MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) resmi memaparkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025 dalam Sidang Paripurna DPRD NTB, di ruang rapat utama Kantor Gubernur NTB, Senin (30/3/2026).
Laporan ini menjadi potret kinerja tahun pertama kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri (Iqbal–Dinda) untuk periode 2025–2030.
LKPJ ini tak hanya berisi laporan administratif, tetapi juga menggambarkan bagaimana ekonomi NTB tetap bertahan di tengah tekanan global dan dinamika kebijakan nasional.
Dalam pemaparannya, Gubernur Iqbal menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap visi besar: “Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia”.
Visi ini diterjemahkan ke dalam 7 misi pembangunan daerah dan 3 agenda prioritas utama, yakni: Penanggulangan kemiskinan ekstrem, Penguatan ketahanan pangan, Pengembangan pariwisata kelas dunia.
Pendekatan ini menjadi fondasi arah pembangunan NTB lima tahun ke depan, dengan fokus pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi makroekonomi, NTB mencatat performa yang cukup solid sepanjang 2025. Pemprov NTB mencatat angka pertumbuhan ekonomi tanpa sektor tambang: 8,33%, dan pertumbuhan ekonomi termasuk sektor tambang: 3,22%.
Meski sektor pertambangan mengalami kontraksi signifikan, ekonomi NTB tetap bergerak positif. Hal ini ditopang oleh sektor-sektor lain seperti: Industri pengolahan, Pariwisata, Pertanian, Jasa keuangan.
Kombinasi sektor tersebut menjadi “penyangga” utama ekonomi daerah, sekaligus menunjukkan struktur ekonomi NTB yang semakin beragam.
Gubernur Iqbal juga mengulas dinamika perencanaan ekonomi yang mengalami penyesuaian signifikan.
Saat penyusunan awal RPJMD, target pertumbuhan ekonomi 2025 dipatok sekitar 6 persen, dengan asumsi kondisi eksternal stabil (ceteris paribus), berdasarkan proyeksi pertumbuhan 5,3 persen di akhir 2024.
Namun realitas di lapangan berubah cukup drastis. Di awal masa pemerintahan, NTB justru menghadapi kontraksi sektor tambang yang tajam, titik awal pertumbuhan ekonomi di angka minus 1,47 persen.
Meski begitu, capaian akhir menunjukkan pemulihan yang cukup impresif, menandakan daya tahan ekonomi daerah yang kuat di tengah tekanan.
Capaian LKPJ 2025 ini menjadi sinyal positif bahwa NTB mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Dengan strategi pembangunan yang terarah dan diversifikasi sektor ekonomi, pemerintah optimistis visi “NTB Makmur dan Mendunia” bukan sekadar slogan, tetapi target realistis yang bisa dicapai dalam lima tahun ke depan.(Sid)

















