Oleh: Baiq Suci Antari │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2026
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
BAHASA merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia karena berfungsi sebagai alat komunikasi dan pendukung perkembangan kognitif. Sejak lahir, manusia memperoleh bahasa pertama secara alami melalui interaksi dengan lingkungan terdekat tanpa melalui pembelajaran formal. Proses ini berlangsung secara tidak sadar dan menjadi dasar bagi penguasaan bahasa selanjutnya.
Berbeda dengan pemerolehan bahasa pertama, pembelajaran bahasa kedua dan bahasa asing dilakukan secara sadar dan terstruktur, umumnya melalui pendidikan formal. Bahasa kedua dipelajari dalam lingkungan yang aktif menggunakan bahasa tersebut, sedangkan bahasa asing dipelajari di lingkungan yang tidak menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Perbedaan lingkungan ini memengaruhi cara, strategi, dan hasil pembelajaran bahasa, sehingga penting untuk memahami perbedaan ketiga proses tersebut dalam kajian linguistik dan pendidikan bahasa.
Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep pemerolehan bahasa pertama serta pembelajaran bahasa kedua dan bahasa asing, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilannya. Secara teoretis, pemerolehan bahasa pertama dijelaskan melalui teori nativisme Chomsky yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan bawaan untuk berbahasa. Teori behaviorisme menekankan peran lingkungan dan penguatan, sedangkan Krashen menyoroti pentingnya comprehensible input dan faktor afektif dalam pembelajaran bahasa kedua. Ellis menambahkan bahwa usia, motivasi, dan lingkungan belajar sangat memengaruhi hasil pembelajaran bahasa.
Analisis dilakukan melalui pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis kajian pustaka dengan membandingkan proses dan karakteristik penguasaan bahasa. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahasa pertama diperoleh secara alami dan relatif seragam, sementara bahasa kedua dan bahasa asing dipengaruhi oleh berbagai faktor individu dan lingkungan. Hal ini membuktikan bahwa kedua proses tersebut memiliki mekanisme yang berbeda.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa kedua dan bahasa asing tidak dapat disamakan dengan pemerolehan bahasa pertama. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa perlu menekankan penggunaan bahasa secara komunikatif dan kontekstual, bukan hanya penguasaan aturan tata bahasa. Pendekatan yang memberikan paparan bahasa yang bermakna dan mendukung kondisi emosional pembelajar dinilai lebih efektif.
Dengan memahami perbedaan pemerolehan bahasa pertama dan pembelajaran bahasa kedua serta bahasa asing, pendidik dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakteristik pembelajar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran bahasa dan membantu pembelajar mencapai kompetensi berbahasa secara optimal.(*)

















