Hadapi Dunia Kerja Era AI, Menaker Yassierli Ungkap 5 Bekal Penting bagi Generasi Muda

- Jurnalis

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menkaer Yassierli saat membuka Grand Opening Albacadabra di SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Sukabumi, Jawa Barat, pada Senin (12/10/2026).

Menkaer Yassierli saat membuka Grand Opening Albacadabra di SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Sukabumi, Jawa Barat, pada Senin (12/10/2026).

SUKABUMI, LOMBOKTODAY.ID – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), robotika, dan platform digital bukan lagi sekadar tren teknologi. Ketiganya sedang mengubah cara manusia bekerja, berkolaborasi, hingga menentukan kompetensi yang dibutuhkan untuk bertahan dan berkembang di dunia kerja.

Di tengah perubahan tersebut, generasi muda dituntut tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mampu berpikir kritis, menguasai teknologi, berkomunikasi efektif, bekerja sama, dan menjaga integritas.

Lima kemampuan inilah yang dirangkum Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli dalam formula 5T: Think, Tech, Talk, Team, dan Trust.

Pesan tersebut disampaikan Yassierli saat membuka Grand Opening Albacadabra di SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Sukabumi, Jawa Barat, pada Senin (12/10/2026).

Ia menilai, generasi muda yang berkualitas dan kompeten merupakan salah satu modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan masa depan.

“Banyak pemuda yang berkualitas dan kompeten baru akan menjadi kekuatan bangsa. Untuk menjadi generasi unggul di Indonesia ke depan, saya merangkumnya menjadi lima bekal penting, yaitu Think, Tech, Talk, Team, dan Trust,” ujar Yassierli.

Formula 5T tersebut menegaskan bahwa kesiapan memasuki dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik atau penguasaan satu bidang keahlian.

Generasi muda juga perlu membangun kemampuan beradaptasi, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, serta memiliki karakter yang membuat mereka dipercaya.

1. Think: Berpikir Kritis dan Berani Bertanya

Bekal pertama adalah Think, yakni kemampuan berpikir kritis, memelihara rasa ingin tahu, dan berani mengajukan pertanyaan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Generasi muda tidak cukup hanya menerima informasi, tetapi juga perlu memeriksa kebenarannya, memahami konteks, dan menilai apakah suatu informasi dapat dipertanggungjawabkan.

Kemampuan ini membantu seseorang mengambil keputusan secara lebih tepat, menyelesaikan masalah, serta melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Karena itu, budaya belajar perlu dibangun melalui kebiasaan bertanya, mengeksplorasi gagasan, dan tidak berhenti pada jawaban pertama. Sikap tersebut menjadi fondasi untuk menghadapi persoalan baru yang belum tentu memiliki solusi sederhana.

2. Tech: Menguasai Teknologi, Data, dan AI

Bekal kedua adalah Tech, yaitu kemampuan memahami perkembangan teknologi, data, dan kecerdasan buatan.

Menurut Yassierli, pemahaman teknologi tidak hanya diperlukan oleh siswa yang menekuni bidang sains atau teknologi.

Baca Juga :  Tarik Investor Lebih Besar, Indonesia Harus Ciptakan Lingkungan Investasi yang Lebih Bersahabat

Generasi muda dari berbagai disiplin ilmu juga perlu memahami perkembangan digital agar mampu memanfaatkannya sesuai kebutuhan.

AI, misalnya, dapat membantu manusia mengolah informasi, mencari data, dan mendukung penyelesaian pekerjaan.

Namun, pemanfaatannya harus disertai kemampuan menilai hasil yang diberikan, memeriksa akurasi informasi, serta memahami batasan teknologi tersebut.

“AI gunakan sebaik-baiknya, dia akan menjadi mitra kita untuk mengolah dan mencari data. Dia tidak akan pernah bisa menggantikan manusia, dan orang-orang yang sukses adalah orang yang mampu berkolaborasi dengan AI, tetapi tetap harus diimbangi dengan empati, kebijaksanaan, dan tanggung jawab dalam penggunaannya,” tegas Yassierli.

Pesan ini menempatkan AI sebagai alat bantu untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti proses berpikir.

Generasi muda perlu belajar menggunakan teknologi secara produktif tanpa kehilangan daya kritis, pertimbangan etis, dan tanggung jawab atas hasil pekerjaannya.

3. Talk: Komunikasi Efektif Jadi Kunci

Bekal ketiga adalah Talk, yang menitikberatkan pada kemampuan berkomunikasi secara efektif.

Di dunia kerja, kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan ide.

Seseorang juga perlu mendengarkan pendapat orang lain, memahami kebutuhan lawan bicara, dan menyampaikan informasi sesuai konteks.

Penguasaan bahasa asing turut menjadi bagian penting dari bekal ini. Kemampuan berbahasa dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, membuka peluang kolaborasi lintas negara, dan membantu generasi muda beradaptasi dengan lingkungan profesional yang semakin terhubung secara global.

Komunikasi yang baik bukan sekadar berbicara dengan lancar. Lebih dari itu, komunikasi membutuhkan kemampuan memahami orang lain, menyampaikan pendapat secara terstruktur, dan membangun hubungan profesional yang sehat.

4. Team: Mampu Berkolaborasi dan Beradaptasi

Bekal keempat adalah Team, yakni kemampuan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Dunia kerja modern semakin menuntut kolaborasi antarkaryawan dengan latar belakang, keahlian, dan cara berpikir yang berbeda.

Dalam situasi tersebut, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kontribusinya terhadap tim.

Generasi muda perlu belajar menghargai perbedaan pendapat, membagi tanggung jawab, menyelesaikan konflik secara konstruktif, dan menyesuaikan diri ketika menghadapi perubahan.

Kemampuan beradaptasi juga penting karena kebutuhan pekerjaan dapat berubah seiring perkembangan teknologi dan organisasi.

Baca Juga :  Sultan Bilang Pemilu Langsung Tidak Lagi Sesuai dengan Semangat Kebangsaan

Mereka yang mampu belajar dari orang lain dan bekerja secara kolaboratif akan memiliki bekal lebih kuat untuk menghadapi dinamika tersebut.

5. Trust: Integritas Menentukan Nilai Seseorang

Bekal terakhir adalah Trust, yaitu kepercayaan yang dibangun melalui kejujuran, tanggung jawab, dan integritas.

Di tengah meningkatnya tuntutan kompetensi, karakter tetap menjadi faktor penting dalam membangun reputasi profesional.

Keahlian dapat membuat seseorang memperoleh kesempatan, tetapi kejujuran dan konsistensi dalam bertindak membantu menjaga kepercayaan orang lain.

Integritas juga berarti berani mengambil sikap ketika menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai moral.

Seseorang tidak cukup hanya mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga harus bertanggung jawab atas proses dan keputusan yang diambil.

“Keahlian membuka pintu, integritas membuat orang percaya. Anda harus punya integritas, berani mengatakan tidak kalau itu tidak sesuai dengan hati nurani,” ungkap Yassierli.

Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan tidak semata-mata diukur dari pencapaian pribadi. Cara seseorang bekerja, memperlakukan orang lain, dan mempertanggungjawabkan keputusannya turut menentukan kualitas dirinya sebagai tenaga kerja.

Melalui formula 5T, Yassierli berharap generasi muda Indonesia mampu tumbuh menjadi pribadi yang kompeten, berkarakter, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Lima bekal tersebut saling melengkapi. Berpikir kritis membantu seseorang memahami persoalan, penguasaan teknologi memperkuat kemampuan menyelesaikan pekerjaan, komunikasi dan kolaborasi mendukung pencapaian tujuan bersama, sedangkan integritas menjadi fondasi kepercayaan.

Bagi pelajar yang sedang mempersiapkan masa depan, pesan ini menjadi pengingat bahwa persiapan memasuki dunia kerja perlu dimulai sejak dini.

Belajar tidak hanya berarti mengejar nilai, tetapi juga membangun kebiasaan berpikir, memperluas keterampilan, melatih kemampuan berkomunikasi, dan menjaga tanggung jawab dalam setiap tindakan.

Di tengah perkembangan AI dan otomatisasi, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi.

Mereka perlu menjadi individu yang mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, bekerja bersama orang lain, serta mengambil keputusan dengan pertimbangan etis.

Dengan menggabungkan kompetensi dan karakter, generasi muda diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perubahan dunia kerja, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masa depan Indonesia yang lebih produktif, adaptif, dan berdaya saing.(Sid)

Berita Terkait

AI Makin Canggih, JAMIRA Desak Perlindungan Anak di Ruang Digital Tak Berhenti pada Regulasi
PLN EG Perkuat Transisi Energi Nasional, Dua Direktur Baru Diharapkan Jadi Motor Perubahan
Ahmad Al Farizi Harumkan UNW Mataram, Raih Most Innovative Idea di Future Leaders Summit
Pengawasan Travel Umrah Diperketat, BERSATHU Tekankan Legalitas dan Tata Kelola
JAMIRA Desak Polres Baubau Usut Dugaan Kekerasan terhadap Kontributor tvOne
Presiden Prabowo Gaspol Hilirisasi Nikel di Maluku Utara, 11 Proyek Bernilai Rp180 Triliun Diluncurkan
Menaker Ungkap Terobosan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan: Ijazah Tak Boleh Ditahan, Hak Pekerja Diperkuat
Rp13,2 Triliun Uang Sitaan dan Denda Masuk Kas Negara, Disaksikan Presiden Prabowo

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:04 WIB

AI Makin Canggih, JAMIRA Desak Perlindungan Anak di Ruang Digital Tak Berhenti pada Regulasi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:05 WIB

PLN EG Perkuat Transisi Energi Nasional, Dua Direktur Baru Diharapkan Jadi Motor Perubahan

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:06 WIB

Hadapi Dunia Kerja Era AI, Menaker Yassierli Ungkap 5 Bekal Penting bagi Generasi Muda

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Ahmad Al Farizi Harumkan UNW Mataram, Raih Most Innovative Idea di Future Leaders Summit

Jumat, 9 Oktober 2026 - 10:02 WIB

Pengawasan Travel Umrah Diperketat, BERSATHU Tekankan Legalitas dan Tata Kelola

Berita Terbaru

Dr. H. Ahsanul Khalik.

Ekonomi & Bisnis

MotoGP Mandalika: Jangan Samakan Rugi Perusahaan dengan Dampak Ekonomi

Selasa, 13 Okt 2026 - 09:07 WIB