NTB dan Lampung Tukar Jurus Bangun Ekonomi Desa, Desa Berdaya Bertemu Desaku Maju

- Jurnalis

Selasa, 29 September 2026 - 15:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Pemprov NTB setiba di Kantor Gubernur Lampung dan diterima Sekda Lampung, Marindo Kurniawan bersama jajaran pejabat Pemprov Lampung.

Tim Pemprov NTB setiba di Kantor Gubernur Lampung dan diterima Sekda Lampung, Marindo Kurniawan bersama jajaran pejabat Pemprov Lampung.

LAMPUNG, LOMBOKTODAY.ID – Kerja sama antardaerah tak lagi cukup berhenti di meja pertemuan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mulai membuka ruang kolaborasi yang lebih konkret, terutama dalam mengembangkan desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal memperkuat konektivitas dengan berbagai daerah sekaligus membuka peluang pertukaran pengalaman dan praktik pembangunan yang dapat diterapkan secara kontekstual.

Sebagai tindak lanjut, Pemprov NTB mengirim tim ke Lampung untuk memperkuat komunikasi antarpemerintah provinsi sekaligus menggali sejumlah potensi kerja sama lintas sektor.

Tim tersebut terdiri atas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi NTB H. Fathul Gani, Kepala Bappeda NTB Bq. Nelly Yuniarti, Kepala Dinas Kominfotik NTB Ahsanul Khalik, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Mirza Amir Hamzah, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian HL Wiranata, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Muhammad Riadi, Sekretaris BRIDA Retno, Dahlanuddin, Tim Ahli Gubernur Lalu Fahrurrozi, serta Kepala Bidang P2M Bappeda NTB.

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dengan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas pentingnya memperkuat hubungan antardaerah, membangun komunikasi lintas sektor, serta membuka ruang kerja sama dan pertukaran pengalaman terkait berbagai praktik pembangunan di masing-masing provinsi.

Setibanya di Kantor Gubernur Lampung, rombongan Pemprov NTB diterima Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung, Marindo Kurniawan bersama jajaran pejabat Pemprov Lampung.

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mengidentifikasi potensi kolaborasi dengan melihat kebutuhan sekaligus keunggulan masing-masing daerah.

Salah satu isu yang menjadi titik temu adalah pembangunan berbasis desa.

Baca Juga :  Demo 27 Agustus: Siapa Membawa Aspirasi, Siapa Membawa Agenda?

NTB memiliki Program Desa Berdaya, sedangkan Lampung mengembangkan Program Desaku Maju. Meski memiliki pendekatan yang berbeda, kedua program tersebut sama-sama menempatkan desa sebagai salah satu fondasi penguatan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Di NTB, Desa Berdaya dikembangkan melalui pendekatan Desa Berdaya Transformatif dan Desa Berdaya Tematik. Fokusnya mencakup penguatan masyarakat, pengembangan potensi lokal, serta pembangunan ekonomi desa.

Sementara itu, Program Desaku Maju di Lampung diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi desa melalui peningkatan produktivitas pertanian, hilirisasi komoditas, penguatan kelembagaan ekonomi, pelatihan, serta dukungan sarana dan prasarana.

Kesamaan orientasi tersebut membuka peluang pertukaran pengalaman yang lebih substantif.

Desa tidak hanya dipandang sebagai lokasi pelaksanaan program pemerintah, tetapi sebagai ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas, membangun kemandirian ekonomi, sekaligus mengembangkan inovasi berdasarkan potensi lokal.

Untuk melihat praktik tersebut secara langsung, tim Pemprov NTB kemudian melanjutkan kunjungan ke Desa Wonomarto, Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara.

Desa tersebut menjadi salah satu lokasi pengembangan Program Desaku Maju.

Di Wonomarto, rombongan diterima unsur pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, serta jajaran terkait. Tim NTB melihat sejumlah praktik pengembangan ekonomi desa yang dinilai relevan untuk menjadi bahan pertukaran pengalaman.

Salah satunya adalah pengembangan Pupuk Hayati Cair (PHC). Produk tersebut dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian masyarakat dan dibagikan secara gratis kepada para petani.

Desa Wonomarto juga mengembangkan pakan untuk ternak ayam petelur sebagai bagian dari upaya menggerakkan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Selain itu, terdapat pengembangan bed dryer, yakni sarana pengering hasil pertanian yang digunakan untuk mempercepat proses pascapanen sekaligus membantu menjaga kualitas komoditas.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Copot Dadan Hindayana Jadi Kepala BGN, Nanik S. Deyang sebagai Penggantinya

Penggunaan sarana tersebut juga membuka peluang peningkatan nilai tambah hasil pertanian sebelum masuk ke tahap pemasaran.

Dalam pendekatan Desaku Maju, dukungan terhadap sarana pascapanen tidak berdiri sendiri. Pengembangan tersebut ditempatkan dalam ekosistem yang menghubungkan produksi, pascapanen, kelembagaan ekonomi hingga akses pasar.

Pengalaman itu menjadi relevan bagi NTB. Pengembangan Desa Berdaya juga membutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan potensi lokal dengan produktivitas, peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan dan peluang pasar.

Namun, pertukaran pengalaman antara NTB dan Lampung bukan untuk menyeragamkan model pembangunan desa.

Karakteristik kedua daerah berbeda, mulai dari komoditas unggulan, struktur ekonomi, kondisi geografis hingga kebutuhan masyarakat. Karena itu, praktik yang dipelajari perlu disesuaikan dengan konteks dan potensi masing-masing wilayah.

Justru di situlah nilai penting kerja sama antardaerah.

Perbedaan tidak selalu menjadi batas. Dalam konteks pembangunan, perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman dan menemukan pendekatan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, membangun keterhubungan dengan daerah lain menjadi bagian dari upaya memperluas ruang kolaborasi pembangunan.

Hubungan antardaerah diharapkan tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi berkembang menjadi komunikasi produktif, pertukaran pengetahuan dan kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebab, pembangunan tidak tumbuh dalam ruang yang terpisah. Ia berkembang ketika daerah saling terhubung, berbagi pengalaman dan membuka ruang untuk bekerja bersama.

Dari NTB dan Lampung, kerja sama tersebut mempertemukan lebih dari sekadar dua pemerintah provinsi. Ada gagasan yang sama tentang bagaimana desa dapat menjadi ruang tumbuhnya produktivitas, inovasi dan kemandirian ekonomi masyarakat.(ltn)

Berita Terkait

Saiful Chaniago Menilai 2 Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Memastikan Indonesia Menjadi Lebih Berintegritas
“Kluster Mewah” di Balik Jeruji Lapas Cibinong, Temuan Ombudsman yang Mengusik Rasa Keadilan
Panglima TNI Ikut Mancing di Strike Nusantara 2026, 4,5 Ton Ikan Ditebar
Muna Pa’a Dompu Naik Kelas, Tenun Pewarna Alam NTB Siap Tembus Pasar Nasional
KRIYANUSA 2026 Hadirkan Kriya Nusantara, Uma Lengge Bima Jadi Wajah NTB di Jakarta
Uma Lengge Jadi Ikon Paviliun NTB di KRIYANUSA 2026, Bawa Kriya Bima ke Panggung Nasional
73 Aksi dan 26 Kegiatan Warnai Jakarta Hari Ini, Polda Metro Jaya Siagakan Pengamanan
Anggota DPR RI Fauzan Khalid Desak ATR/BPN Percepat Penetapan RDTR di Seluruh Indonesia

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:08 WIB

Saiful Chaniago Menilai 2 Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Memastikan Indonesia Menjadi Lebih Berintegritas

Senin, 28 September 2026 - 05:09 WIB

“Kluster Mewah” di Balik Jeruji Lapas Cibinong, Temuan Ombudsman yang Mengusik Rasa Keadilan

Minggu, 27 September 2026 - 13:02 WIB

Panglima TNI Ikut Mancing di Strike Nusantara 2026, 4,5 Ton Ikan Ditebar

Minggu, 27 September 2026 - 06:08 WIB

Muna Pa’a Dompu Naik Kelas, Tenun Pewarna Alam NTB Siap Tembus Pasar Nasional

Minggu, 27 September 2026 - 05:07 WIB

KRIYANUSA 2026 Hadirkan Kriya Nusantara, Uma Lengge Bima Jadi Wajah NTB di Jakarta

Berita Terbaru