LOMBOK TIMUR, LOMBOKTODAY.ID – Gedung sekolah boleh tampil megah, ruang belajar boleh semakin memadai, dan jumlah guru dinilai cukup. Namun, semua itu belum menjadi jaminan keberhasilan pendidikan jika masih ada siswa yang belum mampu membaca.
Kondisi inilah yang ditemukan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SDN 1 Jerowaru, Selasa (13/10/2026).
Temuan tersebut menjadi sorotan karena SDN 1 Jerowaru telah mendapatkan bantuan revitalisasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai lebih dari Rp1 miliar.
Dengan dukungan infrastruktur yang dinilai memadai, sekolah itu kini menghadapi pekerjaan rumah yang lebih mendasar: memastikan setiap siswa menguasai kemampuan literasi dasar, terutama membaca dan menulis.
Kunjungan tersebut sekaligus menyoroti pentingnya menempatkan mutu pembelajaran sebagai tolok ukur utama keberhasilan pendidikan.
Sebab, pembangunan fisik sekolah semestinya berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan akademik dan prestasi peserta didik.
M. Nurul Wathoni menilai SDN 1 Jerowaru memiliki sejumlah modal penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Selain gedung sekolah yang telah direvitalisasi, ketersediaan guru dinilai memadai, sementara jumlah siswa yang masuk setiap tahun relatif stabil.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi landasan bagi kepala sekolah dan dewan guru untuk menghadirkan inovasi pembelajaran yang berdampak langsung terhadap kemampuan siswa.
“Gedung bagus, mentereng karena dapat bantuan revitalisasi APBN lebih dari satu miliar, guru memadai, input-input siswa stabil. Sekarang Kaseknya punya PR agar tingkatkan prestasi,” ujar Wathoni saat melakukan kunjungan.
Pernyataan itu menegaskan bahwa keberhasilan sekolah tidak cukup diukur dari kondisi bangunan maupun kelengkapan sarana dan prasarana.
Lebih dari itu, sekolah harus mampu menunjukkan hasil nyata melalui peningkatan kompetensi siswa, termasuk kemampuan membaca yang menjadi fondasi bagi proses belajar pada jenjang pendidikan dasar.
Kemampuan membaca memiliki peran penting dalam perkembangan akademik anak. Ketika siswa belum menguasai keterampilan tersebut, mereka berpotensi mengalami kesulitan memahami materi pelajaran lain yang membutuhkan kemampuan membaca dan memahami informasi.
Karena itu, persoalan siswa yang belum bisa membaca perlu ditangani secara serius melalui evaluasi pembelajaran, pemetaan kemampuan setiap siswa, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Temuan dalam sidak tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola SDN 1 Jerowaru. Wathoni meminta kepala sekolah bersama dewan guru melakukan evaluasi dan menyiapkan program terobosan untuk mengejar ketertinggalan siswa yang belum menguasai kemampuan membaca.
Langkah perbaikan diharapkan tidak berhenti pada evaluasi administratif. Sekolah perlu memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan perhatian sesuai tingkat kemampuannya, terutama mereka yang masih mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemetaan literasi dasar, pendampingan membaca secara rutin, penguatan metode pembelajaran, serta pemantauan perkembangan siswa secara berkala.
Dengan pendekatan yang terarah, guru dapat mengetahui kebutuhan masing-masing siswa dan menentukan bentuk intervensi pembelajaran yang lebih tepat.
Di sisi lain, kepala sekolah memiliki peran penting dalam menggerakkan seluruh sumber daya yang tersedia.
Ketersediaan guru dan fasilitas yang memadai perlu diikuti dengan pengawasan proses pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta koordinasi yang konsisten di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, bantuan revitalisasi yang telah diberikan pemerintah tidak hanya menghasilkan bangunan yang lebih baik, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan belajar yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara nyata.
Dalam kunjungan tersebut, kepala sekolah SDN 1 Jerowaru kebetulan tidak berada di tempat ketika Kadis Dikbud Lombok Timur melakukan sidak.
Meski demikian, temuan mengenai kemampuan membaca siswa tetap menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti oleh pihak sekolah.
Wathoni berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengelola sekolah untuk memaksimalkan pembinaan akademik maupun nonakademik.
Perbaikan kualitas pendidikan, menurut arah evaluasi yang disampaikan, perlu menjadi perhatian bersama agar potensi sekolah dapat berkembang secara optimal.
Persoalan ini juga mengingatkan bahwa peningkatan mutu pendidikan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kepala sekolah berperan dalam mengelola dan mengevaluasi program, guru bertanggung jawab memastikan proses pembelajaran berjalan efektif, sedangkan dinas pendidikan memiliki fungsi pembinaan dan pengawasan.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar permasalahan mendasar seperti keterlambatan kemampuan membaca dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.
Bantuan revitalisasi sekolah merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk memperbaiki fasilitas pendidikan.
Namun, manfaatnya akan semakin berarti apabila peningkatan infrastruktur diikuti perbaikan kualitas pembelajaran dan capaian peserta didik.
Kasus di SDN 1 Jerowaru menjadi pengingat bahwa gedung yang bagus bukanlah tujuan akhir pembangunan pendidikan.
Fasilitas yang memadai harus menjadi penunjang bagi guru untuk mengajar lebih efektif dan bagi siswa untuk belajar dengan lebih baik.
Tantangan berikutnya adalah memastikan siswa yang belum bisa membaca mendapatkan pendampingan yang memadai, disertai target perkembangan yang terukur.
Evaluasi berkala juga penting untuk mengetahui apakah program perbaikan benar-benar menghasilkan kemajuan.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya terlihat dari bangunan yang berdiri megah, tetapi juga dari kemampuan siswanya dalam menguasai keterampilan dasar, mengembangkan potensi, dan meraih prestasi.
Temuan Kadis Dikbud Lombok Timur di SDN 1 Jerowaru pun menempatkan satu hal sebagai pekerjaan rumah utama: memastikan investasi besar pada fasilitas pendidikan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas belajar siswa.(Kml)
















