LOTIM, LOMBOKTODAY.ID – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal kembali mengingatkan publik bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum refleksi dan reset karakter. Pesan itu ia sampaikan saat Safari Ramadan di Masjid Syiarul Islam At Thayyibi, Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Jumat (27/2/2026).
Di hadapan jemaah, Gubernur Iqbal menekankan bahwa puasa memiliki fungsi mendasar: melatih pengendalian diri sekaligus memperkuat kepedulian sosial. Mengutip makna kewajiban puasa yang juga diperintahkan kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW, Gubernur Iqbal menyebut ibadah ini sebagai “mekanisme ilahiah” untuk membentuk karakter manusia.
“Puasa itu bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi latihan mengendalikan diri. Karena manusia ini makhluk yang terbatas, mudah tergoda, mudah berlebihan,” ujarnya.
Dalam konteks kehidupan modern—yang serba cepat, instan, dan kompetitif—puasa, menurutnya, menjadi semacam rem spiritual. Ia mengingatkan bahwa seluruh unsur kehidupan memiliki batas: air, udara, hingga harta benda.
Ketika manusia melampaui batas, dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi juga pada alam dan tatanan sosial. Kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, hingga krisis mental menjadi alarm bahwa keseimbangan sering kali terabaikan. “Puasa melatih kita supaya tidak serakah, supaya tahu kapan harus berhenti,” ucapnya.
Gubernur Iqbal juga menyinggung berbagai bencana yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurutnya, peristiwa-peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh lepas dari kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan.
Pembangunan, katanya, harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. Kemajuan ekonomi tanpa kontrol diri hanya akan melahirkan ketimpangan baru.
Lebih jauh, Gubernur Iqbal menekankan dimensi empati dalam puasa. Saat seseorang merasakan lapar dan dahaga, di situlah tumbuh pemahaman terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan setiap hari. “Kalau kita mampu menahan diri, di situ lahir kepekaan untuk berbagi. Di situlah makna takwa itu tumbuh,” ungkapnya.
Pesan ini terasa relevan, terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah budaya konsumtif dan eksposur media sosial yang masif. Ramadan menjadi ruang untuk memperlambat ritme, menguatkan solidaritas, dan membangun kesadaran kolektif.
Meski menekankan dimensi spiritual dan sosial, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas. Jalan, jembatan, dan fasilitas publik adalah fondasi agar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan berjalan optimal. “Kita tidak boleh mengabaikan infrastruktur, karena tanpa akses yang baik, pertumbuhan akan terhambat,” tegasnya.
Namun, Gubernur Iqbal mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus dibarengi dengan pembangunan karakter. Infrastruktur membuka konektivitas dan mempercepat mobilitas, tetapi tanpa nilai dan pengendalian diri, kemajuan bisa kehilangan arah.
Menurutnya, keseimbangan antara pembangunan lahiriah dan pembinaan batiniah adalah kunci agar NTB tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
Safari Ramadan di Beriri Jarak pun menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma ruang dialog tentang bagaimana membangun daerah dengan kesadaran—bahwa kemajuan sejati bukan hanya soal angka pertumbuhan, melainkan juga kualitas karakter masyarakatnya.(Sid)

















