LOBAR, LOMBOKTODAY.ID – Pengawasan lalu lintas ternak di Pelabuhan Gili Mas dan Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) kini diperketat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pengiriman sapi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) ke berbagai daerah di Indonesia tetap aman sekaligus mencegah masuknya penyakit hewan menular.
Peningkatan pengawasan dilakukan seiring tingginya arus distribusi ternak dari NTB melalui jalur laut, terutama menuju Pulau Jawa yang menjadi pasar utama sapi asal daerah ini.
Petugas dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Provinsi NTB kini melakukan pemeriksaan intensif terhadap setiap kendaraan pengangkut ternak yang memasuki kawasan pelabuhan.
Pemeriksaan tidak hanya mencakup verifikasi dokumen karantina, tetapi juga pengecekan langsung kondisi kesehatan hewan sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan.
Ketua Tim Kerja Karantina Hewan Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Provinsi NTB, Amirullah, menegaskan pengawasan di pintu keluar-masuk wilayah NTB dilakukan tanpa jeda.
“Petugas kami siaga penuh selama 24 jam untuk memastikan setiap ternak yang keluar maupun masuk wilayah NTB telah memenuhi seluruh persyaratan kesehatan serta dokumen karantina,” ujar Amirullah, didampingi Kasubbag Umum, Dirman dan Ketua Tim Gakkum, Samsudin, kepada Lomboktoday.id, di kantornya, Senin (16/3/2026).
Amirullah menjelaskan, pelabuhan merupakan titik pengawasan strategis karena menjadi jalur utama distribusi ternak dari NTB ke berbagai daerah di Indonesia.
Selama ini, NTB dikenal sebagai salah satu daerah pemasok sapi terbesar nasional, khususnya untuk kebutuhan hewan kurban di Pulau Jawa.
Karena itu, setiap ternak yang akan dilalulintaskan wajib dilengkapi dokumen resmi berupa sertifikat kesehatan hewan dan sertifikat veteriner dari dinas terkait.
Selain pemeriksaan administrasi, petugas karantina juga melakukan observasi langsung terhadap kondisi fisik sapi untuk memastikan tidak ada indikasi penyakit menular.
Salah satu penyakit yang menjadi perhatian serius adalah Lumpy Skin Disease (LSD), penyakit virus pada sapi yang telah ditemukan di beberapa wilayah Indonesia dan berpotensi berdampak besar terhadap sektor peternakan.
“Kami harus memastikan NTB tetap aman dari ancaman penyakit hewan menular. Karena itu, pengawasan di pelabuhan kami perketat, baik terhadap ternak yang akan keluar maupun potensi hewan yang masuk ke NTB,” jelasnya.
Tidak hanya fokus pada kesehatan hewan, pengawasan juga diarahkan pada pengaturan arus kendaraan pengangkut ternak di kawasan pelabuhan.
Langkah ini penting untuk mengantisipasi penumpukan truk, terutama menjelang momentum besar seperti Idul Fitri maupun Idul Adha, ketika permintaan ternak biasanya meningkat tajam.
Dengan pengawasan yang lebih intensif di pelabuhan, pemerintah berharap distribusi ternak dari NTB tetap berjalan lancar tanpa mengganggu rantai logistik sekaligus mencegah penyebaran penyakit hewan.
Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas sektor peternakan di NTB yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pasokan sapi nasional.(Sid)

















