Ketika Tanah Telah Dilepas, Kepastian pun Patut Diperjelas

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hamzan Wadi.

Hamzan Wadi.

Oleh: Hamzan Wadi |

PEMBANGUNAN smelter PT AMMAN di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) patut dipandang sebagai momentum besar transformasi ekonomi daerah. Di tengah agenda hilirisasi nasional, kehadiran industri strategis ini membawa harapan lahirnya lapangan kerja, tumbuhnya ekonomi lokal, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Namun sebesar apa pun nilai investasi, satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah rasa keadilan masyarakat yang ikut menjadi fondasi berdirinya proyek tersebut.

Berdasarkan laporan yang berkembang, masih terdapat pertanyaan mengenai kepastian hak dan manfaat bagi land owner atau masyarakat pemilik lahan terdampak pembangunan kawasan smelter.

Harus diakui, pelepasan lahan untuk proyek industri sebesar ini bukan perkara sederhana. Di balik setiap hektare tanah, ada ruang hidup, sejarah keluarga, dan sumber penghidupan yang dilepas atas nama kepentingan pembangunan.

Karena itu, wajar bila masyarakat berharap bahwa pengorbanan tersebut menghadirkan keberlanjutan manfaat—baik melalui kesempatan kerja, penguatan ekonomi keluarga, maupun keterlibatan dalam rantai manfaat industri.

Baca Juga :  Mahasiswa NTB Bergerak! Konferwil LMND Jadi Ruang Lahirnya Kepemimpinan Revolusioner Progresif

Persoalannya mungkin bukan semata ada atau tidak adanya perhatian, melainkan bagaimana kepastian itu diterjemahkan secara konkret. Sebab dalam pembangunan modern, masyarakat tidak hanya membutuhkan optimisme, tetapi juga kejelasan.

Pernyataan bahwa masyarakat akan diperhatikan tentu penting, namun akan jauh lebih menenangkan bila disertai mekanisme yang terbuka: siapa yang diprioritaskan, bagaimana prosedurnya, apa indikatornya, dan sejauh mana pemerintah memastikan proses berjalan adil.

Di titik inilah pemerintah daerah diuji. Bukan untuk berhadap-hadapan dengan investor, melainkan memastikan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat tidak menyisakan ruang tafsir yang terlalu lebar.

Pemerintah memiliki posisi strategis sebagai penjaga keseimbangan—agar investasi tetap berjalan sehat, tetapi rasa keadilan sosial masyarakat juga tidak kehilangan tempat.

Karena pembangunan yang baik bukan sekadar membangun fasilitas industri, melainkan membangun rasa memiliki di tengah masyarakat yang terdampak langsung.

Ada satu pelajaran yang sering terlupakan dalam banyak proyek besar: masyarakat dapat menerima perubahan, tetapi sulit menerima ketidakjelasan. Ketika komunikasi tidak cukup terang, ruang spekulasi tumbuh.

Baca Juga :  Safari Ramadan NTB: Rihlah Ukhuwah Menyatukan Ibadah dan Pembangunan

Saat kepastian berjalan lambat, persepsi ketidakadilan sering kali bergerak lebih cepat daripada fakta. Inilah yang sebaiknya dicegah sejak awal.

Karena itu, momentum ini semestinya dipakai untuk memperjelas komitmen bersama. Bila memang terdapat skema prioritas bagi eks pemilik lahan, maka perlu diumumkan secara transparan.

Bila terdapat keterbatasan kebutuhan tenaga kerja, perlu dijelaskan secara jujur berikut alternatif manfaat yang realistis—mulai dari pelatihan, prioritas usaha lokal, kemitraan, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga. Kejelasan bukan ancaman bagi investasi; justru fondasi kepercayaan jangka panjang.

Pada akhirnya, masyarakat tidak sedang meminta lebih dari pembangunan. Mereka hanya ingin memastikan bahwa ketika tanah telah dilepas untuk masa depan industri, masa depan mereka sendiri tidak ikut terlepas.

Sebab investasi akan selalu dikenang bukan dari seberapa megah bangunannya, tetapi dari seberapa besar rasa keadilan yang ditinggalkan.(*)

Berita Terkait

Usulkan 20 Ribu Bedah Rumah, Lombok Timur Baru Dapat Jatah 2.000 Unit, Bupati Iron Kejar Penataan Lima Kawasan
Bansos dan BPJS PBI JK 2027 di Lombok Timur Bakal Pakai Data Terbaru, Ini Target Pembaruannya
KPK Benchmarking NTB Satu Data untuk Perkuat Tata Kelola Data dan Teknologi Informasi
Sumpah Pemuda ke-98, NTB Beri Penghargaan bagi Generasi Muda Berprestasi
Jangan Asal Tarik Rem! Astra Motor NTB Ungkap Teknik Aman Melintasi Jalan Turunan
Kemarau Panjang, Ditpolairud Polda NTB Salurkan 1,7 Ton Air Bersih ke Pesisir Sekotong
Celah Sempit di Tengah Kemacetan Bisa Picu Kecelakaan, Pengendara Motor Wajib Waspada
Ops Patuh Rinjani 2026 Dimulai, 578 Personel Gabungan Siap Tindak Pelanggaran Lalu Lintas di NTB

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Usulkan 20 Ribu Bedah Rumah, Lombok Timur Baru Dapat Jatah 2.000 Unit, Bupati Iron Kejar Penataan Lima Kawasan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Bansos dan BPJS PBI JK 2027 di Lombok Timur Bakal Pakai Data Terbaru, Ini Target Pembaruannya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:01 WIB

KPK Benchmarking NTB Satu Data untuk Perkuat Tata Kelola Data dan Teknologi Informasi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Sumpah Pemuda ke-98, NTB Beri Penghargaan bagi Generasi Muda Berprestasi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Jangan Asal Tarik Rem! Astra Motor NTB Ungkap Teknik Aman Melintasi Jalan Turunan

Berita Terbaru