Otak Digital dan Bahasa: Apakah Mahasiswa Masih Mampu Fokus?

- Jurnalis

Rabu, 21 Januari 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Elis Saprida.

Elis Saprida.

Oleh: Elis Saprida │

Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A

TEKNOLOGI digital berkembang cepat—nggak bisa dipungkiri, hidup kita berubah total. Cara berpikir, berkomunikasi, bahkan cara otak memproses bahasa, semua ikut bergeser. Mahasiswa sekarang tumbuh bareng gadget, media sosial, dan AI. Hidup mereka lekat dengan istilah “otak digital”—otak yang terus-menerus terlatih menghadapi notifikasi, multitasking, dan informasi instan.

Kalau bicara psikolinguistik, bahasa dan kognisi itu nggak bisa dipisahkan. Fokus dan perhatian jadi kunci utama saat membaca, menulis, mendengar, atau berbicara. Pertanyaannya, apakah mahasiswa zaman sekarang masih bisa benar-benar fokus mendalami bahasa? Atau teknologi malah bikin perhatian mereka tercerai-berai?

Tulisan ini mau mengupas bagaimana otak digital memengaruhi kemampuan mahasiswa buat fokus, khususnya dalam aktivitas bahasa dan dunia akademik. Pembahasannya pakai sudut pandang psikolinguistik, terutama soal perhatian, memori kerja, dan proses bahasa di tengah gempuran teknologi digital.

Baca Juga :  Polres Lombok Utara Kerahkan 200 Personel Gabungan Amankan Debat Terbuka Jilid II

Otak Digital dan Perhatian Mahasiswa  

Teknologi digital benar-benar membentuk kebiasaan baru di otak. Mahasiswa sekarang gampang banget pindah perhatian. Barusan buka WhatsApp, eh sudah scrolling Instagram, lalu balik lagi ke tugas kuliah. Dari kacamata psikolinguistik, kebiasaan seperti ini bikin kemampuan fokus lama-lama memudar.

Coba saja pas baca teks akademik bahasa Inggris. Mahasiswa harus mikirin arti kata, struktur kalimat, sekaligus konteksnya. Tapi, karena terbiasa baca postingan pendek di media sosial, mereka jadi kurang tahan buat ngulik teks panjang yang butuh konsentrasi lebih.

Otak digital cenderung pilih kecepatan, bukan kedalaman. Mahasiswa jadi lebih senang scanning, bukan membaca kritis. Akibatnya, kemampuan menebak makna tersembunyi, menganalisis, dan membangun kalimat yang baik jadi menurun.

Belum lagi, sekarang banyak yang mengandalkan auto-translate atau AI penulisan. Memang hasilnya cepat, tapi proses belajar yang seharusnya melatih memori kerja dan kemampuan bahasa sendiri malah dilewati.

Baca Juga :  Diskominfosan Lotim Lakukan Verifikasi Tahap I Penilaian Indeks KAMI pada Aplikasi Periri

Tapi, jujur saja, otak digital nggak semuanya buruk. Teknologi juga buka banyak peluang baru. Mahasiswa bisa akses materi asli, latihan interaktif, dan ngobrol dengan orang dari berbagai budaya. Tantangannya, mahasiswa harus bisa mengatur fokus dan tetap sadar saat pakai teknologi.

Belajar dengan gabungan teknologi dan strategi deep learning—kayak diskusi reflektif, membaca terarah, atau latihan bikin kalimat bermakna—bisa bantu mahasiswa tetap fokus dan aktif secara kognitif.

Otak digital memang mengubah cara mahasiswa memahami bahasa dan menjaga fokus. Dari sudut pandang psikolinguistik, terlalu banyak terpapar teknologi memang bisa bikin perhatian terpecah dan pemahaman bahasa jadi dangkal. Tapi kalau dipakai dengan bijak, teknologi justru bisa jadi teman belajar yang efektif.

Mahasiswa perlu sadar cara mereka memakai teknologi, dan dosen juga mesti nyari cara mengajar yang seimbang—antara digital dan latihan fokus. Dengan begitu, kemampuan bahasa dan konsentrasi mahasiswa tetap bisa berkembang di era otak digital ini.(*)

Berita Terkait

Wakapolda NTB Turun ke SMPN 6 Mataram, Ingatkan Siswa soal Bahaya Bullying
Sempat Putus Sekolah, Tiga Siswi di Lombok Barat Kembali Raih Mimpi Lewat Sekolah Rakyat
Gubernur NTB Dorong Akreditasi Sekolah Berasrama, Perlindungan Anak dan Perempuan Diperkuat
570 Pelajar dan Guru Adu Skill Keselamatan Berkendara, AHM Cetak Agen Perubahan Lewat Cari Aman Academy 2026
Global Scholarship Summit 2026 Bidik Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia
Gedung SDN 1 Jerowaru Mentereng, Kadis Dikbud Temukan Siswa Belum Bisa Membaca
Ahmad Al Farizi Harumkan UNW Mataram, Raih Most Innovative Idea di Future Leaders Summit
KKM MTs Jerowaru Gelar Persami Gabungan di Loang Gali, 150 Pramuka Penggalang Dilantik

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:15 WIB

Wakapolda NTB Turun ke SMPN 6 Mataram, Ingatkan Siswa soal Bahaya Bullying

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Sempat Putus Sekolah, Tiga Siswi di Lombok Barat Kembali Raih Mimpi Lewat Sekolah Rakyat

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:01 WIB

Gubernur NTB Dorong Akreditasi Sekolah Berasrama, Perlindungan Anak dan Perempuan Diperkuat

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:06 WIB

570 Pelajar dan Guru Adu Skill Keselamatan Berkendara, AHM Cetak Agen Perubahan Lewat Cari Aman Academy 2026

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:05 WIB

Global Scholarship Summit 2026 Bidik Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia

Berita Terbaru

Suasana acara pembukaan Kongres Internasional I Bahasa Sasak yang digelar Majelis Adat Sasak (MAS), di Aula Gedung BPSDMD Provinsi NTB, Rabu (28/10/2026).

Pariwisata Seni Budaya

Wagub NTB Tekankan Peran Keluarga dan Sekolah untuk Selamatkan Bahasa Sasak

Rabu, 28 Okt 2026 - 12:06 WIB