MATARAM, LOMBOKTODAY.ID — Semangat berbagi kembali digaungkan dari Bumi Gora. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menghadiri kegiatan NTB Berzakat yang dirangkaikan dengan Talkshow Gerakan Zakat NTB, Selasa (24/2/2026).
Acara yang diinisiasi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) NTB ini menjadi momentum memperkuat komitmen kolektif dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di daerah.
Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal mengingatkan bahwa Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia berdasarkan laporan Charities Aid Foundation melalui publikasi World Giving Index.
Menurutnya, budaya berbagi bukan sekadar tren, melainkan nilai sosial yang telah mengakar kuat. “Setiap kegiatan charity di Indonesia hampir selalu dipenuhi antusiasme dan dukungan donasi besar. Semangat ini harus terus kita jaga dan perkuat,” ujarnya.
Di tengah era digital dan ekonomi kreatif, pesan ini terasa relevan. Filantropi bukan lagi sekadar aktivitas seremonial, melainkan gerakan sosial yang bisa diperkuat lewat inovasi, kolaborasi, dan transparansi.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap Gerakan Zakat NTB, Gubernur Iqbal menyerahkan infak pribadi sebesar Rp30 juta. Wakil Gubernur NTB turut berkontribusi Rp20 juta.
Langkah tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan pesan kuat bahwa kepemimpinan dimulai dari keteladanan. Harapannya, partisipasi ini menjadi katalis bagi ASN, pelaku usaha, dan masyarakat luas untuk ikut ambil bagian dalam gerakan zakat daerah.
Hadir pula Kepala Kejati NTB, pimpinan OPD Pemprov NTB, serta mitra strategis seperti Bank NTB Syariah, DPR, Jamkrida, dan GNE. Kehadiran lintas sektor ini menegaskan bahwa penguatan zakat bukan kerja satu institusi, melainkan gerakan kolektif.
Gubernur Iqbal menekankan bahwa zakat tidak boleh dipandang sebagai isu eksklusif atau terbatas pada ruang-ruang formal keagamaan.
“Zakat harus menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Ketika zakat menjadi budaya bersama, dampaknya akan sangat besar bagi pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan.”
Di era generasi Z dan milenial yang akrab dengan digitalisasi, pendekatan inklusif dan transparan menjadi kunci. Zakat perlu dikemas adaptif, mudah diakses, dan akuntabel, sehingga semakin relevan dengan pola hidup masyarakat modern.
Sementara itu, Ketua BAZNAS NTB, Lalu M. Iqbal Murad, memaparkan capaian pendistribusian dan pendayagunaan zakat tahun 2025. Sepanjang tahun 2025, BAZNAS NTB telah menyalurkan manfaat zakat kepada 38.612 jiwa di seluruh wilayah NTB.
Penyaluran mencakup bantuan konsumtif bagi fakir dan miskin sesuai ketentuan delapan asnaf, sekaligus penguatan program pemberdayaan ekonomi.
Tak hanya bantuan sesaat, BAZNAS NTB juga mendorong transformasi mustahik menjadi pelaku usaha melalui program ultra mikro dan mikro. “Hingga saat ini, hampir 400 mustahik telah diberdayakan melalui program ekonomi produktif berbasis zakat,” jelasnya.
Sinergi dengan BAZNAS RI pun terus diperkuat, sehingga NTB mendapatkan dukungan berbagai program nasional seperti lumbung pangan, Z-Mart, hingga beasiswa mahasiswa.
Pengelolaan dana, tegasnya, dilakukan secara amanah dan bertanggung jawab agar manfaat zakat dirasakan seluas-luasnya oleh masyarakat NTB.
Melalui NTB Berzakat dan Talk Show Gerakan Zakat NTB, semangat kolaborasi dan inovasi kembali ditegaskan: zakat bukan hanya kewajiban, tetapi instrumen strategis untuk membangun kemandirian ekonomi dan mempercepat pengentasan kemiskinan.
Di tengah tantangan global, NTB mengirim pesan optimistis—bahwa solidaritas sosial, jika dikelola secara profesional dan transparan, mampu menjadi energi perubahan yang nyata.(Sid)

















