Oleh: Zaid Abdurrachman │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
STUTTERING adalah gangguan kelancaran berbicara yang ditandai dengan pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau adanya jeda yang tidak wajar saat seseorang berbicara. Contohnya seperti mengucapkan “s-s-saya mau bicara” atau berhenti lama sebelum satu kata keluar. Dalam bahasa Indonesia, stuttering sering disebut sebagai gagap. Stuttering bukan sekadar gugup atau kurang percaya diri. Gangguan ini berkaitan dengan cara kerja otak dalam mengatur koordinasi antara pikiran, pernapasan, dan gerak otot bicara. Karena itu, seseorang yang gagap sebenarnya tahu apa yang ingin ia katakan, tetapi kesulitan menyampaikannya secara lancar.
Berbicara adalah salah satu cara utama manusia membangun hubungan dengan orang lain. Lewat kata-kata, kita menyampaikan pikiran, perasaan, dan identitas diri. Namun, bagi penderita stuttering, berbicara bisa menjadi aktivitas yang penuh tekanan. Setiap kata terasa seperti perjuangan, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Dalam proses berinteraksi, penderita stuttering sering menghadapi tantangan sosial. Mereka kerap merasa cemas akan reaksi orang lain—takut ditertawakan, diremehkan, atau dianggap tidak pintar. Akibatnya, banyak yang memilih diam, bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena takut tidak diberi kesempatan untuk menyampaikannya dengan tenang.
Menurut saya, yang paling dibutuhkan penderita stuttering bukanlah rasa kasihan, melainkan penerimaan dan kesabaran. Kita tidak perlu menilai dari kelancarannya, tapi dari isi pikirannya. Mendengarkan tanpa memotong, tidak mengejek, dan memberi waktu adalah bentuk empati yang sederhana namun sangat berarti. Selain itu, edukasi juga penting. Banyak orang masih mengira gagap hanya karena gugup atau kurang latihan. Padahal, stuttering adalah kondisi yang kompleks dan bisa dipengaruhi faktor neurologis, genetik, serta psikologis. Karena itu, komentar seperti “santai saja” atau “coba tenang” sering kali tidak menyelesaikan masalah.
Interaksi sosial yang sehat seharusnya memberi ruang bagi semua suara, termasuk suara yang tersendat. Dunia tidak hanya milik mereka yang lancar berbicara, tetapi juga milik mereka yang berjuang keras untuk menyampaikan satu kalimat penuh. Pada akhirnya, stuttering bukan tentang kekurangan, tetapi tentang perjuangan dan keberanian untuk tetap berbicara meski tidak mudah. Dan tugas kita sebagai masyarakat adalah memastikan perjuangan itu dibalas dengan empati, bukan ejekan.(*)

















