pertanian masyarakat yang melimpah, tetapi belum memiliki pasar yang menjanjikan.
“Dulu kalau jagung dan singkong di desa kami tidak terjual karena hanya untuk makanan ternak burung dan ayam,” kata Maemunah kepada wartawan, di UMKM Cempake, Dusun Lendang Batah Daye, Desa Mekar Damai, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Jumat (28/8/2026).
Persoalannya bukan semata produksi. Ketika hendak menjangkau pasar yang lebih luas, biaya transportasi justru kerap lebih besar dibandingkan pendapatan yang diperoleh.
Kondisi tersebut mendorong Maemunah bersama para anggota UMKM Cempake mencari cara agar hasil pertanian di desa tidak berhenti sebagai komoditas mentah dengan nilai jual rendah.
UMKM Cempake kemudian mulai menemukan pasar pada 2015. Pada tahap awal, produk mereka dipasarkan melalui pengepul dan sejumlah rumah makan.
Anggota yang terlibat pun berasal dari kalangan perempuan yang membutuhkan ruang untuk berdaya secara ekonomi, mulai dari ibu kepala keluarga, ibu eks-TKW, hingga ibu-ibu yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan.
Namun, perjalanan untuk memperluas pasar masih menghadapi persoalan lain: kepercayaan diri.
Maemunah mengakui, sebelum mendapatkan pendampingan, dirinya bersama anggota UMKM Cempake merasa belum percaya diri untuk membawa produk mereka masuk ke toko oleh-oleh maupun pasar modern.
Titik balik mulai terjadi pada 2022 ketika UMKM Cempake mendapatkan pembinaan dari Astra Motor NTB.
Saat itu, manajemen Astra Motor NTB datang langsung melihat lokasi usaha. Produk berbahan sorghum menjadi salah satu hal yang menarik perhatian.
Dari proses pendampingan tersebut, UMKM Cempake tidak hanya mendapatkan dorongan untuk mengembangkan produk, tetapi juga pembenahan dari sisi tampilan dan pemasaran.
Kemasan produk yang sebelumnya sederhana kemudian diperbarui menjadi lebih menarik dan memiliki tampilan yang lebih layak untuk bersaing di pasar yang lebih luas.
Perubahan sederhana pada kemasan ternyata membawa dampak besar.
Produk yang sebelumnya membuat anggota UMKM Cempake ragu untuk masuk ke toko oleh-oleh dan pasar modern, akhirnya mulai mendapatkan ruang di sejumlah kanal penjualan.
Salah satunya adalah NTB Mall yang kini bernama Bale Kita. Produk UMKM Cempake juga mulai masuk ke sejumlah toko oleh-oleh lainnya di Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Awalnya malu masuk ke toko oleh-oleh dan pasar modern, tapi dengan kemasan baru yang lebih menarik, produk ini akhirnya bisa masuk NTB Mall (kini bernama Bale Kita) dan sejumlah toko oleh-oleh lainnya,” ujar Maemunah.
Pendampingan Astra Motor NTB tidak berhenti pada aspek kemasan dan pemasaran.
Pada 2023, UMKM Cempake kembali mendapatkan dukungan berupa fasilitas peralatan, salah satunya mesin pengaduk.
Kehadiran mesin tersebut membuat proses produksi menjadi lebih efisien. Jika sebelumnya sebagian pekerjaan dilakukan secara manual, kini proses pengadukan dapat dibantu menggunakan mesin.
Bagi UMKM yang terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan naik kelas.
Maemunah mengatakan, pendampingan juga dilakukan melalui pemberian informasi dan pengetahuan mengenai cara memajukan serta mengembangkan usaha.
Dampaknya mulai terlihat dari keberanian UMKM Cempake mengikuti berbagai ajang pengembangan usaha.
Pada 2025, UMKM Cempake ikut ambil bagian dalam ajang Satu Indonesia Award yang digelar PT Astra International Tbk. Meski belum berhasil lolos ke tahap berikutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar untuk terus memperbaiki usaha.
Memasuki 2026, UMKM Cempake kembali mengikuti dua program, yakni UMKM Bisa dan Astra Export Champion. Kedua kegiatan tersebut masih berjalan dan berlangsung selama sekitar empat bulan.
Maemunah berharap keterlibatan dalam berbagai program tersebut tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk UMKM Cempake.
“Kami berharap dengan kegiatan-kegiatan ini bisa lebih memperluas dan mengembangkan pasar,” ujarnya.
Dari sisi produksi, UMKM Cempake saat ini mampu menghasilkan sedikitnya 10 kilogram produk dalam sekali produksi per hari.
Ketersediaan bahan baku jagung dan singkong relatif tidak menjadi persoalan karena mudah diperoleh dari lingkungan sekitar. Sementara untuk sorghum, UMKM Cempake masih mengandalkan hasil tanam sendiri.
Produk yang dihasilkan pun terus dikembangkan. Di antaranya Tortilla Singkoghum dan Tortilla Beleleng yang memanfaatkan potensi bahan pangan lokal.
Bagi Maemunah, perubahan paling terasa setelah mendapatkan pembinaan Astra Motor NTB bukan hanya pada produk dan penjualan. Lebih dari itu, pendampingan tersebut telah mengubah cara pandang para anggota terhadap usaha yang mereka jalankan.
Dari yang sebelumnya kurang percaya diri, kini mereka berani membawa produk lokal Lombok Tengah memasuki pasar yang lebih modern.
“Yang paling terasa dari binaan Astra Motor NTB ini awalnya tidak pede, tapi dengan adanya pembinaan dari Astra Motor NTB ini bisa tembus pasar modern,” kata Maemunah.
Kini, produk UMKM Cempake terus dipasarkan dan hasil produksinya telah masuk ke Bale Kita, serta ke toko oleh-oleh modern lainnya.
Perjalanan UMKM Cempake menunjukkan bahwa hasil pertanian lokal tidak selalu harus berhenti sebagai komoditas mentah.
Dengan pengolahan, kemasan yang tepat, pendampingan, serta akses pasar, jagung, singkong, dan sorghum dapat diubah menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka ruang pemberdayaan ekonomi bagi perempuan di tingkat desa.
Sementara itu, Adm Fin Manager Astra Motor NTB, Ivan Pratama, mengatakan UMKM Cempake merupakan salah satu UMKM binaan Astra Motor NTB melalui program Income Generating Activity (IGA) Astra.
Program tersebut diarahkan untuk memberdayakan UMKM dan masyarakat melalui pembinaan, pelatihan, dukungan permodalan, hingga penguatan strategi pemasaran.
“UMKM Cempake yang diketuai oleh Maemunah ini menjadi salah satu binaan Astra Motor NTB yang merupakan salah satu fokus dari program IGA (Income Generating Activity) Astra dalam memberdayakan UMKM dan warga yang kurang mampu,” kata Ivan.
Menurutnya, pendampingan tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk memiliki usaha yang semakin mandiri dan berkembang.
Ivan menambahkan, pemberdayaan UMKM tersebut menjadi bagian dari salah satu dari empat pilar Astra, yakni kewirausahaan, dengan fokus pada pengembangan UMKM dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Kisah UMKM Cempake menjadi gambaran bahwa persoalan hasil pertanian yang sulit dipasarkan sebenarnya dapat diubah menjadi peluang ketika komoditas lokal tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Jagung, singkong, dan sorghum yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi terbatas kini dapat diolah menjadi produk pangan yang lebih bernilai.
Lebih dari sekadar mengubah bahan baku menjadi makanan, perjalanan UMKM Cempake memperlihatkan bagaimana pengolahan produk, kemasan, pendampingan, keberanian masuk pasar, dan pemberdayaan perempuan dapat berjalan beriringan.
Dari desa di Kabupaten Lombok Tengah, produk lokal itu kini perlahan menemukan jalannya menuju pasar yang lebih luas.(Sid)

















