Setengah Populasi Dunia Ternyata Tinggal di Dalam “Lingkaran Asia” Ini, Begini Penjelasannya

- Jurnalis

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lingkaran raksasa dengan radius sekitar 4.000 kilometer itu membentang di kawasan Asia dan mencakup negara-negara berpenduduk besar seperti China, India, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Jepang, Vietnam, hingga Thailand.

Lingkaran raksasa dengan radius sekitar 4.000 kilometer itu membentang di kawasan Asia dan mencakup negara-negara berpenduduk besar seperti China, India, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Jepang, Vietnam, hingga Thailand.

JAKARTA, LOMBOKTODAY.ID – Sebuah gambar sederhana berbentuk lingkaran di peta dunia kembali viral di media sosial (Medsos). Namun siapa sangka, lingkaran tersebut menyimpan fakta mengejutkan: lebih dari setengah populasi manusia di Bumi tinggal di dalamnya.

Lingkaran raksasa dengan radius sekitar 4.000 kilometer itu membentang di kawasan Asia dan mencakup negara-negara berpenduduk besar seperti China, India, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Jepang, Vietnam, hingga Thailand.

Jika seluruh jumlah penduduk negara-negara tersebut digabungkan, totalnya mencapai miliaran jiwa. Artinya, dari setiap dua orang yang hidup di dunia saat ini, satu di antaranya berada di kawasan tersebut.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan geografis. Para ahli menyebut Asia sejak ribuan tahun lalu memang menjadi salah satu wilayah paling ideal untuk perkembangan peradaban manusia.

Salah satu faktor terbesarnya adalah keberadaan lembah sungai yang sangat subur. Kawasan ini memiliki sejumlah sungai besar dunia seperti Sungai Yangtze, Gangga, Mekong, dan Indus yang sejak dahulu menjadi pusat pertanian dan kehidupan manusia.

Baca Juga :  Memasuki Tahun Baru 2025, PLN UIP Nusra Lampaui Target Pengamanan Aset Hingga 262 Sertifikat

Tanah yang subur memungkinkan masyarakat bercocok tanam dalam skala besar. Ketika produksi pangan melimpah, manusia mulai menetap, membangun desa, berkembang menjadi kota, lalu melahirkan populasi besar dari generasi ke generasi.

Tak hanya itu, Asia juga sejak lama menjadi pusat perdagangan dunia. Jalur Sutra, pelabuhan kuno, dan aktivitas perdagangan antarbenua membuat kawasan ini tumbuh menjadi pusat ekonomi global sejak zaman dahulu.

Perdagangan membawa teknologi, pekerjaan, dan kekayaan yang mendorong perkembangan kota-kota besar. Hingga saat ini, banyak kota dengan jumlah penduduk terbesar di dunia masih berada di Asia, mulai dari Shanghai, Delhi, Jakarta, Tokyo, hingga Dhaka.

Faktor iklim juga menjadi alasan penting mengapa populasi di kawasan ini sangat padat. Sebagian besar wilayah dalam lingkaran memiliki iklim yang mendukung pertanian dan kehidupan manusia.

Baca Juga :  Menjaga Integritas di Tengah Badai Disinformasi

Curah hujan yang stabil membantu sawah dan tanaman pangan tumbuh subur sepanjang tahun. Kondisi inilah yang membuat Asia mampu menopang populasi dalam jumlah sangat besar selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Meski begitu, ada satu klaim viral yang kerap menimbulkan salah paham. Banyak unggahan menyebut lingkaran tersebut hanya mencakup kurang dari 10 persen daratan dunia.

Faktanya, angka tersebut tidak selalu akurat karena bergantung pada cara menghitung luas wilayah dan ukuran lingkaran yang digunakan. Namun pesan utamanya tetap sama: populasi manusia memang sangat terkonsentrasi di kawasan Asia dibandingkan wilayah lain di Bumi.

Fenomena “Lingkaran Asia” ini sekaligus menunjukkan bagaimana sejarah, iklim, pertanian, dan perdagangan berperan besar membentuk persebaran penduduk dunia hingga saat ini.

Sumber: Data populasi dunia, World Bank, serta penjelasan persebaran populasi dan sejarah kawasan Asia dari Britannica.(ltn)

Berita Terkait

PMN-J Kembali Demo KPK dan DPP NasDem, Desak Dugaan Fee Proyek Irigasi Libatkan Anggota DPR RI Berinisial MH Diusut Tuntas
Polisi Evakuasi Pria Terjatuh dari Jembatan Perbatasan Pancor-Sekarteja, Korban Kritis di RSUD Selong
Peringati Hari Mangrove Sedunia dan HUT ke-62, Bank NTB Syariah Tanam Mangrove di Kawasan Ekowisata Paremas
IGPR Summit 2026 Perkuat Komunikasi Publik, Humas Pemerintah Diminta Jadi Penangkal Disinformasi
Gubernur Iqbal Gendong Bayi Hidrosefalus di Lombok Tengah, Soroti Lonjakan 15 Kasus di NTB
TRC Infrastruktur NTB Bergerak Cepat, Jalan Kediri-Kuripan yang Lama Rusak Mulai Diperbaiki dengan Anggaran Rp700 Juta
Bupati Lombok Timur: Tanpa Dokter, Pembangunan Daerah Tak Akan Pernah Maju
Pemkab Lotim Percepat Penyempurnaan DTSEN, Pastikan Bansos Tepat Sasaran untuk Warga Miskin

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 15:04 WIB

PMN-J Kembali Demo KPK dan DPP NasDem, Desak Dugaan Fee Proyek Irigasi Libatkan Anggota DPR RI Berinisial MH Diusut Tuntas

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:04 WIB

Polisi Evakuasi Pria Terjatuh dari Jembatan Perbatasan Pancor-Sekarteja, Korban Kritis di RSUD Selong

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:11 WIB

Peringati Hari Mangrove Sedunia dan HUT ke-62, Bank NTB Syariah Tanam Mangrove di Kawasan Ekowisata Paremas

Selasa, 28 Juli 2026 - 06:09 WIB

IGPR Summit 2026 Perkuat Komunikasi Publik, Humas Pemerintah Diminta Jadi Penangkal Disinformasi

Minggu, 26 Juli 2026 - 16:05 WIB

TRC Infrastruktur NTB Bergerak Cepat, Jalan Kediri-Kuripan yang Lama Rusak Mulai Diperbaiki dengan Anggaran Rp700 Juta

Berita Terbaru