MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang berada dalam fase yang menjanjikan. Pertumbuhan ekonomi melaju dua digit pada semester pertama 2026, investasi terus bergerak, sektor pariwisata menggeliat, sementara tingkat pengangguran berada pada level yang relatif rendah.
Namun, bagi ekonom Universitas Mataram (Unram), Iwan Harsono, capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri.
Justru sebaliknya, momentum pertumbuhan ekonomi NTB saat ini harus dikawal agar tidak berhenti sebagai deretan angka dalam laporan statistik.
Pertumbuhan harus mampu diterjemahkan menjadi pendapatan masyarakat yang lebih baik, lapangan kerja berkualitas, penguatan UMKM, serta manfaat ekonomi yang semakin luas.
Pandangan itu disampaikan Iwan dalam diskusi bersama Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, di Mataram, Jumat (28/8/2026).
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram tersebut menilai sejumlah indikator menunjukkan ekonomi NTB tengah memiliki pijakan yang kuat.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi NTB tumbuh 13,64 persen pada triwulan I 2026 dan tetap mencatat pertumbuhan 7,41 persen pada triwulan II 2026. Secara kumulatif, ekonomi NTB pada semester I 2026 tumbuh 10,42 persen.
Angka tersebut, menurut Iwan, merupakan modal besar bagi NTB untuk memperkuat fondasi ekonominya.
“NTB sedang memiliki momentum ekonomi yang sangat baik. Ini tentu harus kita apresiasi dan dijaga. Tetapi keberhasilan itu jangan berhenti pada angka pertumbuhan,” ujar Iwan.
Iwan mengingatkan, tingginya pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menunjukkan seluruh masyarakat telah menikmati hasil pembangunan.
Ukuran keberhasilan ekonomi, kata dia, harus dilihat lebih jauh: apakah pertumbuhan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja berkualitas, menekan kemiskinan, sekaligus memperkecil ketimpangan.
Karena itu, NTB perlu menjaga keseimbangan antara high growth dan inclusive growth.
Pertumbuhan ekonomi harus tetap tinggi, tetapi pada saat yang sama harus semakin inklusif. Masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton ketika investasi dan aktivitas ekonomi tumbuh di daerahnya sendiri.
Salah satu kunci yang disoroti Iwan adalah investasi. Masuknya investasi dalam jumlah besar memang penting bagi perekonomian daerah. Namun, dampaknya akan jauh lebih besar apabila investasi memiliki keterkaitan yang kuat dengan pelaku ekonomi lokal.
“Investasi besar harus mempunyai linkage yang kuat dengan ekonomi lokal. Tenaga kerja lokal, UMKM, pemasok lokal dan pelaku usaha daerah harus masuk dalam rantai nilai investasi,” katanya.
Dengan pola tersebut, investasi tidak hanya menghasilkan nilai dari modal yang masuk, tetapi juga menciptakan efek berantai bagi ekonomi masyarakat.
Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah economic leakage atau kebocoran ekonomi.
Fenomena tersebut berpotensi terjadi ketika pertumbuhan sektor pariwisata maupun investasi berskala besar tidak diimbangi dengan kemampuan daerah menyediakan kebutuhan barang dan jasa.
Misalnya, tingginya aktivitas pariwisata tidak serta-merta menghasilkan manfaat maksimal bagi masyarakat lokal apabila kebutuhan pangan, barang konsumsi, tenaga profesional hingga berbagai input usaha masih banyak didatangkan dari luar daerah.
Karena itu, menurut Iwan, penguatan rantai pasok lokal menjadi agenda penting. “Semakin kuat rantai pasok lokal, semakin besar nilai tambah yang tinggal dan berputar di NTB,” ujarnya.
Artinya, keberhasilan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh berapa besar uang masuk ke NTB, tetapi juga berapa besar nilai ekonomi yang mampu bertahan dan terus berputar di dalam daerah.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting ketika NTB terus mendorong investasi dan pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, momentum pertumbuhan saat ini dinilai harus dimanfaatkan untuk memperkuat struktur ekonomi NTB agar tidak terlalu bergantung pada sektor tertentu.
Ketergantungan terhadap satu sektor dapat membuat ekonomi daerah lebih rentan ketika terjadi perubahan harga komoditas, perlambatan ekonomi global, maupun berbagai guncangan eksternal.
Iwan mendorong penguatan sejumlah sektor yang memiliki potensi besar, mulai dari pertanian bernilai tambah, agroindustri, pariwisata berkualitas, UMKM, ekonomi kreatif hingga hilirisasi.
Diversifikasi tersebut diperlukan agar pertumbuhan ekonomi NTB memiliki banyak kaki dan tidak mudah goyah ketika salah satu sektor mengalami tekanan.
Dalam konteks hilirisasi, Iwan juga mengingatkan agar penciptaan nilai tambah tidak berhenti pada pengolahan sumber daya semata.
“Hilirisasi jangan hanya berarti sumber dayanya berasal dari NTB. Nilai tambah, teknologi, industri turunannya, kesempatan kerja dan kapasitas ekonominya juga harus semakin banyak berada di NTB,” tegasnya.
Investasi dan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya membutuhkan satu fondasi penting: sumber daya manusia.
NTB, kata Iwan, harus memastikan masyarakat lokal memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri yang berkembang.
Pendidikan, pelatihan keterampilan, sertifikasi tenaga kerja, peningkatan produktivitas, serta kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri harus berjalan seiring dengan masuknya investasi.
“Jangan sampai NTB hanya menjadi lokasi investasi, sementara masyarakat NTB tidak menjadi pelaku utama dan penerima manfaatnya,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah semakin terbukanya peluang investasi dan berkembangnya berbagai sektor ekonomi di NTB.
Investasi yang menciptakan lapangan kerja, melibatkan UMKM lokal, menggunakan pemasok daerah, sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kerja NTB akan memberikan dampak yang jauh lebih besar dibanding investasi yang hanya mencatat nilai modal masuk.
Iwan menegaskan, pertumbuhan ekonomi NTB yang tinggi saat ini bukanlah titik akhir. Momentum tersebut justru harus menjadi kesempatan untuk membangun struktur ekonomi daerah yang lebih produktif, inklusif, beragam dan tahan terhadap guncangan.
Pertumbuhan tinggi hari ini harus menjadi pijakan bagi pertumbuhan yang lebih berkualitas pada masa mendatang.
Karena itu, keberhasilan ekonomi NTB ke depan tidak cukup diukur dari besarnya angka pertumbuhan atau nilai investasi yang masuk.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh pertumbuhan tersebut mampu memperluas lapangan kerja, memperkuat UMKM, membangun rantai pasok lokal, meningkatkan kapasitas fiskal daerah, menekan kemiskinan dan ketimpangan, serta memastikan lebih banyak nilai tambah ekonomi tinggal dan berputar di NTB.
Dengan kata lain, tantangan NTB bukan lagi sekadar bagaimana menumbuhkan ekonomi, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut dirasakan masyarakat.
Momentum ekonomi NTB saat ini merupakan peluang besar. Jika mampu dikelola dengan tepat, pertumbuhan 10,42 persen pada semester I 2026 bukan sekadar prestasi statistik, melainkan dapat menjadi titik awal bagi terbentuknya ekonomi daerah yang lebih kuat dan memberikan manfaat lebih luas.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang seberapa tinggi grafik ekonomi bergerak, tetapi tentang seberapa jauh masyarakat ikut naik bersama pertumbuhan tersebut.(Sid)

















