Autis dan Stigma Sosial: Tinjauan Psikolinguistik

- Jurnalis

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Juvandi.

Juvandi.

Oleh: Joevandi │

Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah : M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A

AUTISME atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi neurodevelopmental yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan memproses bahasa. Meskipun kesadaran masyarakat tentang autisme terus meningkat, stigma sosial terhadap individu autis masih kuat. Stigma ini sering muncul akibat miskonsepsi bahasa, label negatif, serta cara masyarakat menafsirkan perilaku dan pola komunikasi individu autis. Dalam konteks ini, psikolinguistik—cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan proses mental—menjadi lensa penting untuk memahami bagaimana stigma terbentuk dan direproduksi melalui bahasa.

Dari sudut pandang psikolinguistik, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai representasi cara berpikir manusia. Individu autis sering mengalami perbedaan dalam pemrosesan bahasa, seperti kesulitan memahami makna implisit, metafora, ironi, atau konteks pragmatik dalam percakapan. Perbedaan ini kerap disalahartikan sebagai “ketidakmampuan” atau “ketidaksopanan”, padahal sebenarnya mencerminkan variasi kognitif dalam memproses bahasa.

Baca Juga :  Kadis Dikbud Lotim Sebut MBG Tak Sekadar Makan Gratis Tapi Lebih kepada Pendidikan Karakter

Stigma sosial terhadap autisme banyak dipengaruhi oleh pilihan kata dan label yang digunakan masyarakat, seperti “aneh”, “tidak normal”, atau “tidak bisa berkomunikasi”. Secara psikolinguistik, label tersebut membentuk mental representation negatif yang melekat dalam ingatan kolektif. Akibatnya, individu autis sering dipersepsikan berdasarkan stereotip linguistik, bukan berdasarkan kemampuan dan potensi mereka yang sesungguhnya.

Selain itu, interaksi antara individu autis dan non-autis sering mengalami pragmatic mismatch, yaitu ketidaksesuaian dalam ekspektasi komunikasi. Masyarakat umumnya mengharapkan kontak mata, intonasi tertentu, dan respons sosial yang dianggap “wajar”. Ketika individu autis tidak memenuhi ekspektasi tersebut, respons linguistik dan non-linguistik mereka sering dinilai secara negatif. Padahal, psikolinguistik menegaskan bahwa variasi dalam penggunaan bahasa merupakan bagian dari keberagaman kognitif manusia.

Baca Juga :  Ini Prioritas TGF Jika Memimpin Lombok Timur, Kuncinya SDA dan SDM

Bahasa juga berperan besar dalam pendidikan dan media. Narasi yang menempatkan autisme semata-mata sebagai “gangguan” tanpa menyoroti perspektif neurodiversitas memperkuat stigma. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang inklusif dan berempati dapat mengubah cara masyarakat memaknai autisme, dari sesuatu yang harus “diperbaiki” menjadi kondisi yang perlu dipahami dan dihargai.

Stigma sosial terhadap individu autis tidak dapat dilepaskan dari peran bahasa dalam membentuk persepsi dan sikap masyarakat. Melalui tinjauan psikolinguistik, dapat dipahami bahwa perbedaan komunikasi pada individu autis merupakan hasil dari proses kognitif yang berbeda, bukan kekurangan semata. Oleh karena itu, perubahan cara berbahasa—baik dalam interaksi sehari-hari, pendidikan, maupun media—menjadi langkah penting untuk mengurangi stigma. Dengan bahasa yang lebih inklusif dan pemahaman psikolinguistik yang lebih baik, masyarakat dapat menciptakan ruang sosial yang lebih adil dan manusiawi bagi individu autis.(*)

Berita Terkait

1.215 Pelajar Adu Inovasi di AHM Best Student 2026, 27 Finalis Terbaik Bersaing di Tingkat Nasional
Wakapolda NTB Turun ke SMPN 6 Mataram, Ingatkan Siswa soal Bahaya Bullying
Sempat Putus Sekolah, Tiga Siswi di Lombok Barat Kembali Raih Mimpi Lewat Sekolah Rakyat
Gubernur NTB Dorong Akreditasi Sekolah Berasrama, Perlindungan Anak dan Perempuan Diperkuat
570 Pelajar dan Guru Adu Skill Keselamatan Berkendara, AHM Cetak Agen Perubahan Lewat Cari Aman Academy 2026
Global Scholarship Summit 2026 Bidik Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia
Gedung SDN 1 Jerowaru Mentereng, Kadis Dikbud Temukan Siswa Belum Bisa Membaca
Ahmad Al Farizi Harumkan UNW Mataram, Raih Most Innovative Idea di Future Leaders Summit

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:06 WIB

1.215 Pelajar Adu Inovasi di AHM Best Student 2026, 27 Finalis Terbaik Bersaing di Tingkat Nasional

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:15 WIB

Wakapolda NTB Turun ke SMPN 6 Mataram, Ingatkan Siswa soal Bahaya Bullying

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Sempat Putus Sekolah, Tiga Siswi di Lombok Barat Kembali Raih Mimpi Lewat Sekolah Rakyat

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:01 WIB

Gubernur NTB Dorong Akreditasi Sekolah Berasrama, Perlindungan Anak dan Perempuan Diperkuat

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:06 WIB

570 Pelajar dan Guru Adu Skill Keselamatan Berkendara, AHM Cetak Agen Perubahan Lewat Cari Aman Academy 2026

Berita Terbaru