LOMBOK BARAT, LOMBOKTODAY.ID – Perbedaan pilihan politik tak seharusnya merusak persaudaraan. Di tengah persiapan pemilihan kepala desa (Pilkades) di sejumlah wilayah Pulau Lombok, Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, H. Fauzan Khalid, mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, dan tidak terjebak dalam konflik akibat perbedaan dukungan politik.
Pesan tersebut disampaikan Fauzan Khalid saat menjadi khatib salat Jumat di Masjid Baitul Makmur, Desa Gapuk, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (16/10/2026).
Di hadapan jemaah, Fauzan Khalid menekankan bahwa kebersamaan merupakan fondasi penting untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, rukun, dan damai.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam menentukan pemimpin merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk merenggangkan hubungan sosial.
“Mari kita jaga kebersamaan dan persatuan. Tentu hal ini sangat krusial untuk mencegah terjadinya konflik horizontal di masyarakat,” kata Fauzan Khalid.
Mantan Bupati Lombok Barat dua periode, 2016–2024, itu mengingatkan bahwa dinamika politik di tingkat desa maupun daerah kerap menghadirkan perbedaan pilihan di tengah keluarga, pertemanan, hingga lingkungan tempat tinggal. Karena itu, masyarakat perlu menempatkan persaudaraan di atas kepentingan politik sesaat.
Menurut Fauzan Khalid, setiap orang memiliki pertimbangan, sudut pandang, dan alasan tersendiri dalam menentukan pilihan politik.
Sikap saling menghormati menjadi kunci agar proses demokrasi tidak berkembang menjadi pertentangan yang merusak kerukunan masyarakat.
“Perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun hubungan baik dengan keluarga, teman, dan tetangga harus tetap menjadi yang utama,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga kerukunan bukan hanya penting menjelang Pilkades. Pesan tersebut relevan dalam setiap momentum politik, termasuk pemilihan kepala daerah (Pilkada) dan pemilihan umum (Pemilu).
Fauzan Khalid menilai, masyarakat perlu menyadari bahwa kontestasi politik memiliki batas waktu, sedangkan hubungan persaudaraan berlangsung jauh lebih panjang.
Karena itu, perbedaan dukungan terhadap calon pemimpin semestinya tidak menghapus rasa saling menghargai yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
“Perbedaan pilihan bukanlah alasan untuk memutus silaturahmi. Pilkades atau pemilu lain hanyalah peristiwa politik sesaat. Persaudaraan dan kebersamaan adalah investasi sosial seumur hidup,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh proses pemilihan pemimpin, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap menghormati pilihan orang lain dapat diwujudkan melalui komunikasi yang baik, menghindari pertengkaran, serta tidak memaksakan pandangan politik kepada orang lain.
Masyarakat juga perlu menahan diri agar perbedaan dukungan tidak berkembang menjadi permusuhan maupun konflik horizontal.
Sebagai Anggota Komisi II DPR RI dari daerah pemilihan NTB II/Pulau Lombok, Fauzan Khalid menempatkan pesan persatuan tersebut sebagai bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat, terutama ketika suasana politik mulai menghangat.
Selain mengajak masyarakat menjaga persatuan, Fauzan Khalid juga menekankan pentingnya perilaku baik dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam khotbahnya, ia mengingatkan jemaah agar menjauhi prasangka buruk (suudzon), mencari-cari kesalahan atau aib orang lain (tajassus), serta membicarakan keburukan orang lain (ghibah).
Menurutnya, perilaku tersebut dapat merusak hubungan antarsesama apabila dibiarkan, terlebih ketika masyarakat sedang menghadapi perbedaan pandangan atau pilihan politik.
Fauzan Khalid mengingatkan bahwa prasangka yang tidak didasarkan pada bukti dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Informasi yang belum terverifikasi juga berpotensi memicu penilaian keliru terhadap orang lain dan memperkeruh suasana di lingkungan masyarakat.
Karena itu, ia mengajak jemaah untuk mengedepankan husnudzon atau berprasangka baik serta melakukan tabayyun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Masyarakat juga diingatkan agar tidak mudah mencari-cari kekurangan orang lain ataupun menyebarkan cerita yang dapat merugikan sesama.
Sikap berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman yang berujung pada perselisihan.
Pesan tersebut semakin relevan di tengah derasnya arus informasi, ketika kabar yang belum tentu benar dapat menyebar dengan cepat dan memengaruhi hubungan sosial.
Dalam situasi politik yang sensitif, sikap kritis terhadap informasi perlu disertai tanggung jawab agar perbedaan tidak semakin melebar.
Fauzan Khalid, yang pernah menjabat sebagai Ketua KPU NTB periode 2008–2013, kembali menegaskan bahwa kerukunan harus menjadi tanggung jawab bersama.
Menurutnya, kehidupan masyarakat yang damai hanya dapat terwujud apabila setiap orang bersedia menghormati sesama, menjaga ucapan, dan menghindari tindakan yang memicu permusuhan.
“Sekali lagi, mari kita jaga kebersamaan dalam bermasyarakat. Ini tentu sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, rukun, dan damai,” jelas Fauzan Khalid, alumnus Fakultas Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM).
Melalui pesan tersebut, Fauzan Khalid mengajak masyarakat Lombok untuk menyikapi setiap kontestasi politik secara dewasa. Perbedaan pilihan boleh terjadi, tetapi persaudaraan, silaturahmi, dan kedamaian lingkungan harus tetap dijaga.
Sebab, demokrasi yang sehat bukan hanya tentang menentukan siapa yang terpilih, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat tetap hidup berdampingan dengan rukun setelah perbedaan pilihan berakhir.(arz)
















