Remisi Bukan Sekadar Potongan Hukuman, Ini Pesan Bupati Lotim untuk Narapidana

- Jurnalis

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin saat menyerahkan remisi umum kepada Narapidana, di Lapas Kelas IIB Selong, Senin (17/8/2026).

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin saat menyerahkan remisi umum kepada Narapidana, di Lapas Kelas IIB Selong, Senin (17/8/2026).

LOTIM, LOMBOKTODAY.ID – Kemerdekaan tidak hanya dimaknai dengan upacara dan pengibaran Sang Merah Putih. Di balik jeruji Lapas Kelas IIB Selong, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga menjadi pengingat bahwa setiap warga negara tetap memiliki ruang untuk memperbaiki diri dan kembali ke tengah masyarakat.

Pesan itu mengemuka saat Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menghadiri penyerahan Remisi Umum bagi narapidana di Lapas Kelas IIB Selong, pada Senin (17/8/2026).

Bupati yang akrab disapa Bupati Iron tersebut hadir dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus membacakan amanat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Dalam amanat tersebut, tema nasional HUT ke-81 RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, ditekankan bukan sekadar slogan peringatan kemerdekaan.

Tema itu disebut memiliki makna penting dalam penyelenggaraan sistem pemasyarakatan yang menempatkan hukum, kemanusiaan, serta proses pembinaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran menjadi tiga pilar yang saling berkaitan. Ketiganya menjadi fondasi untuk membangun sistem hukum yang tidak hanya tegas dalam menegakkan aturan, tetapi juga tetap memberikan ruang bagi proses perubahan dan perbaikan kehidupan warga binaan.

“Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” dengan demikian tidak berhenti pada narasi kebangsaan, tetapi juga diterjemahkan dalam bagaimana negara memperlakukan warga binaan yang sedang menjalani proses hukum dan pembinaan.

Remisi menjadi salah satu bentuk nyata dari proses tersebut. Pemberian pengurangan masa pidana bukan semata-mata persoalan berkurangnya masa hukuman, melainkan penghargaan terhadap warga binaan yang dinilai telah mengikuti proses pembinaan dan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Baca Juga :  Jelang Nataru, Gubernur NTB Siapkan Contingency Plan Kebencanaan

Secara nasional, pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini, pemerintah memberikan Remisi Umum kepada 173.706 narapidana.

Selain itu, 1.085 Anak Binaan memperoleh Pengurangan Masa Pidana Umum. Angka tersebut menunjukkan besarnya cakupan kebijakan pemasyarakatan yang diberikan sebagai bagian dari proses pembinaan dan reintegrasi sosial.

Pemerintah menegaskan bahwa pemberian hak tersebut merupakan wujud kehadiran negara dalam menghargai proses pembinaan yang telah dijalani dengan baik.

Remisi juga menjadi bagian penting dari upaya mempersiapkan narapidana dan Anak Binaan agar nantinya mampu kembali ke lingkungan sosial dengan membawa perubahan positif.

Bagi warga binaan, kesempatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa masa menjalani pidana seharusnya tidak berhenti pada menjalani hukuman.

Ada proses pembelajaran, pembinaan, dan perubahan perilaku yang diharapkan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat.

Dengan perspektif itu, sistem pemasyarakatan tidak hanya berbicara mengenai tembok penjara dan masa pidana. Lebih jauh, sistem tersebut berkaitan dengan bagaimana negara mempersiapkan seseorang agar mampu kembali menjalani kehidupan secara bertanggung jawab setelah menyelesaikan proses hukum.

Namun, kesempatan untuk berubah berjalan beriringan dengan tuntutan terhadap integritas aparat pemasyarakatan.

Dalam amanat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan yang dibacakan Bupati Iron, jajaran pemasyarakatan mendapat apresiasi sekaligus penegasan untuk terus menjaga integritas sebagai fondasi utama dalam menjalankan tugas.

Profesionalisme juga diminta terus diperkuat. Begitu pula budaya kerja yang bersih, transparan, dan bebas dari berbagai bentuk penyimpangan.

Baca Juga :  Lalu Iqbal Kisahkan Laksamana Malahayati di Pelantikan PKK Provinsi/Kabupaten/Kota se-NTB

Penegasan tersebut menjadi penting karena lembaga pemasyarakatan merupakan salah satu institusi yang memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan proses pembinaan berjalan sesuai aturan.

Kepercayaan publik terhadap sistem pemasyarakatan sangat bergantung pada konsistensi aparat dalam menjalankan tugas secara profesional dan berintegritas.

Karena itu, tidak boleh ada toleransi terhadap keterlibatan petugas dalam praktik yang mencederai tujuan pemasyarakatan.

Menteri menegaskan tidak ada ruang bagi petugas yang terlibat dalam peredaran gelap narkotika, penyalahgunaan wewenang, maupun pungutan liar.

Pesan tersebut mempertegas bahwa pemberian remisi dan proses pembinaan harus berjalan dalam satu kerangka yang sama: memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk berubah, sembari memastikan seluruh prosesnya berlangsung secara adil, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Momentum penyerahan remisi di Lapas Kelas IIB Selong akhirnya membawa pesan yang lebih luas dari sekadar pengurangan masa pidana.

Kemerdekaan juga berarti membuka kesempatan bagi seseorang untuk memperbaiki kesalahan, membangun kembali kepercayaan, dan menata masa depan.

Di sisi lain, negara tetap dituntut memastikan hukum berjalan tegas dan aparat bekerja dengan integritas. Sebab, keadilan bukan hanya tentang memberikan hukuman, tetapi juga memastikan setiap proses hukum mampu mengantarkan seseorang menjadi bagian masyarakat yang lebih baik.

Semangat itulah yang menjadi salah satu makna penting peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di lingkungan pemasyarakatan: memberikan kesempatan untuk berubah tanpa mengabaikan ketegasan hukum, serta membangun sistem yang manusiawi tanpa kehilangan integritas.(Kml)

Berita Terkait

Jangan Asal Tarik Rem! Astra Motor NTB Ungkap Teknik Aman Melintasi Jalan Turunan
Kemarau Panjang, Ditpolairud Polda NTB Salurkan 1,7 Ton Air Bersih ke Pesisir Sekotong
Celah Sempit di Tengah Kemacetan Bisa Picu Kecelakaan, Pengendara Motor Wajib Waspada
Ops Patuh Rinjani 2026 Dimulai, 578 Personel Gabungan Siap Tindak Pelanggaran Lalu Lintas di NTB
Wakapolda NTB Turun ke Jalan, Atur Lalu Lintas Pagi di Simpang Empat BI Mataram
Astra Motor NTB dan Satlantas Polres Lombok Utara Pasang Papan Black Spot, Pengendara Diminta Lebih Waspada
Jangan Sepelekan Sakit Kepala, Kenali Tanda Bahaya yang Bisa Mengancam Nyawa
NTB Satu Data Tembus 5 Besar Indonesia’s SDGs Action Awards 2026, Gubernur Iqbal Perkuat Pembangunan Berbasis Bukti

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Jangan Asal Tarik Rem! Astra Motor NTB Ungkap Teknik Aman Melintasi Jalan Turunan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:07 WIB

Kemarau Panjang, Ditpolairud Polda NTB Salurkan 1,7 Ton Air Bersih ke Pesisir Sekotong

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Celah Sempit di Tengah Kemacetan Bisa Picu Kecelakaan, Pengendara Motor Wajib Waspada

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Ops Patuh Rinjani 2026 Dimulai, 578 Personel Gabungan Siap Tindak Pelanggaran Lalu Lintas di NTB

Senin, 26 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Wakapolda NTB Turun ke Jalan, Atur Lalu Lintas Pagi di Simpang Empat BI Mataram

Berita Terbaru