LOTENG, LOMBOKTODAY.ID – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) terus memperkuat langkah kolaboratif dalam mendukung pendidikan inklusif berbasis data.
Komitmen tersebut dibahas dalam diskusi lanjutan bertajuk “Dukungan CSR untuk Pendidikan Inklusif Berbasis Data Kabupaten Lombok Tengah” yang digelar di ruang rapat Sekretariat Daerah Lombok Tengah, Rabu (6/5/2026).
Forum ini menjadi ruang sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, BUMN, BUMD, rumah sakit, hingga lembaga non-pemerintah untuk memperkuat layanan pendidikan inklusif bagi anak-anak di Lombok Tengah, terutama mereka yang memiliki hambatan fungsional belajar.
Mewakili Kepala Bapperida Lombok Tengah, Lalu Winarna, SKM., M.Sc., DEA mengatakan, kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting dalam menekan angka putus sekolah yang masih menjadi tantangan daerah.
“Melalui kolaborasi lintas sektor ini, kami berharap dukungan terhadap pendidikan inklusif semakin kuat sehingga seluruh anak, termasuk anak dengan hambatan fungsional belajar, dapat memperoleh layanan pendidikan yang layak dan sesuai kebutuhannya,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Lombok Tengah yang diwakili Asisten I Setda Lombok Tengah, Lalu Muliawan, menyampaikan pesan Bupati Lombok Tengah terkait pentingnya penguatan pendidikan inklusif melalui penyediaan alat bantu, peningkatan aksesibilitas, serta penguatan kapasitas guru.
Menurutnya, dukungan tersebut penting agar anak-anak dengan hambatan fungsional belajar, khususnya penyandang disabilitas, mendapatkan layanan pendidikan yang optimal dan setara.
Ia menegaskan, tanpa intervensi yang memadai, anak-anak dengan hambatan fungsional berisiko semakin termarginalkan dalam sistem pendidikan.
Dalam forum tersebut, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Lombok Tengah, H. Jumadi, memaparkan hasil Program Profil Belajar Siswa (PBS).
Dari sekitar 9.000 anak yang telah mengikuti skrining awal mulai jenjang TK hingga SMA, ditemukan sekitar 5.000 anak terindikasi memiliki hambatan fungsional belajar.
Setelah dilakukan skrining lanjutan, sekitar 600 anak dinilai membutuhkan intervensi segera agar bisa memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Temuan tersebut langsung mendapat respons dari berbagai pihak. Rumah Sakit Adikarsa menyatakan kesiapan untuk mendukung skrining lanjutan melalui integrasi layanan Universal Health Coverage (UHC).
Komitmen serupa juga disampaikan PDAM Lombok Tengah yang sebelumnya telah melakukan pendampingan bersama Tulus Angen Community dalam layanan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Di sisi lain, ITDC turut menyatakan kesiapan memperkuat kolaborasi melalui pengembangan pendidikan inklusif berbasis kawasan.
ITDC diketahui telah memiliki Mandalika Children Learning Centre (MCLC) yang diharapkan menjadi pusat penguatan layanan pendidikan, khususnya di wilayah ring 1 kawasan kerja ITDC seperti Kecamatan Pujut dan daerah penyangga.
Selain itu, BAZNAS Lombok Tengah juga membuka peluang kolaborasi melalui program Tastura Peduli untuk membantu penyediaan alat bantu bagi anak-anak disabilitas.
Melalui forum tersebut, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah berharap sinergi lintas sektor dapat terus diperkuat demi menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan responsif terhadap kebutuhan seluruh anak di daerah itu.(LS)

















