Oleh: Samianto, Presiden Forum Kebangsaan |
AKHIR-AKHIR ini ada sekelompok gerakan aneh di Tanah Air tercinta, munculnya kabinet bayangan yang diinisiasi kelompok gelap.
Kabinet bayangan yang beranggotakan 15 orang bentukan LSM ini, tentu sangat mengusik hati rakyat. Negara berdaulat yang sudah memiliki sistem bernegara. Memiliki UUD 1945 dan Pancasila, kini dirusak oleh gelandangan politik yang muncul ke permukaan setelah lama melakukan propaganda dari dalam negeri alias Londo Ireng istilah Presiden RI.
Propaganda yang dimainkan oleh musuh merah putih, baik dari dalam maupun luar yang tidak ingin melihat Indonesia maju, mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, terus mendapat dukungan Mafioso dan oligarki yang selama ini merusak tatanan kehidupan negara bangsa. Sehingga Indonesia sulit mewujudkan sila ke-5 akibat Londo Ireng ini yang membelokkan, mengacaukan.
Mafioso dan oligarki selalu mencari celah dan puncak kejayaannya telah berhasil mengubah UUD 1945 awal reformasi. Menjadikan negara tersandera oleh kekuatan oligarki.
Hari ini telah dengan terang muncul dipermukaan dengan membuat kabinet bayangan. Ini jelas mereka masih terus beroperasi melemahkan, merongrong kabinet merah putih yang sah memiliki legitimasi rakyat.
Agenda perlawanan mereka selama ini mengerakkan demo mahasiswa/i lewat kampus, diskusi yang disinyalir mendapat kucuran dana Soros bersama lembaga LSM lainnya. Membenturkan lembaga/institusi hukum satu sama lain sehingga saling sandra, yang dulu beriringan sejalan melawan korupsi.
Kehadiran Prabowo Subianto dengan kabinet merah putih yang tegak lurus konsisten memberantas korupsi, membuat ruang tipu-tipu Mafioso yang selama ini membohongi negara dengan mempermainkan catatan ekspor-impor merugikan negara ribuan triliun. Menjadikan Mafioso ini kalang kabut lalu muncul di permukaan menjadi Londo Ireng.
Agenda Mafioso yang selama ini sebar propaganda adudomba dengan bantuan asing. Saatnya negara berbenah waspada untuk sapu bersih mereka.
Mereka yang menghamba terhadap kepentingan asing hanya mencari dolar. Mereka yang masuk dalam kabinet bayangan agar diwaspadai gerak dan politiknya. Jika terus merusak maka perlu tindakan terukur untuk menjaga menyelamatkan persatuan merah putih sila ke-3.
Judul itu keras. Tapi memang harus keras, karena yang kita hadapi bukan soal beda visi biasa. Ini soal arah bangsa. Agar para antek-antek asing di Negeri Nusantara ini lenyap sapu bersih untuk rakyat yang sudah lama mendambakan keadilan, kesejahteraan, kedamaian.
“Kabinet bayangan” lahir dari niat baik demokrasi: mengawasi, mengkritisi, dan menyiapkan alternatif pemerintahan. Di negara maju, kabinet bayangan itu fungsinya jadi penyeimbang. Menguji kebijakan pemerintah dengan data, bukan dengan narasi. Menawarkan solusi, bukan sekadar menolak.
Masalahnya, beberapa waktu terakhir kita melihat ada kabinet bayangan yang kerjanya bukan membangun alternatif, tapi jadi corong kepentingan luar.
Kritik boleh, tapi jangan titipan. Mengkritik kebijakan investasi, hilirisasi, atau kerja sama luar negeri itu wajar. Tapi ketika setiap kebijakan yang pro-industri nasional langsung dicap “merugikan rakyat”, sementara skema pinjaman dan model ekonomi asing dipuji setinggi langit, di situlah publik bertanya: ini kritik untuk Indonesia, atau untuk kepentingan lain?.
Data jangan dipilih-pilih. Kabinet bayangan yang kredibel harus berani bongkar data lengkap. Jangan hanya sorot kegagalan, lalu tutup mata pada kemajuan. Jangan hanya kutip laporan lembaga asing, lalu abaikan riset kampus dan BPS kita sendiri. Kalau rujukannya satu arah terus, wajar kalau orang curiga ini bukan analisis, ini pesanan.
Tanah Nusantara bukan papan catur geopolitik. Indonesia sudah capek jadi “wilayah pengaruh”. Dari dulu kita dijajah karena elitnya mau jadi antek.
Sekarang, di era kemerdekaan, kita tidak butuh kelompok politik yang menjual narasi demi validasi dari luar. Kita butuh oposisi yang cinta negeri ini lebih dari cinta tepuk tangan di forum internasional.
Menjadi penyeimbang itu berat. Harus berani bilang “tidak” ke pemerintah saat salah. Tapi juga harus berani bilang “iya” dan memberi dukungan saat pemerintah ambil langkah benar untuk rakyat.
Kalau kabinet bayangan hanya teriak “asing-asing” setiap ada investasi, tapi diam saat UMKM kita digilas, saat kedaulatan data kita bocor, saat SDM kita tidak disiapkan—maka maaf, itu bukan kabinet bayangan. Itu hanya jadi mikrofon.
Rakyat butuh oposisi yang cerdas, bukan oposisi yang jadi antek. Antek asing dulu menjarah rempah. Antek hari ini menjarah narasi. Sebar propaganda perpecahan isu rasisme, pelecehan.
Kabinet bayangan, tunjukkan kerja. Bikin policy paper, turun ke desa, uji idemu di lapangan. Jangan hanya jadi komentator di studio dan podium luar negeri menebar kebencian sesama anak bangsa. Tebar hoax, fitnah, kebencian, adudomba, merusak nilai nilai kebangsaan moral Pancasila.
Tanah Nusantara ini milik kita. Warisan leluhur kita anak bangsa pribumi asli yang harus kita jaga. Bagi imigran yang tinggal di Indonesia untuk menghormati budaya dan peradaban Nusantara, hidup berbudi kemuliaan dengan moral Pancasila.
Jangan jadi antek-antek asing, PKI, yang dapat merusak Indonesia yang berbudi kemuliaan. Negeri inspirasi dunia tentang moderasi. Indonesia harus kembali ke UUD 1945 harga mati sebagai warisan negeri.(*)

















