KOTA BIMA, LOMBOKTODAY.ID – Semangat perubahan dan optimisme generasi muda terasa kuat saat Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (Wagub NTB), Indah Dhamayanti Putri, melakukan Safari Ramadan di SMK Negeri 3 Kota Bima, pada Senin (2/3/2026).
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang dialog terbuka antara pemerintah, guru, dan siswa tentang masa depan pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman.
Dalam suasana hangat dan interaktif, Wagub yang akrab disapa Ummi Dinda itu mengaku bangga menyaksikan langsung karya dan inovasi para siswa. Baginya, kreativitas pelajar bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga potensi ekonomi yang nyata.
“Saya melihat kreativitas anak-anak kita luar biasa. Ini bukan sekadar hobi, tapi peluang ekonomi yang harus ditangkap,” ujarnya.
Ia mencontohkan peluang produksi suvenir pernikahan di Pulau Sumbawa, khususnya Bima, yang memiliki pasar besar seiring tingginya tradisi hajatan masyarakat. Menurutnya, sekolah kejuruan dapat menjadi pusat produksi kreatif sekaligus laboratorium kewirausahaan bagi siswa.
Pesan ini selaras dengan semangat generasi saat ini yang tidak lagi terpaku pada jalur kerja konvensional, tetapi berani membangun brand, bisnis, dan identitas profesional sejak bangku sekolah.
Ummi Dinda juga menekankan pentingnya strategi peningkatan prestasi siswa, terutama melalui jalur undangan dan prestasi agar semakin banyak lulusan Bima dan Pulau Sumbawa diterima di perguruan tinggi negeri bergengsi.
“Jangan jadikan jarak geografis sebagai alasan. Anak-anak kita harus berani menunjukkan prestasi dan menjemput peluang,” tegasnya.
Selain itu, ia mendorong penguatan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal penting menghadapi pasar kerja global. Di era konektivitas digital, kemampuan komunikasi lintas bahasa dinilai sebagai nilai tambah yang membuka akses karier lebih luas.
Isu keamanan dan kenyamanan lingkungan sekolah juga menjadi perhatian utama. Wagub Dinda mengingatkan pentingnya menciptakan ruang belajar yang bebas dari kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk praktik perundungan (bullying). “Sekolah harus menjadi tempat yang dirindukan. Rasa aman dan nyaman harus kita jaga bersama,” pesannya.
Komitmen tersebut disambut positif oleh para siswa. Ketua OSIS SMK Negeri 3 Kota Bima, Nafisah, menegaskan bahwa pihaknya memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi pencegahan kekerasan.
“Kami mungkin tidak bisa mencegah semua bentuk kekerasan, tetapi kami harus punya tindakan. Media sosial bisa menjadi ruang edukasi agar siswa lebih sadar dan saling menghormati,” tegasnya.
Bagi generasi digital, platform media sosial bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga medium kampanye nilai dan perubahan sosial.
Ketua OSIS periode sebelumnya, Gifar, menambahkan bahwa pada masa kepemimpinannya, OSIS mengoptimalkan ekstrakurikuler Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR) sebagai garda depan kampanye anti-bullying.
PIKR aktif melakukan sosialisasi langsung kepada siswa serta memproduksi konten edukatif di media sosial. Sejumlah anggotanya juga terlibat dalam Forum Anak dan Forum GenRe tingkat kota hingga provinsi, memperkuat kapasitas mereka dalam pendekatan edukasi sebaya.
“Pendekatan teman sebaya lebih mudah diterima. Jika ada indikasi bullying, kami bekerja sama dengan guru BK untuk ditindaklanjuti,” jelasnya.
Kisah para siswa ini menjadi bukti bahwa SMK Negeri 3 Kota Bima bukan sekadar tempat menempuh pendidikan, melainkan ruang tumbuh bagi mimpi dan masa depan.
Dari bakat sederhana seperti menggambar, lahir keterampilan profesional yang membuka jalan menuju prestasi, organisasi, hingga peluang karier.
Dengan dukungan lingkungan sekolah yang inklusif dan perhatian terhadap kondisi sosial-ekonomi siswa, sekolah ini terus bertransformasi menjadi ekosistem pembelajaran yang aman, kreatif, dan berdaya saing.
Di tengah arus perubahan global, pesan yang mengemuka jelas: sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat menyiapkan generasi yang berani, adaptif, dan siap menjadi pelopor masa depan.(ltn)

















